← Beranda

Memahami Parenting Permisif dan Dampak Negatifnya bagi Tumbuh Kembang Anak​

Rediva Ananda PutriRabu, 26 November 2025 | 15.19 WIB
Ilustrasi dampak negatif parenting permisif (Freepik)

JawaPos.com - Parenting permisif menjadi salah satu pola asuh yang cukup banyak ditemui di keluarga modern, terutama pada orang tua yang ingin memberikan ruang kebebasan penuh bagi anak. Alodokter menjelaskan bahwa orang tua dengan pola ini umumnya sangat responsif, penuh kasih sayang, tetapi menetapkan sedikit aturan atau batasan yang tegas.

Sementara itu, Halodoc menegaskan bahwa gaya pengasuhan ini kerap muncul dari keinginan orang tua agar hubungan dengan anak terasa dekat dan harmonis tanpa konflik. Dalam praktiknya, pola asuh ini membuat anak merasa dihargai, namun sekaligus berpotensi membuat mereka tumbuh tanpa struktur jelas.

Bagi sebagian keluarga, fleksibilitas dalam pengasuhan terasa menyenangkan dan minim tekanan. Namun, tanpa keseimbangan, pola ini dapat menyulitkan anak memahami konsekuensi, menghadapi stres, dan membangun disiplin diri.

Karakteristik dan dampak parenting permisif umumnya berjalan beriringan seperti orang tua sering menghindari konfrontasi, memberi kebebasan besar, serta jarang menerapkan konsekuensi yang konsisten. Dampaknya, anak bisa mengalami kesulitan mengontrol diri, prestasi belajar menurun, hingga sulit mengambil keputusan penting. Pola ini juga dapat menghambat perkembangan kemampuan sosial-emosional karena anak jarang menghadapi batasan yang membentuk kedisiplinan maupun pemahaman moral.

Dampak Negatif Parenting Permisif

1. Anak Kesulitan Mengendalikan Diri

Tanpa aturan maupun konsekuensi yang konsisten, anak cenderung tidak terbiasa memahami batasan. Mereka dapat menunjukkan perilaku impulsif atau cepat bereaksi tanpa pertimbangan.

Ketika menghadapi lingkungan yang lebih terstruktur seperti sekolah, anak bisa mengalami benturan, karena baru mengenal aturan yang harus dipatuhi dan mudah merasa frustasi ketika kehendaknya tidak terpenuhi.

2. Prestasi Akademik Bisa Menurun

Anak dari pola asuh permisif cenderung kurang disiplin dalam belajar karena orang tua tidak menetapkan ekspektasi yang jelas. Tanpa dorongan atau rutinitas, fokus belajar anak sering tidak stabil.

Akibatnya, anak bisa tumbuh tanpa kebiasaan belajar mandiri. Pada akhirnya, mereka dapat merasa tertinggal dibanding teman sebaya yang terbiasa dengan struktur lebih jelas.

3. Sulit Membuat Keputusan Penting

Minimnya arahan membuat anak kurang terbiasa mempertimbangkan risiko atau dampak dari pilihan yang mereka ambil. Mereka cenderung mengambil keputusan secara spontan, bukan berdasarkan pertimbangan matang.

Dalam situasi remaja atau dewasa, hal ini dapat memicu keputusan-keputusan impulsif seperti pengelolaan keuangan yang buruk, memilih pergaulan tidak sehat, atau menghindari tanggung jawab.

4. Kemampuan Sosial-Emosional Kurang Terasah

Tanpa proses belajar menghadapi batasan, anak bisa mudah kewalahan ketika menghadapi konflik, aturan baru, atau situasi yang menuntut kontrol emosi.

Anak juga bisa tumbuh menjadi pribadi yang sulit menerima kritik karena terbiasa berada dalam lingkungan yang selalu mengiyakan keinginan mereka.

5. Perkembangan Nilai Moral Kurang Terbentuk

Dalam pola permisif, orang tua sering tidak menekankan nilai moral, kedisiplinan, maupun tanggung jawab. Hal ini dapat membuat anak punya pemahaman samar mengenai benar dan salah.

Ketika berinteraksi dengan lingkungan luar, anak dapat bingung menyesuaikan diri dengan norma sosial karena mereka tidak terbiasa dengan aturan dan konsekuensi yang lebih ketat.

Memahami pola asuh permisif secara mendalam membantu orang tua melihat keseimbangan antara kasih sayang dan batasan. Gaya pengasuhan ini memang memberi kenyamanan emosional, namun berpotensi menciptakan tantangan perkembangan pada jangka panjang.

Pentingnya menghadirkan struktur yang jelas agar anak tetap tumbuh sebagai individu yang mandiri, bertanggung jawab, dan mampu menghadapi tekanan. Aturan bukan berarti membatasi kebebasan, tetapi memberikan fondasi untuk menghadapi dunia yang penuh tuntutan.

Dengan menyeimbangkan kedekatan emosional dan disiplin, orang tua dapat menciptakan pola asuh yang lebih sehat, hangat namun tetap tegas sehingga anak dapat tumbuh percaya diri, stabil secara emosional, dan mampu menilai konsekuensi dari tindakannya. (*)

EDITOR: Siti Nur Qasanah