JawaPos.com - Presiden Joko Widodo kemarin (16/4) memanggil menterinya untuk membahas kondisi global. Salah satu yang dibahas adalah perang Iran-Israel serta dampaknya pada Indonesia.
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto seusai rapat menyampaikan, peperangan di Timur Tengah berimbas pada harga minyak dunia. Menurut dia, Laut Merah dan Selat Hormuz menjadi penghubung yang penting bagi distribusi minyak.
"Di Selat Hormuz ada 33 ribu kapal minyak dan Laut Merah 27 ribu. Peningkatan biaya pengiriman menjadi salah satu yang harus dimitigasi," jelasnya.
Dia melanjutkan, perekonomian Indonesia sebenarnya tumbuh 5 persen. Sedangkan inflasi 2,5 plus minus 1 persen. Hal itu juga ditopang cadangan devisa pada Maret 2024 yang cukup aman, yakni USD 140,4 miliar. Kinerja ekspor pun masih surplus dengan neraca perdagangan per Februari 2024 sebesar USD 0,87 miliar.
Pemerintah terus mencermati tingkat suku bunga, harga minyak, kenaikan biaya logistik global, dan penyerapan surat berharga negara (SBN) untuk mengantisipasi dampak lebih lanjut dari konflik Iran-Israel. ’’Yang sekarang kami jaga adalah biaya logistik. Sebelum ada konflik Iran-Israel saja sudah naik akibat (serangan) Houthi dan yang lain,’’ katanya.
Airlangga juga mengakui, nilai tukar rupiah terhadap dolar dan IHSG melemah. Meski demikian, dia menyebut hal itu masih aman. Pemerintah akan melakukan beberapa kebijakan. Yakni, bauran fiskal dan moneter, menjaga stabilitas nilai tukar, menjaga APBN, serta memonitor kenaikan harga logistik dan minyak. ’’Sektor riil terdampak depresiasi nilai tukar dan kenaikan ini,’’ ucapnya.
Dia memastikan fundamental ekonomi RI masih baik. ’’Jadi, kita bukan (negara) yang terdampak tinggi, tapi banyak negara yang lebih terdampak dari kita (karena konflik Iran-Israel),’’ jelas Ketum Partai Golkar itu. Sejauh ini, pemerintah masih memonitor konflik tersebut. Belum ada pembahasan apakah ada penambahan bantuan atau tidak. (dee/lyn/c18/oni)