JawaPos.com - Kalimat seperti “jangan nangis, kamu kan laki-laki” atau “cowok harus kuat” sering terdengar dalam pola asuh sehari-hari. Padahal, tanpa disadari, pesan-pesan seperti ini bisa menanamkan toxic masculinity sejak dini. Dampaknya, anak jadi sulit mengenali emosi dan menjalin relasi sehat.
Toxic masculinity mengharuskan laki-laki selalu tampil kuat, dominan, dan tidak menunjukkan kelemahan. Konsep ini kerap tertanam sejak masa kanak-kanak melalui pola asuh yang kaku terhadap peran gender, minim validasi emosi, dan pembatasan eksplorasi kegiatan berdasarkan jenis kelamin.
"Misalnya, anak jatuh dari sepeda lalu ortunya melarang dia nangis karena cowok nggak boleh nangis. Atau, melarang anak laki-laki bermain boneka dan memakai baju warna pink karena dianggap tidak macho," beber Qurrota A'yuni Fitriana MPsi Psikolog.
Larangan untuk menangis atau bersikap lembut bisa membuat anak laki-laki menekan emosinya. Akibatnya, anak jadi kesulitan mengenali dan mengungkapkan perasaan, serta berpotensi mengalami kesulitan membentuk hubungan emosional yang sehat di masa dewasanya.
"Anak jadi belajar bahwa mengekspresikan emosi adalah kelemahan. Padahal kemampuan mengenali dan mengekspresikan emosi adalah bagian penting dari proses pertumbuhan anak dan bisa berakibat kepada kesehatan mentalnya kelak," jelas Dosen Psikologi Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu.
Tekanan untuk selalu terlihat kuat juga dapat memicu dampak negatif lain, seperti amarah yang terpendam atau perilaku agresif. “Anak tidak punya ruang aman untuk mengekspresikan diri. Ia bisa tumbuh tanpa empati dan mengalami kesulitan dalam hubungan sosial,” tambah A'yuni.
Tak hanya soal emosi, konsep toxic masculinity juga terlihat dari pembagian peran yang kaku, seperti pelarangan anak laki-laki untuk belajar pekerjaan rumah tangga. "Banyak yang menganggap tugas mencuci, memasak, atau membersihkan rumah bukan pekerjaan laki-laki. Ini juga bagian dari toxic masculinity," kata Ayuni.
Akibatnya, anak laki-laki tumbuh dengan minim rasa tanggung jawab domestik, kurang empati, dan tidak siap hidup mandiri. “Mereka bisa kesulitan saat merantau dan tinggal sendiri, atau gagal membangun hubungan yang setara ketika sudah berumah tangga,” sambungnya.
Agar anak laki-laki bisa tumbuh dengan konsep maskulinitas yang sehat, orang tua perlu memperbaiki cara mengasuh sejak dini. Salah satunya, dengan memvalidasi semua jenis emosi anak, termasuk saat mereka merasa marah, kecewa, atau sedih.
"Ajak anak bicara, bantu mereka menamai perasaan, dan arahkan mengekspresikan emosi dengan sehat," saran A'yuni.
A'yuni juga menyarankan untuk melibatkan anak laki-laki dalam pekerjaan rumah tangga, serta memberi ruang eksplorasi tanpa batasan gender. "Jangan batasi minat anak hanya karena ia laki-laki atau perempuan. Semua anak berhak bermain, belajar, dan berkembang sesuai ketertarikannya," tegasnya.