← Beranda

Pernah Mendengar 7 Ungkapan Ini Saat Masih Kecil? Berarti Anda Dibesarkan oleh Orang Tua yang Tidak Tahu Cara Menunjukkan Kasih Sayang Menurut Psikolo

Irfan FerdiansyahJumat, 6 Februari 2026 | 00.28 WIB
seseorang yang dibesarkan oleh orang tua yang tidak menunjukkan kasih sayang./Freepik/user18526052

JawaPos.com - Tidak semua orang tua dibesarkan dalam lingkungan yang penuh kehangatan emosional.

Banyak dari mereka tumbuh dengan pola asuh keras, dingin, atau penuh tuntutan, lalu tanpa sadar mewariskannya kepada anak-anak mereka.

Dalam psikologi, hal ini dikenal sebagai emotional neglect (pengabaian emosional), yaitu kondisi ketika kebutuhan emosional anak tidak dipenuhi, meskipun kebutuhan fisiknya tercukupi.

Orang tua seperti ini sering kali bukan tidak peduli, tetapi tidak tahu bagaimana cara mengekspresikan kasih sayang secara sehat.

Mereka mungkin menyediakan makanan, pendidikan, dan tempat tinggal, tetapi gagal memberikan validasi emosi, empati, dan rasa aman secara psikologis.

Salah satu tanda yang paling mudah dikenali adalah ungkapan-ungkapan tertentu yang sering mereka ucapkan saat kita masih kecil.

Kalimat-kalimat ini mungkin terdengar “normal” di budaya tertentu, tetapi dalam perspektif psikologi, kalimat ini bisa membentuk luka emosional jangka panjang.

Dilansir dari Geediting pada Senin (2/2), terdapat 7 ungkapan yang jika sering Anda dengar semasa kecil, bisa menjadi tanda bahwa Anda dibesarkan oleh orang tua yang tidak mampu mengekspresikan kasih sayang secara emosional.

1. “Jangan cengeng, itu hal kecil saja.”

Kalimat ini mengajarkan anak bahwa emosinya tidak valid.

Secara psikologis, ini membuat anak belajar:

Menekan emosi

Merasa bersalah saat sedih

Tidak percaya pada perasaan sendiri

Anak tumbuh menjadi dewasa yang sulit mengekspresikan emosi, merasa lemah saat menangis, dan sering self-blaming.

2. “Kamu harus kuat, jangan manja.”

Kasih sayang dipersepsikan sebagai kelemahan.

Dampak psikologis:

Anak belajar bahwa butuh bantuan = lemah

Sulit meminta tolong saat dewasa

Menjadi sangat independen secara tidak sehat

Ini membentuk hyper-independence, yaitu kondisi di mana seseorang menolak bergantung pada siapa pun meskipun sedang kesulitan.

3. “Orang lain lebih susah dari kamu.”

Kalimat ini meremehkan penderitaan anak dengan perbandingan sosial.

Efeknya:

Anak merasa tidak pantas merasa sedih

Emosi dianggap tidak penting

Muncul rasa bersalah kronis

Dalam psikologi, ini memicu emotional invalidation.

4. “Sudah saya biayai hidupmu, kurang apa lagi?”

Kasih sayang direduksi menjadi materi.

Pesan bawah sadar yang tertanam:

Cinta = uang

Perhatian = fasilitas

Emosi = tidak penting

Anak tumbuh dengan kebingungan antara cinta dan kewajiban.

5. “Kamu terlalu sensitif.”

Labelisasi emosional.

Dampaknya:

Anak meragukan kewarasan emosinya sendiri

Merasa "aneh" karena punya perasaan

Terbentuk emotional numbness

Dalam jangka panjang, ini bisa menyebabkan disosiasi emosi.

6. “Ikuti saja kata orang tua, jangan banyak tanya.”

Menekan ekspresi diri.

Efek psikologis:

Anak kehilangan otonomi

Takut membuat keputusan

Sulit mengenali identitas diri

Ini membentuk pribadi yang patuh tapi rapuh secara mental.

7. “Kami melakukan ini demi kamu.”

Manipulasi emosional terselubung.

Pesan yang tertanam:

Anak bertanggung jawab atas kebahagiaan orang tua

Anak tumbuh dengan rasa bersalah eksistensial

Sulit menetapkan batasan (boundaries) saat dewasa

Ini sering membentuk people pleaser personality.

Dampak Jangka Panjang Secara Psikologis

Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan minim afeksi emosional cenderung mengalami:

Sulit mengekspresikan emosi

Takut ditolak

Rendah harga diri

Overthinking

Ketergantungan validasi eksternal

Masalah relasi intim

Takut konflik

Perfeksionisme

Secara klinis, ini berkaitan dengan:

Attachment issues

Emotional neglect syndrome

Complex trauma (C-PTSD)

Penting untuk Dipahami

Tidak semua orang tua bersikap demikian karena jahat.

Banyak dari mereka:

Juga korban pola asuh keras

Tidak pernah diajarkan bahasa emosi

Hidup dalam tekanan ekonomi

Terjebak budaya otoriter

Ini adalah pola transgenerasional.

Proses Penyembuhan (Healing)

Jika Anda mengenali diri Anda dalam artikel ini, itu bukan kelemahan — itu kesadaran.

Langkah awal penyembuhan:

Validasi emosi diri sendiri

Belajar bahasa emosi

Menetapkan batasan sehat

Berhenti self-blaming

Membangun relasi yang aman

Terapi psikologis bila memungkinkan

Healing bukan membenci orang tua, tapi memutus siklus luka.

Penutup

Kasih sayang bukan hanya soal memberi makan, menyekolahkan, atau melindungi secara fisik.

Kasih sayang adalah:

Mendengarkan

Memahami

Memvalidasi

Hadir secara emosional

Memberi rasa aman

Jika Anda tumbuh tanpa itu, bukan berarti Anda rusak.

Artinya: Anda tumbuh kuat tanpa diajari lembut.

Dan sekarang, Anda punya kesempatan untuk membangun versi diri yang lebih sehat secara emosional.

Karena kasih sayang bisa dipelajari. Dan trauma bisa disembuhkan.

EDITOR: Hanny Suwindari