← Beranda

Citra Ibu Ideal di Media Sosial Bikin Gen Z yang jadi Ibu Overwhelmed, Ini Kata Psikolog

Tazkia Royyan HikmatiarSelasa, 23 Desember 2025 | 19.41 WIB
Ilustrasi ibu muda dari kalangan Gen Z yang merasa overwhelmed akibat berbagai tuntutan citra ibu ideal. (Freepik)

JawaPos.com - Tekanan citra menjadi “ibu ideal” yang masif di media sosial membuat banyak generasi Z yang kini menjadi ibu lebih rentan merasa kewalahan secara emosional alias overwhelmed.

Meski dikenal lebih terbuka dalam mengekspresikan perasaan, paparan informasi dan standar pengasuhan yang berlebihan justru memicu rasa cemas, takut gagal, hingga merasa tidak cukup baik sebagai ibu.

Psikolog Klinis Dewasa, Jennyfer, M.Psi., menjelaskan bahwa ibu dari Gen Z hidup di tengah arus informasi yang nyaris tanpa jeda.

Media sosial tidak hanya menjadi sumber inspirasi, tetapi juga ruang pembanding yang kerap menghadirkan ekspektasi tidak realistis tentang sosok ibu yang selalu bahagia, kuat, dan serba bisa.

Tekanan tersebut, katanya, tercermin dari data Cek Kesehatan Gratis (CKG) Kementerian Kesehatan RI per Oktober 2025 yang menunjukkan sebanyak 8,5 persen ibu hamil di Indonesia terindikasi memiliki potensi depresi.

Angka ini tercatat delapan kali lebih tinggi dibandingkan kejadian depresi pada populasi dewasa secara umum.

Fakta ini menegaskan bahwa di balik unggahan hangat dan senyum di media sosial, tidak sedikit ibu yang sebenarnya sedang berjuang menghadapi tekanan mental.

Jennyfer menegaskan bahwa dukungan emosional menjadi kebutuhan utama para ibu saat ini.

“Yang dibutuhkan moms bukan sekadar informasi, tapi juga emotional validation; rasa dimengerti dan didukung. Beragam mood dari bahagia, excited hingga ke emosi, takut, cemas ataupun sedih bisa hadir secara bersamaan. Semua itu normal dan valid," ujarnya, Selasa (23/12).

Ia menambahkan, menjadi ibu tidak hanya menuntut kesiapan fisik, tetapi juga kesiapan mental dan emosional.

Peran pasangan pun kini semakin bergeser menjadi co-parent yang terlibat secara praktis sekaligus emosional. Lingkungan yang suportif terbukti berkontribusi besar dalam menurunkan tingkat stres serta risiko baby blues.

“Tidak ada perempuan yang sempurna, tetapi setiap moms berhak merasa didukung. Moms cukup fokus menjalani peran dengan versi terbaik diri sendiri, bukan versi ideal menurut orang lain,” jelasnya.

Selain aspek emosional, kesejahteraan ibu juga sangat dipengaruhi oleh pemenuhan nutrisi yang lengkap dan seimbang.

Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat bahwa hampir tiga dari sepuluh ibu hamil di Indonesia mengalami anemia, sementara 17 persen lainnya berisiko mengalami Kurang Energi Kronik (KEK).

Studi yang dimuat dalam Medical Journal of Indonesia (2017) juga mengungkap sekitar 80 persen ibu hamil masih belum memenuhi kebutuhan asupan protein harian.

Kondisi ini berdampak langsung pada stamina, daya tahan tubuh, suasana hati, hingga kualitas aktivitas harian seorang ibu.

Oleh karena itu, Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan, dr. Muhammad Fadli, Sp.OG, menekankan pentingnya pemenuhan nutrisi di setiap fase perjalanan menjadi ibu.

“Kehamilan itu dinamis. Kebutuhan nutrisi setiap moms berbeda dan berubah sesuai fase. Jadi jangan samakan kehamilan diri sendiri dengan orang lain,” tuturnya.

Menurutnya, perjalanan menjadi ibu sudah dimulai sejak fase persiapan kehamilan. Asupan Protein dan Asam Folat berperan sebagai investasi awal untuk menjaga kualitas sel telur dan kesiapan jaringan tubuh calon ibu.

Fondasi nutrisi yang baik pada tahap ini menjadi kunci agar janin dapat berkembang optimal sejak awal pembuahan.

Saat memasuki masa kehamilan, kebutuhan nutrisi semakin meningkat. Protein, Asam Folat, DHA, Zat Besi, dan Kalsium menjadi elemen penting untuk menjaga stamina ibu sekaligus mendukung tumbuh kembang janin.

Pada trimester awal, yang kerap diiringi morning sickness, kombinasi Protein dan Vitamin B6 dinilai membantu meredakan mual dan muntah sehingga ibu tetap dapat beraktivitas dengan lebih nyaman.

“Pemenuhan nutrisi yang lengkap dan seimbang bukan tanpa alasan. Hal ini juga merupakan langkah preventif yang krusial untuk memastikan proses kehamilan berjalan optimal hingga persalinan, sekaligus menekan risiko bayi lahir prematur dan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR),” tambah dr. Fadli.

Peran nutrisi berlanjut hingga fase menyusui. Pada tahap ini, ibu membutuhkan energi ekstra untuk pemulihan pascamelahirkan, sekaligus menjaga kualitas dan kelancaran produksi ASI yang optimal bagi tumbuh kembang bayi di masa awal kehidupannya.

Terkait hal itu, Junita, Business Group Manager PRENAGEN, menegaskan bahwa pihaknya ingin mengingatkan bahwa setiap ibu itu spesial dengan karakter dan caranya masing-masing.

"Moms cukup jadi versi terbaik diri sendiri. Karena setiap langkah, setiap cerita dan pengalaman adalah bagian dari perjalanan menjadi ibu. Kami juga mengajak pasangan, keluarga serta lingkungan, agar semakin suportif menemani setiap langkah perempuan menjadi seorang ibu. Apapun fasenya, perempuan tidak harus menjalani semua sendiri," ungkapnya.

EDITOR: Bayu Putra