SEBAGIAN penonton Indonesia masih gemar memberikan komentar negatif bagi aktris yang perannya memicu emosi mereka. Salah satunya adalah Davina Karamoy, pemeran Rani di film Ipar Adalah Maut. Rani sukses membuat penonton marah dan jengkel lantaran menjadi orang ketiga dalam film besutan Hanung Bramantyo tersebut. Kolom komentar aktris 21 tahun itu menjadi sasaran hujatan warganet. Davina menghadapinya dengan legawa karena sudah memprediksi hal ini bakal terjadi.
Davina butuh waktu berapa lama untuk mendalami karakter Rani?
Sekitar 2 minggu lebih. Itu masa-masanya aku gali Rani banget karena perbedaan Rani dan Davina itu 180 derajat. Pada saat berada di set, aku juga kebantu sama energi pemain-pemain lain. Terus, aku juga banyak diskusi sama Mas Hanung, jadi nggak ngerasa sulit.
Saat ini cap orang ketiga sudah melekat kepada Davina. Bagaimana Davina memandang sosok Rani?
Pada saat ditawarin, aku udah lihat Rani jadi public enemy. Pas baca skenarionya aja, aku udah istigfar mulu dan kayak, ”Hah, ini serius beneran Rani kayak gini”.
Berarti, Davina sudah mengantisipasi untuk dihujat, ya?
Aku memang udah siap dari awal. Jadi, aku nggak kaget sih kalau nanti banyak netizen yang hujat. Dari cast reveal nih, belum ada adegan, baru foto, senyum doang di samping Mas Aris, orang-orang sudah berkomentar, ”Itu orangnya ngeselin banget”.
Seberapa sering Davina membaca komentar-komentar di media sosial pribadi?
Padahal, sebelum proyek ini, hate comment nggak begitu banyak, tapi setelah ini jadi banyak. Bahkan sampai DM. Jadi, aku bacainnya kayak, ”Ya udah wajarin aja karena nggak mungkin aku bilang jangan kesal dong sama Rani”. Lha, aku aja ikut kesal. Jadi ya sudahlah, hopefully ke depannya nggak lebih ganas.
Komentar pedas seperti apa yang pernah kamu dapatkan?
Katanya, mukanya cocok banget, ngeselinnya cocok banget. Ada juga yang bilang,”Lo tuh nggak punya otak ya”, gitu. Mau tidak mau aku terima kan. Di konten Kak Elizasifa (kreator cerita Ipar Adalah Maut, Red) aja, Rani udah dihujat. Padahal, waktu itu belum ada yang memerankan.
Apakah sekarang hujatan dan label negatif itu membebani Davina di kehidupan nyata?
(Hujatan, Red) itu nggak masalah. Jujur, aku nggak takut karena mikir kalau sampai terbawa kesal in real life berarti alhamdulillah aku berhasil meraninnya.
Mengetahui risiko yang dihadapi, apakah Davina sempat mendiskusikannya dengan keluarga?
Pastinya aku diskusi panjang sama keluarga. Keraguan aku awalnya itu malah yang akhirnya menguatkan keluarga. Mama aku yang bilang ambil aja karena percaya aku bisa.
Termasuk diskusi soal adegan intim?
Iya. Jadi, nggak apa-apa adegan kayak gitu selama ini make sense untuk karakter tersebut dan memang diharuskan. Orang tuaku nggak masalah sih selama protokol syutingnya aman.
Saat melakoni adegan intim tersebut, Davina sempat nervous, nggak?
Pasti deg-degan awalnya karena aku nggak pernah dapat peran atau adegan seperti itu sebelumnya. Tapi, Kak Deva membantu aku banget. Malah banyak adegan yang harusnya serius jadi ketawa karena di luar kami sering ngobrol dan bercanda.
Ada nggak persyaratan dari Davina untuk tim produksi ketika melakukan adegan tersebut?
Memang ada beberapa adegan yang kelihatannya vulgar di film, tapi sebenarnya saat take sih nggak begitu. Banyak banget cheating, trik kameranya lah. Pada saat melakukan itu, aku juga dibikin senyaman mungkin kayak di satu ruangan cuma ada director atau DOP. Selama masa produksi, aku benar-benar dijaga banget.
Dengan segala risiko yang didapatkan saat ini, apakah ke depannya Davina berani ambil karakter serupa? Atau justru malah kapok?
Kapok nggak sih. Pokoknya, selama cerita dan karakternya bagus dan menantang, aku nggak masalah. (*/shf/c14/len)