← Beranda

Anak GTM? Jangan Emosi Dulu, Yuk Kenali 5 Penyebab dan Cara Mengatasinya!

Mega AmeliaSenin, 24 November 2025 | 21.31 WIB
Ilustrasi anak GTM (Dok. Freepik)

JawaPos.com – Gerakan Tutup Mulut (GTM) belakangan ini menjadi fenomena yang mengkhawatirkan banyak orang tua. Mengapa demikian? Sebab kondisi ini sering muncul tiba-tiba, tanpa penyebab yang jelas, dan berlangsung dalam waktu yang tidak menentu. Biasanya hanya diikuti tanda tidak tertarik pada makanan, menutup mulut rapat-rapat saat disuapi, atau mudah terdistraksi oleh hal-hal kecil di sekitarnya. Tak jarang, lauk favorit yang sehari sebelumnya habis dalam sekejap justru ditolak mentah-mentah sehingga hal itulah yang membuat terasa semakin membingungkan.

Kegalauan semakin bertambah ketika setiap waktu makan berubah menjadi perjuangan, penuh bujukan, rayuan, bahkan drama yang menguras emosi. Akan tetapi jangan khawatir, sebenarnya GTM tidak selalu menandakan masalah serius. Dalam banyak kasus, kondisi ini berkaitan dengan perubahan mood, fase perkembangan normal, atau pola makan yang tidak teratur. 

Jika dipahami dengan benar, GTM sebenarnya bisa ditangani dengan mudah. Namun, karena gejalanya tidak selalu jelas dan berbeda pada tiap anak, orang tua sering kesulitan mengetahui akar masalahnya. Akibatnya, respons yang diberikan terkadang tidak tepat dan justru memperpanjang durasi GTM. Oleh karena itu, simak 5 kemungkinan berikut sebelum menentukan strategi yang sesuai, sehingga waktu makan bisa kembali terasa positif bagi anak maupun orang tua.

1. Anak Memang Tidak Lapar

Anak tidak selalu memiliki pola lapar yang sama setiap hari. Ada kalanya, tanpa disadari, mereka sudah mendapatkan cukup energi dari susu atau camilan yang dikonsumsi sebelumnya. Jika jarak antara waktu minum susu, makan snack, dan waktu makan utama terlalu dekat, perut anak masih terasa kenyang sehingga wajar bila ia menolak makanan. Kondisi ini biasanya terlihat dari cara mereka menolak makanan sejak pertama kali disajikan, meski tetap tampak aktif dan tidak menunjukkan tanda-tanda sedang sakit. 

Cara Mengatasi

  • Atur jadwal makan dan snack sesuai kebutuhan.
  • Hindari susu atau snack satu jam sebelum makan.
  • Berikan porsi kecil untuk memancing minat makan.

2. Picky Eating 

Menurut Healthy Children (American Academy of Pediatrics), perilaku picky eating atau pilih-pilih makanan pada anak terutama usia 2 hingga 4 tahun adalah hal yang sangat umum terjadi. Pada usia ini, anak sedang ingin mandiri dan cenderung kuat mempertahankan pilihannya sendiri, termasuk saat makan. Kondisi ini sering memicu konflik kecil di meja makan dimana para orang tua merasa anak harus makan sayuran atau lauk tertentu, sementara si kecil justru bersikeras menolak. Fase ini normal, namun bisa terasa melelahkan jika tidak dipahami dengan benar. 

Cara Mengatasi

  • Biasakan Makan Bersama Keluarga
    Anak cenderung meniru kebiasaan makan orang tua dan saudara. Saat keluarga makan makanan seimbang, termasuk buah dan sayur sambil menunjukkan sikap mau mencoba makanan baru, anak biasanya akan lebih mudah mengikuti.
  • Berikan Pilihan, Bukan Paksaan
    Biarkan anak memilih apa dan berapa banyak yang ingin mereka makan dari makanan yang disajikan. Hindari membuatkan menu berbeda ketika mereka menolak, namun pastikan selalu ada satu makanan favoritnya.
  • Tetap Tawarkan Makanan yang Ditolak
    Beberapa anak membutuhkan 15–20 kali paparan sebelum akhirnya menerima dan menyukainya.
  • Libatkan Anak dalam Proses Makan
    Ajak anak memilih bahan makanan, menanam sayur, atau membantu memasak. Anak yang merasa memiliki peran dalam prosesnya biasanya lebih berani mencoba makanan tersebut.

3. Anak Sedang Tidak Enak Badan

Nafsu makan anak juga bisa menurun ketika tubuh sedang berusaha melawan virus atau bakteri. Saat sistem imun menurun dan muncul gangguan kesehatan, tubuh otomatis memprioritaskan energi untuk proses pemulihan, bukan untuk makan. Karena itu, anak biasanya terlihat kurang bersemangat terhadap makanan ketika sedang tidak fit.

Eka Hospital menyebutkan salah satu penyebab yang sering tidak disadari adalah masalah pencernaan. Ketika anak mengalami sembelit, perutnya terasa penuh, kembung, dan tidak nyaman sehingga wajar jika ia enggan makan. Selain sembelit, beberapa kondisi lain seperti penumpukan gas, iritasi atau peradangan pada saluran cerna, hingga intoleransi terhadap makanan tertentu dapat memicu anak melakukan Gerakan Tutup Mulut (GTM).

Pertumbuhan gigi juga dapat membuat anak menolak makan. Saat gigi baru tumbuh, gusi biasanya terasa nyeri dan sensitif. Rasa sakit ini membuat anak tidak nyaman mengunyah sehingga mereka cenderung memilih untuk tidak makan sama sekali. Selain itu, kondisi sakit seperti demam, pilek, batuk, atau radang tenggorokan sering menyebabkan penurunan selera makan. Tubuh yang tidak enak, hidung tersumbat, dan rasa sakit saat menelan membuat anak enggan membuka mulut.

Cara Mengatasi

  • Kenali gejala dan cari tahu penyebabnya, kira-kira penyakit apakah yang sedang dirasakan oleh anak kemudian berikan penanganan yang tepat.
  • Perhatikan asupan makanan, pastikan bergizi dengan tekstur yang lembut. 
  • Pastikan tidak dehidrasi atau kekurangan cairan dengan perbanyak minum air putih.
  • Ciptakan suasana makan yang menyenangkan, agar tetap ada makanan yang masuk sebagai energi.
  • Jika gejala berlangsung lebih dari 48 jam, konsultasikan ke dokter.

4. Distraksi saat Makan (Gadget, TV, Mainan)

Salah satu alasan yang sering membuat anak menolak makan adalah terlalu banyaknya distraksi di sekitar mereka. Gadget, televisi, atau aktivitas yang terlalu menarik perhatian dapat membuat anak kehilangan fokus saat berada di meja makan. Ketika perhatian sepenuhnya tertuju pada layar, anak menjadi tidak peka terhadap sinyal lapar maupun kenyang. Akibatnya, mereka bisa menolak makan di awal atau justru makan sangat sedikit meski sudah duduk cukup lama.

Menurut Mayo Clinic, screen time yang berlebihan pada anak bisa berdampak negatif pada pola makan. Selain membuat anak tidak fokus, kebiasaan makan sambil menonton juga dapat menciptakan pola makan yang kurang sehat. Anak menjadi terbiasa menunggu "hiburan" sebelum mau membuka mulut, dan tanpa disadari, hal ini membentuk kebiasaan jangka panjang yang sulit diubah. 

Dalam panduan mereka, Mayo Clinic menyarankan agar orang tua menciptakan "waktu makan bebas layar" (screen-free meals), supaya anak lebih bisa fokus pada makan. Lebih dari itu, penggunaan layar selama makan bisa memicu mindless eating atau makan tanpa memperhatikan sinyal tubuh sehingga anak bisa makan lebih banyak atau justru menolak karena tidak merasakan kenikmatan makanannya. 

Cara Mengatasi: 

  • Buat aturan makan tanpa gadget atau televisi saat berada di meja makan.
  • Tetapkan jam bebas layar dalam rumah, misalnya menjadikan ruang makan sebagai "zona bebas layar" agar saat makan, fokus hanya pada makanan dan interaksi keluarga.
  • Tetapkan batasan waktu penggunaan perangkat elektronik dan jadwalkan aktivitas fisik sebagai pengganti.
  • Gunakan rutinitas yang konsisten.

5. Tekanan, Ancaman, atau Dipaksa Makan

Anak yang merasa tertekan saat makan cenderung semakin menolak makanan. Tekanan baik berupa desakan, ancaman, paksaan, atau suasana makan yang tegang membuat anak mengaitkan waktu makan dengan pengalaman negatif. Alih-alih belajar menikmati makanan, mereka justru mengembangkan rasa cemas setiap kali melihat meja makan. Lama-kelamaan, respons ini bisa berubah menjadi penolakan yang lebih kuat, bahkan sebelum proses makan dimulai. Beberapa tanda bahwa anak sedang merasa tertekan yaitu menangis saat melihat meja makan, mengatupkan mulut kencang, sebagai bentuk perlindungan diri ketika mereka merasa dipaksa, mendorong piring atau sendok, hingga penolakan secara verbal dan dramatis misal disertai teriakan dan tangisan.

Ketika tanda-tanda ini muncul, penting bagi orang tua untuk memperbaiki suasana makan, membuatnya lebih santai, penuh dukungan, dan bebas tekanan agar anak bisa kembali membangun hubungan positif dengan makanan.

Cara Mengatasi

  • Orang tua menentukan apa dan kapan, anak menentukan berapa banyak.
  • Berikan pilihan terbatas misalnya "Mau wortel atau brokoli?"
  • Hindari ancaman atau imbalan berlebihan.
  • Fokus pada suasana makan yang positif, bukan jumlah yang dihabiskan.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera konsultasikan ke tenaga kesehatan bila anak menunjukkan tanda-tanda yang tidak wajar. Misalnya seperti penurunan berat badan, tidak mau makan lebih dari tiga hari, gejala dehidrasi seperti jarang pipis atau bibir tampak kering, kesulitan menelan atau bernapas, serta muntah terus-menerus. Kondisi-kondisi ini dapat menandakan gangguan kesehatan yang membutuhkan evaluasi medis lebih lanjut.

Menurunnya nafsu makan sebenarnya adalah fase yang sangat umum, terutama pada toddler. Dalam banyak kasus, kebiasaan makan akan membaik ketika anak berada dalam suasana makan yang nyaman, tanpa tekanan, dan mengikuti jadwal yang konsisten. Meski begitu, orang tua tetap perlu waspada terhadap tanda bahaya. Bila keluhan berlangsung lama atau tampak mengganggu pertumbuhan dan aktivitas anak, mendapatkan pertolongan medis sedini mungkin adalah langkah terbaik untuk memastikan kesehatan mereka tetap terjaga.

EDITOR: Candra Mega Sari