← Beranda

Iklim Fest! Festival Musik Pertama Ramah Lingkungan Tanpa Plastik dengan Konsep Reuse Protocol

Muhammad ZulkifliMinggu, 5 November 2023 | 23.47 WIB
Penampilan Kai Mata dalam Iklim Fest, Ubud, Sabtu (4/11).

JawaPos.com – Iklim Fest merupakan festival musik pertama di Indonesia yang menerapkan ramah lingkungan dengan menggunakan konsep ‘Reuse Protocol’ atau ‘protokol guna ulang’.

Para pengunjung Iklim Fest dilarang membawa plastik atau barang apapun yang terbuat dari plastik ke dalam area festival, yang diselenggarakan di Monkey Forest, Ubud, Bali, Sabtu (4/11).

Iklim Fest ini diselenggarakan oleh Diet Plastik Indonesia bekerja sama dengan Yowana Padangtegal serta 13 Musisi Indonesia yang tergabung dalam Music Declares Emergency (MDE) Indonesia.

“Jadi (festival musik) ini pertama kalinya reuse protocol diterapkan di Indonesia,” terang Tiza Mafira, Direktur Eksekutif Diet Plastik Indonesia selaku salah satu penyelenggara Iklim Fest, Sabtu (4/11).

Menurut Tiza Mafira, reuse protocol atau protokol guna ulang merupakan prinsip mengkonsumsi atau menggunakan barang yang terus bisa digunakan kembali, sehingga tidak berakhir menjadi sampah.

Tiza mengatakan, pembeli membeli makanan atau minuman yang dibutuhkan adalah makanan atau minumannya, sedangkan kemasannya yang terbuat dari plastik tidak pernah menjadi milik dari pembeli.

Baca Juga: Kemendikbudristek Gelar Temu Seni Musik, Sambut Festival Indonesia Bertutur 2024.

“Prinspinya sederhana, sebenarnya setiap kali ada yang jualan barang, baik itu makanan, baik itu shampo, atau apapun sebenarnya yang dibeli sama konsumen itu adalah yang mau dikonsumsi. Kemasannya itu sebenarnya tidak perlu kita miliki,” katanya.

“Nah oleh karena itu kemasannya itu hanya dipinjamkan saja kepada konsumen. Nah itu sistem guna ulang, dimana kemasannya tidak pernah menjadi milik konsumen, kemudian karena hanya dipinjamkan ditarik kembali sama yang punya kemasan untuk digunakan kembali,” lanjutnya.

Protokol guna ulang yang demikianlah yang diterapkan dalam Iklim Fest ini, dimana 13 musisi Indonesia akan menampilkan lagu mereka secara perdana yang mengusung tema krisis lingkungan.

Dalam protokol guna ulang, terdapat elemen-elemen yang harus hadir sehingga festival bisa berjalan dengan lancar tanpa memberatkan penonton selayaknya festival-festival musik pada umumnya.

“Jadi ada 4 unsur lah dalam protokol guna ulang. Yang pertama, unsur vendor yang jual makan dan minum, yang kedua ada reuse operator yang menyediakan wadah yang bisa digunakan ulang, yang ketiga ada pencucian, yang keempat ada logistik yang mengembalikan wadah-wadah ke vendor untuk digunakan lagi,” jelasnya.

Meskipun para pengunjung tidak diperkenankan untuk membawa barang-barang yang terbuat dari plastik, dengan adanya 4 elemen protokol guna ulang, maka pengunjung akan tetap merasa nyaman.

Baca Juga: Pamungkas, Pusakata, Hingga RAN Ramaikan Festival Musik Cerita Langit Jingga

“Prinsipnya dalam reuse protocol adalah kita anti ribetin pengunjung. Pokoknya pengunjung itu harus happy, pengunjung itu harus merasa kayak datang ke festival musik, mikirin musiknya aja. Panitia rela untuk sedikit lebih ribet,” kata Tiza.

Dalam Iklim Fest, tidak hanya pengunjung yang dilarang membawa plastik, tetapi juga para vendor penjual makanan dan minuman, dimana panitia pelaksana menyediakan wadah alternatif yang bisa digunakan kembali (reuse) untuk para vendor.

Tiza Mafira berharap, Iklim Fest bisa menjadi percontohan untuk event-event besar lainnya di Indonesia untuk bisa menerapkan reuse protocol atau protokol guna ulang yang ramah lingkungan, tanpa plastik.

13 Musisi dalam IKLIM Fest

Iklim Fest diselenggarakan untuk ajang peluncuran album ‘sonic/panic’, sebuah album kompilasi dari 13 musisi terkenal Indonesia tentang bumi dan krisis iklim.

Ketiga belas musisi yang tergabung dalam Music Declares Emergency (MDE) Indonesia itu adalah Endah N Rhesa, Navicula, Tony Q Rastafara, Tuantigabelas, Iksan Skuter, FSTVLST, Made Mawut, Nova Filastine, Guritan, Kabudul, Kai Mata, Rhythm Rebels, dan Pribumi.

Genre yang dibawakan oleh ketiga belas musisi ini beragama mulai dari hip hop, rock, blues, elektronika, reggae, pop, hingga musik dunia, tetapi tetap tema tentang krisis iklim.

Lagu-lagu dalam album ‘sonic/panic’ mengajak pendengar untuk menghadapi realitas kerusakan lingkungan, menyoroti krisis iklim di planet ini, dan kebutuhan mendesak untuk menangani krisis ini.

Salah satu musisi, Endah N Rhesa membawakan lagunya yang berjudul ‘Plastic Tree’, yang menyuarakan permasalahan lingkungan dari plastik dan over consumption.

Endah mengaku sangat emosional saat menggarap lirik lagunya, hingga proses perekamannya berlangsung karena prosesnya sangat cepat dan isi liriknya mengandung makna yang dalam.

“Aku susang bangat mengendalikan emosi waktu rekaman. Nangis terus. Karena kami buat lagunya bareng-bareng, dan mas Rhesa juga berusaha keras untuk menenangkan aku bantu nulis lirik,” katanya.***

EDITOR: Novia Tri Astuti