Salah satu fakta menariknya adalah bahwa Jumat Agung adalah bagian dari minggu suci, dimulai dari Minggu Palma hingga Paskah, dan merupakan hari penting dalam agama Kristiani, dirayakan pada Jumat sebelum Paskah.
Pada Jumat Agung umat Kristiani merayakan penyaliban dan kematian Yesus Kristus. Berikut fakta-fakta mengenai Jumat Agung yang harus kamu ketahui.
Baca Juga: 5 Manfaat Teh Hijau yang Baik untuk Kesehatan Tubuh, Salah Satunya Dapat Mencegah Penyakit Jantung
-
Good Friday
Nama "Good Friday" dalam bahasa Inggris untuk Jumat Agung mungkin terdengar aneh pada awalnya, karena kata "Good" merujuk pada peristiwa tragis penyaliban Yesus. Namun, ada beberapa teori tentang asal-usul nama tersebut.
Dikutip dari jawaban.com, Jumat (29/3), salah satunya adalah bahwa "Good" awalnya digunakan sebagai kata sifat yang berarti "suci" dalam bahasa Inggris Kuno.
Ada juga yang menyatakan bahwa "Good" berasal dari distorsi kata "God" atau Tuhan, mirip dengan asal-usul ungkapan "Good Bye" dari "God be with ye".
Maka dari itu, "Good Friday" mungkin berasal dari "God's Friday". Bagi umat Kristen, Jumat Agung dianggap "baik" karena mengandung pesan Paskah tentang kemenangan Kristus atas dosa, kematian, dan setan.
Baca Juga: Ramalan Zodiak Leo dan Virgo 30 Maret 2024: Mulai dari Kesehatan, Karier, Keuangan hingga Cinta
-
Momen Kematian Yesus karena Pengorbanan
Jumat Agung adalah saat kita mengenang kematian Yesus di salib, menjadi hari istimewa yang sering dijadikan libur internasional.
Umat Kristen biasanya melakukan ibadah seperti pada hari Minggu dan merenungkan karya penebusan Yesus dengan serius.
-
Jumat Agung Kerap Ditandai dengan Mendung
Kematian Yesus merupakan peristiwa yang memiliki dampak besar di seluruh dunia, menyebabkan kedukaan dan pada saat yang sama, mengundang ungkapan syukur.
Mengapa Jumat Agung sering kali terasa mendung dan hujan, tidak ada yang pasti.
Banyak yang percaya bahwa ini mungkin merupakan rahmat dari surga sebagai penghormatan terhadap pengorbanan Yesus di salib.
Jadi, mari kita lihat apakah pada perayaan Jumat Agung tahun ini akan turun hujan atau tidak.
-
Mencium Salib
Umat Katolik memiliki tradisi pada Jumat Agung yang melibatkan penghormatan kepada Yesus dengan mencium kaki-Nya, disebut sebagai Penghormatan Salib.
Baca Juga: Hukum Mencicipi Makanan hingga Menggigit Kuku Saat Sedang Berpuasa
Ritual ini adalah ungkapan peringatan dan rasa syukur atas pengorbanan Yesus, serta dianggap sebagai bentuk sikap tawadhu (merendahkan diri) di hadapan Tuhan.
-
Ibadat Tanpa Lagu Pembukaan
Dikutip dari kitakatolik.com, Jumat (29/3), setelah menyanyikan lamentasi tanpa musik, ibadah Jumat Agung dibuka tanpa menyanyikan lagu pembukaan, sesuatu yang tidak lazim dalam setiap perayaan liturgi katolik.
Ibadat tanpa lagu pembukaan ini merupakan esensi dari ibadah Jumat Agung sendiri yang merupakan pengenangan secara istimewa penderitaan dan kematian Yesus.
Keheningan merupakan kondisi dasar yang harus ada agar makna penderitaan dan sengsara Yesus dapat dihayati oleh umat-Nya.
Baca Juga: Ramalan Zodiak Libra dan Scorpio 30 Maret 2024: Mulai dari Kesehatan, Karier, Keuangan hingga Cinta
-
Imam Tiarap Saat Jumat Agung
Imam mengenakan kasula berwarna merah lalu menuju altar dan tiarap di depan altar yang telah dikosongkan saat Kamis Putih malam.
Tentu saja, imam tidak hanya sekedar tiarap, namun sambil berdoa dalam keheningan. Tiarap merupakan penghayatan atas pengosongan diri Yesus.
-
Doa Umat Meriah
Doa umat meriah didaraskan setelah Kisah Sengsara Tuhan. Doa umat meriah ini berisi bermacam-macam permohonan, termasuk untuk negara, umat beragama lain, orang yang menderita, dan lain sebagainya.
Hal tersebut menunjukkan universalitas makna wafat Yesus yang bermakna dan berdampak bagi seluruh umat manusia.
-
Tradisi Jumat Agung
Berbagai gereja memiliki tradisi unik dalam merayakan Jumat Agung. Beberapa mengadakan ibadah sore hari dari pukul 12 siang hingga 3 sore untuk mengenang saat Yesus disalibkan.
Gereja lain menggelar prosesi salib, seperti "Veneration of the Cross", di mana umat Kristiani berlutut di depan salib untuk menguatkan iman.
Di Yerusalem, umat Kristen mengikuti jejak Yesus dengan berjalan di "Via Dolorosa", jalur tradisional menuju situs penyaliban, di mana banyak yang mencoba merasakan beban yang dialami Yesus dengan membawa salib di punggung mereka.