← Beranda

Waspada! Indonesia Darurat Spam dan Scam Digital, Nomor Ponsel Jadi Sasaran Utama

Rian AlfiantoKamis, 14 Agustus 2025 | 21.43 WIB
Ilustrasi kejahatan siber berupa scam sedang marak mengintai korban di Indonesia. (KWCH)

 

JawaPos.com-Masyarakat Indonesia kini menghadapi ancaman digital yang semakin mengkhawatirkan. Dari panggilan telepon tak dikenal, pesan singkat mencurigakan, hingga penipuan daring yang memanfaatkan kelengahan korban, ancaman ini merambah semua lapisan usia, termasuk generasi muda..

 Baca Juga: Diduga Ada Kelalaian Hingga Warga Purwakarta Tewas Mengenaskan, Sahroni Minta Polda Jabar Usut Tuntas dan Jatuhkan Sanksi

Data terbaru menunjukkan Indonesia menjadi negara penerima panggilan spam terbanyak di Asia Pasifik. Sebanyak 65 persen masyarakat mengalami upaya penipuan atau scam setiap minggu, sementara 39 persen anak muda mengaku pernah menjadi korban penipuan online.

Fenomena ini bukan sekadar gangguan komunikasi. Bagi kalangan muda yang aktif beraktivitas di dunia digital, maraknya teror nomor ponsel berisiko mengikis rasa percaya diri saat berinteraksi online, menghambat kreativitas, dan tentu saja, menguras kerugian finansial.

Menanggapi ancaman tersebut, sejumlah penyedia layanan telekomunikasi mulai mengembangkan fitur pendeteksi spam dan scam berbasis kecerdasan buatan (AI) yang terintegrasi dengan jaringan cepat, seperti 5G. 

Salah satunya adalah Tri dari Indosat Ooredoo Hutchison, yang meluncurkan fitur Tri AI: Anti Spam/Scam. Teknologi ini diklaim mampu mengidentifikasi panggilan berisiko dengan sistem kategori warna, toska untuk nomor aman, kuning untuk panggilan mencurigakan, dan merah untuk nomor yang terdeteksi berisiko tinggi serta memberikan peringatan otomatis pada SMS yang berpotensi penipuan.

Chief Marketing Officer Indosat Ooredoo Hutchison, Vivek Mehendiratta menjelaskan, fitur semacam ini dinilai menjadi langkah penting dalam mengurangi risiko korban penipuan digital, meski pakar mengingatkan bahwa perlindungan tidak hanya bergantung pada teknologi. 

"Kewaspadaan pengguna, pemahaman literasi digital, serta kebiasaan memverifikasi informasi tetap menjadi benteng utama melawan scam dan spam," katanya di jumpa pers di Jakarta, Kamis (14/8).

Dengan tingkat spam dan scam yang terus meningkat, para pengguna ponsel di Indonesia diimbau untuk tidak sembarangan mengangkat telepon atau membalas pesan dari nomor tak dikenal, serta segera melaporkan setiap indikasi penipuan kepada pihak berwenang atau operator terkait. (*)

 

EDITOR: Dinarsa Kurniawan