← Beranda

Perlakukan Ikan dengan Rasa Senang dan Sabar

Banu AdikaraSelasa, 30 November 2021 | 23.00 WIB
Photo
JawaPos.com – Saat masuk S1 Teknologi Manajemen Akuakultur, Indriawan Widya Utama awalnya menyangka ia salah masuk jurusan. Indriawan mengira, jurusan tersebut berkaitan dengan teknologi dan manajemen.

Ternyata, ia dihadapkan pada mata kuliah tentang budidaya perikanan. Meski jurusan tersebut tidak seperti yang ia bayangkan, toh pria asli Bekasi Jawa Barat, yang kini menetap di Ogan Ilir, Sumatera Selatan itu mengaku tidak menyesal. Bahkan, ia merasa senang bisa akrab dengan ikan-ikanan.

“Sejak kuliah sudah punya cita-cita usaha perikanan,” katanya melalui teleponnya, belum lama ini.

Indriawan mulai merintis usaha sejak tahun 2000. Ia hanya membeli ikan dari petani lalu menjualnya lagi di pasar. Saat itu, ia pun masih bekerja di perusahaan penjual pakan ternak. Sedikit demi sedikit, ia menabung. Setelah terkumpul cukup modal, pada 2014, ia mulai serius dalam usaha budidaya ikan sendiri.

Usahanya terus berkembang. Saat ini, ikan lele dan patin menjadi fokusnya di tiga lokasi usaha. Di Lampung ada 33 kolam patin. Ada juga 40 kolam patin di Belitang yang masuk di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur. Sedangkan di Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir terdapat 90 kolam lele.

Putaran modal masing-masing lokasi usaha patin mencapai Rp 1,6 miliar, sedangkan lele Rp 1 miliar.

Indrawan memiliki rekanan sebagai investor dalam mengelola budidaya patin. Sedangkan khusus budidaya lele, pria 37 tahun ini mengandalkan modal dari Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (LPMUKP).

Dari badan layanan umum (BLU) di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tersebut, ia memperoleh dana bergulir September 2021. Dana digunakan untuk membeli pakan, bibit, dan perbaikan sarana prasarana.

Hasil kolam lele untuk memenuhi permintaan sekitaran Palembang, diantaranya Pasar Jakabaring sebanyak satu ton, KM5 dan Perumnas sekitar tiga sampai lima kuintal. Sedangkan patin dijual ke perusahaan mitra yang kemudian dipasarkan ke Medan dan Jakarta.

Secara khusus, ia menyampaikan kunci usaha budidaya agar bisa berkembang. Pertama, harus senang, karena feeling sangat menentukan dalam budidaya ikan. Kedua, sabar dalam menjalani aktivitas. “Saat tumbuh kembang ikan berbeda-beda, kita lihat setiap hari, artinya proses aktivitas berubah-ubah, sehingga tidak bosan. Gak kerasa, seneng juga lihat ikan gede, happy, panen. Campur aduk harapan dan aktivitas berubah-udah,” tuturnya.

Kesenangan dan kesabaran itu selalu ia tularkan kepada karyawan. Ia yakin, jika karyawannya tidak senang, maka usaha budidaya ikan biasanya tidak berhasil. Ia pun harus benar-benar selektif memilih karyawan.

“Ke depan pengin punya usaha dari hulu ke hilir. Artinya budidaya punya, prosessing punya, brand punya. Sekarang kan belum punya brand ya,” harapnya.
EDITOR: Banu Adikara