JawaPos.com - Banyak orang tua ingin anak laki-lakinya tumbuh kuat. Sayangnya, definisi “kuat” sering disempitkan menjadi tidak boleh menangis, harus selalu tegar, dan dilarang menunjukkan emosi.
Tanpa disadari, pola asuh seperti ini justru membuat banyak anak laki-laki tumbuh dengan emosi terpendam dan kesulitan memahami dirinya sendiri.
Padahal, anak laki-laki sebenarnya tidak perlu “dikeraskan”, tetapi dibantu untuk terhubung dengan emosinya secara sehat.
Budaya lama yang menganggap ekspresi emosi sebagai kelemahan telah membuat banyak pria dewasa kesulitan membangun hubungan, mengenali perasaan, bahkan mencintai diri sendiri.
Kabar baiknya, memutus siklus ini bisa dimulai kapan saja. Terlepas dari usia anak, ada kebiasaan-kebiasaan tertentu yang dilakukan orang tua sehingga anak laki-laki tumbuh merasa aman, dicintai, dan diterima apa adanya.
Inilah 7 pola asuh yang diam-diam membentuk laki-laki yang aman, percaya diri, dan beremosional yang sehat seperti dirangkum dari laman Your Tango.
1. Pilih rasa ingin tahu, bukan mengontrol
Anak laki-laki tidak membutuhkan orang tua yang selalu ingin menang atau memaksakan aturan. Mereka butuh orang tua yang mau bertanya dan benar-benar mendengarkan.
Ketika kamu menghadapi perilaku atau pendapat anak yang berbeda, cobalah menggeser posisi dari “mengoreksi” menjadi “ingin tahu”.
Alih-alih langsung menilai, kamu bisa mengajukan pertanyaan terbuka dengan nada netral. Pendekatan ini membuat anak merasa dihargai, bukan diinterogasi.
Anak-anak sangat peka. Mereka tahu kapan kamu tulus ingin memahami, dan kapan kamu hanya ingin mengendalikan.
2. Bantu anak memahami kemarahan, bukan menekannya
Marah adalah emosi yang pasti muncul, dan anak laki-laki sering kali hanya diajarkan cara menahannya atau meluapkannya.
Orang tua yang sehat secara emosional justru membantu anak memahami apa yang sebenarnya terjadi saat marah.
Kamu bisa mengajak anak membahas konflik lewat contoh di film, acara TV, atau kejadian sehari-hari.
Mengklasifikasikan konflik, apakah itu sekadar perbedaan pendapat atau sudah menjadi pertengkaran, membantu anak belajar refleksi. Dengan begitu, anak tidak hanya bereaksi, tapi juga belajar merespons dengan lebih sadar.
3. Singkirkan rasa malu dari hubungan dengan anak
Rasa malu sering muncul dalam bentuk kalimat seperti “masa cowok nangis” atau “laki-laki harus kuat”.
Tanpa sadar, ini mengajarkan anak untuk menyembunyikan perasaan aslinya demi memenuhi standar maskulinitas.
Ketika kamu menghapus rasa malu, anak tidak perlu membuktikan dirinya sebagai “laki-laki sejati”. Kamu memberi ruang aman bagi anak untuk jujur pada dirinya sendiri.
Dari sini, anak belajar bahwa menjadi manusia seutuhnya berarti boleh merasakan, mengekspresikan, dan memproses emosi tanpa takut dihakimi.
4. Ajarkan bahwa ada banyak cara menjadi seorang pria
Tidak ada satu versi maskulinitas yang berlaku untuk semua. Seorang anak laki-laki bisa tumbuh menjadi pria hebat dengan cara yang sangat beragam, baik sebagai atlet, seniman, pemimpin, pemikir, atau kombinasi semuanya.
Ketika kamu menerima keragaman ini, anak belajar bahwa nilai dirinya tidak ditentukan oleh stereotipe.
Ia merasa cukup menjadi dirinya sendiri. Lebih dari itu, ia juga akan tumbuh menjadi pria yang mampu menghargai perbedaan pada orang lain.
5. Bantu anak mengenali jebakan laki-laki dominan dan kuat
Budaya “kotak pria” sering menuntut laki-laki untuk terlihat sukses, kuat, dominan, dan selalu baik-baik saja.
Banyak pria akhirnya hidup dengan topeng demi diterima oleh masyarakat, bukan karena itu jati dirinya.
Dengan membahas ini secara terbuka, kamu membantu anak membedakan mana ekspresi yang autentik dan mana yang sekadar performa.
Anak belajar bahwa diterima karena siapa dirinya jauh lebih berharga daripada diterima karena apa yang ia pamerkan.
6. Ajak anak membayangkan dunia yang lebih sehat untuk pria
Budaya lama sering menganggap empati, kasih sayang, dan kelembutan sebagai hal yang “tidak maskulin”. Padahal, justru nilai-nilai ini yang membuat hubungan manusia menjadi lebih sehat.
Kamu bisa mengajak anak berdiskusi, mengapa banyak pria merasa tidak cocok dengan standar maskulinitas yang ada, dan mengapa itu bukan masalah.
Dengan begitu, anak belajar bahwa tidak masuk ke “kotak pria” bukanlah kegagalan, justru bisa menjadi kekuatan.
7. Bantu anak menentukan makna “menjadi pria” versinya sendiri
Bayangkan jika aturan-aturan lama tentang maskulinitas tidak lagi mengikat. Seperti apa jadinya? Pertanyaan ini bisa menjadi bahan diskusi yang sangat kuat antara kamu dan anak.
Tidak ada jawaban benar atau salah. Proses berpikir bersama ini membantu anak membangun identitasnya sendiri dengan sadar.
Kamu juga diajak merefleksikan ulang nilai-nilai yang selama ini mungkin kamu terima begitu saja. Budaya terus berubah, dan kamu serta anakmu punya peran dalam menentukan arah perubahan itu.