JawaPos.com – Taylor Swift, dengan album terbarunya ‘The Tortured Poets Department’, membawa kita ke dalam dunia puitis yang sarat dengan metafora dan narasi yang mendalam.
Album ini, yang telah memecahkan rekor streaming sejak dirilis pada 19 April 2024, menawarkan pengalaman unik bagi penggemar untuk mendengarkan langsung komentar dari Swift tentang setiap lagu.
Album The Tortured Poets Department ini tidak hanya memecahkan rekor, tetapi juga memberikan pengalaman mendalam bagi para penggemar melalui melodi dan liriknya yang penuh metafora.
Dilansir dari Variety, Selasa (23/4), Taylor Swift baru-baru ini menjelaskan beberapa arti di balik lagu-lagu di album ini melalui penjelasan track-by-track yang disediakan oleh Swift bersama Amazon Music.
Inspirasi dan Makna di Balik Lagu-lagu di Album The Tortures Poets Department
Taylor Swift memberikan wawasan tentang inspirasi di balik beberapa lagu dalam album ini.
Dengan mengaktifkan Alexa dan mengatakan, “Saya anggota 'The Tortured Poets Department,” penggemar dapat menyelami inspirasi di balik setiap lagu dalam album ini.
Swift mengungkapkan tema-tema fatalisme, kehilangan, dan mimpi yang hilang yang menjadi benang merah album ini, ia membahas inspirasi dan makna di balik lima lagu berikut ini:
1. ‘Fortnight’ (feat. Post Malone) yang Mengusung Tema Fatalisme
Lagu pembuka album ini mengeksplorasi tema fatalisme dengan lirik hiperbola dan dramatis seperti, “I love you, it’s ruining my life,” yang berarti “Aku mencintaimu, itu merusak hidupku.”
‘Fortnight’ adalah lagu yang menampilkan banyak tema umum yang dirasakan banyak orang. Salah satunya adalah fatalisme—kerinduan, keinginan yang tak tercapai, mimpi yang hilang," kata Swift tentang ‘Fortnight’.
Baca Juga: Nekat Curi Motor Milik Polwan Bangkalan, Polisi Berhasil Tangkap Dua Pelaku
“Saya pikir ini adalah album yang sangat fatalistik karena ada banyak baris lirik yang sangat dramatis tentang hidup atau mati. Berisi hal-hal yang sangat hiperbolik dan dramatis untuk dikatakan. Album ini memang seperti itu,” ungkap Taylor Swift.
2. Metafora dalam ‘My Boy Only Breaks His Favorite Toys’
Taylor Swift memecah metafora dalam lagu ‘My Boy Only Breaks His Favorite Toys,’ memberikan wawasan tentang bagaimana dia menggunakan simbolisme untuk menyampaikan emosi dan cerita di album ini.
Lagu ‘My Boy Only Breaks His Favorite Toys’ menggunakan metafora mainan favorit yang rusak dan ditinggalkan sebagai analogi untuk hubungan yang berakhir dengan rasa sakit.
Taylor Swift menggambarkan bagaimana seseorang perempuan bisa sangat dihargai di awal hubungan, namun akhirnya dirusak dan diabaikan oleh pasangannya.
3. ‘Florida!!!’ (feat. Florence + the Machine) untuk Para Penyintas Sakit Hati
Berbeda dengan lagu-lagu lain, lagu ini tidak berbicara langsung tentang sebuah hubungan yang gagal dengan mantan kekasih. Inspirasi lagu ini datang dari keinginan untuk memulai hidup baru, tersembunyi dari masa lalu yang penuh patah hati.
4. ‘Who's Afraid of Little Old Me?’ yang Sarat Akan Kritik bagi Masyarakat
Ditulis Taylor Swift saat sendirian sambil bermain piano, lagu ini mengungkapkan kepahitan, perlakuan, dan sentimen masyarakat dan budaya terhadap para seniman dan karya-karya mereka.
Taylor Swift menekankan bahwa album ini banyak berbicara tentang bagaimana masyarakat sering kali menikmati melihat seniman dalam kesakitan, depresi, dan kadang bahkan memprovokasi rasa sakit tersebut hanya untuk melihat apa yang akan terjadi.
5. ‘Clara Bow’ yang Menyoroti Kecenderungan Perlakukan Membandingkan Perempuan
Saat menulis lagu ini, Taylor Swift mengaku terinspirasi oleh aktris film bisu. Lagu ini merupakan komentar Swift tentang industri hiburan dan bagaimana perempuan diajarkan untuk melihat diri mereka sebagai pengganti bagi perempuan hebat sebelumnya.
Kesimpulannya, album ‘The Tortured Poets Department’ dari Taylor Swift adalah sebuah karya yang mengajak kita untuk merenung dan merasakan setiap emosi yang terjalin dalam liriknya.
Dengan kepiawaian Taylor Swift dalam bercerita dan keunikan suaranya, album ini tidak hanya menjadi kumpulan lagu, tetapi juga sebuah perjalanan yang menggugah jiwa.
Album ini mengingatkan kita bahwa musik adalah bahasa universal yang mampu menyentuh hati dan mengubah pandangan kita terhadap dunia.
Taylor Swift, melalui karyanya, telah membuktikan sekali lagi bahwa dia tidak hanya seorang penyanyi, tetapi juga seorang penyair dan pencerita yang andal.