← Beranda

Orang yang Mempertahankan 8 Kegiatan Intelektual Ini Sepanjang Hidup Akan Tetap Tajam Secara Mental di Usia Berapa Pun

Leni Setya WatiRabu, 3 Desember 2025 | 02.02 WIB
Ilustrasi orang yang tetap tajam secara mental di usia senja (freepik)

JawaPos.com - Bulan lalu, Una Quinn yang merupakan penulis di The Vessel sedang duduk bersama anggota klub bukunya ketika seseorang melempar komentar santai tentang memori dan penuaan.

“Yah, apa lagi yang bisa diharapkan di usia seperti ini?” katanya sambil mengangkat bahu, seolah penurunan kemampuan kognitif adalah sesuatu yang pasti, sama seperti tumbuhnya uban.

Una tidak langsung membantah, meski ia tahu anggapan itu tidak sepenuhnya benar.

Baca Juga: 10 Kebiasaan Harian yang Membuat Anda Tak Mudah Goyah: Mental Kuat itu Dibangun!

Setelah lebih dari tujuh dekade hidup dan tiga puluh tahun menghabiskan waktu sebagai pendidik, ia menyadari satu hal penting: otak manusia tidak harus melemah hanya karena usia bertambah.

Baginya, pertanyaan yang lebih tepat bukanlah “apakah seseorang bisa tetap tajam?”, melainkan “apa yang dilakukan untuk menjaga pikiran tetap aktif?”.

Selama bertahun-tahun, Una mengamati rekan-rekan sebayanya serta mengamati perubahan dirinya sendiri.

Baca Juga: Sebelum Masuk Fase Burnout, Ini 8 Langkah Kecil yang Bisa Menyelamatkan Kesehatan Mental Anda

Dari pengamatan itu, ia melihat pola yang serupa: orang-orang yang tetap tajam di usia senja memiliki kebiasaan intelektual tertentu yang mereka pertahankan seumur hidup.

Dilansir dari artikel yang dibuatnya di The Vessel, berikut delapan kegiatan intelektual yang terus ia lihat berperan besar menjaga ketajaman mental seseorang.

1. Mereka Terus Membaca, tapi Bukan Sekadar untuk Pelarian

Setelah pensiun di usia 65, Una Quinn membuat keputusan sadar untuk terus membaca beragam genre—sejarah, sains, filsafat, hingga esai kontemporer.

Bukan karena kewajiban, melainkan karena ia ingin otaknya terus mendapat tantangan. Baru-baru ini ia menyelesaikan buku tentang fisika kuantum.

Banyak bagian yang sulit dipahami, tetapi justru proses “bergulat” dengan konsep rumit itulah yang membuat otaknya bekerja lebih keras.

Penelitian juga menunjukkan bahwa kebiasaan membaca teratur berkaitan dengan fungsi kognitif yang lebih kuat di usia tua.

Ini bukan hanya soal membaca, tetapi soal menjelajahi ide baru, memahami argumen kompleks, dan membuka diri pada perspektif yang berbeda.

Bagi Una, membaca adalah bentuk “olahraga mental” yang tidak bisa ditinggalkan.

2. Mereka Mempelajari Keterampilan Baru Meski Terasa Canggung

Di usia 63 tahun, Una memberanikan diri mengikuti kelas tari. Saat itu, ia dikelilingi peserta yang jauh lebih muda, dan ia merasa konyol saat mencoba mengingat koreografi.

Namun justru perasaan canggung itulah yang menjadi tanda bahwa otaknya sedang membangun jalur saraf baru.

Dari pengamatannya, orang yang tetap tajam adalah mereka yang mau mempelajari sesuatu yang benar-benar baru.

Seorang tetangganya belajar pertukangan di usia 60-an. Teman relawan literasi Una mulai belajar bahasa Spanyol di usia 68. Kakaknya kembali memainkan piano setelah vakum 50 tahun.

Kuncinya bukan kesempurnaan, tetapi keberanian untuk menjadi pemula berulang kali.

Setiap kali seseorang belajar hal baru yang berada jauh di luar zona nyamannya, cadangan kognitif bertambah, menjaga otak tetap kuat selama bertahun-tahun.

3. Mereka Aktif dalam Percakapan yang Mendalam

Klub buku Una bukan sekadar tempat membahas sastra. Anggotanya sering berdiskusi tentang ide, isu terkini, dan pandangan hidup.

Percakapan semacam itu mengharuskan seseorang mendengarkan, merespons, serta menyusun argumen dengan jelas—semua itu merupakan latihan kognitif.

Sebaliknya, orang yang jarang berdialog atau menghabiskan waktu di dunia maya tanpa interaksi bermakna cenderung mengalami penyempitan perspektif.

Otak membutuhkan “gesekan” dari pikiran orang lain untuk tetap fleksibel.
Bagi Una, percakapan mendalam adalah salah satu bentuk stimulasi intelektual paling alami dan paling efektif.

4. Mereka Mempertahankan Rasa Ingin Tahu yang Tulus Tentang Dunia

Selama hidupnya, Una bertemu banyak orang lanjut usia. Yang menarik, bukan usia yang membedakan ketajaman pikiran mereka, tetapi rasa ingin tahu.

Ada yang berusia tujuh puluh tahun namun merasa sudah tahu segalanya. Ada pula yang berusia delapan puluh tahun namun tetap bertanya “mengapa?” dan “bagaimana jika?”.

Rasa ingin tahu bukanlah sesuatu yang hilang karena umur, tetapi sesuatu yang hilang jika tidak dipelihara.

Orang yang mempertahankan vitalitas intelektual adalah mereka yang selalu penasaran, yang melihat dunia sebagai sesuatu yang masih layak dieksplorasi.

Menurut Una, melawan rasa puas diri adalah salah satu keputusan paling penting bagi kesehatan mental jangka panjang.

5. Mereka Menulis atau Membuat Jurnal untuk Memproses Pikiran Mereka

Una mulai menulis blog setelah pensiun. Ia tidak menyadari saat itu bahwa aktivitas tersebut membantu mempertajam cara berpikir.

Menulis memaksa seseorang untuk menyusun ide, memilih kata, dan menjelaskan pendapat dengan jelas.

Sebagian teman Una rutin membuat jurnal selama puluhan tahun, bukan untuk dikenang generasi berikutnya, tetapi karena menulis membantu mereka memahami diri sendiri.

Menulis adalah bentuk refleksi mendalam. Seperti dikatakan Rudá Iandê dalam bukunya Tertawa Menghadapi Kekacauan, manusia memiliki hak dan tanggung jawab untuk mengeksplorasi diri.

Menurut Una, menuangkan pengalaman ke dalam kata-kata adalah cara efektif untuk mengenal pikiran sendiri dan menjaga ketajaman mental.

6. Mereka Rutin Memecahkan Teka-Teki atau Menyelesaikan Masalah

Ibu Una dulu menghabiskan pagi dengan teka-teki silang dan tetap tajam hingga akhir hayatnya. Kini Una mulai mengikuti kebiasaan yang sama: ia mencoba teka-teki silang hari Minggu, meski tidak selalu selesai.

Teka-teki, sudoku, catur, bridge, hingga puzzle logika adalah bentuk stimulasi mental. Mereka melatih otak dalam memori, fokus, dan kemampuan berpikir analitis. Bahkan kegiatan sehari-hari bisa menjadi latihan kognitif.

Teman Una yang hobi memasak menjadikan dapurnya sebagai “laboratorium” percobaan. Teman lainnya memperlakukan kebun sebagai teka-teki berkelanjutan.

Intinya: otak tetap tajam ketika seseorang terus berlatih memecahkan masalah.

7. Mereka Mengajar atau Membimbing Orang Lain

Una menghabiskan banyak waktu sebagai relawan literasi. Ia menemukan bahwa mengajar adalah salah satu cara paling efektif menjaga pemikiran tetap jernih.

Mengajar mengharuskan seseorang menata informasi, memahami konsep secara mendalam, dan menjelaskan dengan cara yang sederhana.

Para pensiunan yang membimbing generasi muda pun mendapatkan manfaat serupa. Bahkan kakek-nenek yang mengajari cucu mereka membuat kue atau memperbaiki barang sederhana juga melatih pikirannya.

Dalam proses mengajar, seseorang sering menemukan celah dalam pemahamannya dan sekaligus mempelajari hal baru. Otak pun terus terstimulasi.

8. Mereka Merangkul Teknologi, Bukan Menolaknya

Belajar teknologi baru di usia senja bukanlah sesuatu yang mudah, dan Una mengakui hal tersebut.

Setiap kali merasa memahami sesuatu, selalu ada aplikasi atau perangkat baru yang muncul. Namun ia tetap belajar karena menolak teknologi berarti menutup diri dari dunia modern.

Orang yang tetap aktif secara mental biasanya tidak takut mencoba hal baru: menggunakan aplikasi pesan, panggilan video, mempelajari media sosial, atau mencoba perangkat digital.

Mereka tidak harus menjadi ahli—yang penting adalah kemauan untuk belajar dan beradaptasi.

Menurut Una, literasi digital dasar sudah cukup sebagai “vitamin” bagi otak di era teknologi.

Ketajaman mental bukan hadiah dari keberuntungan atau gen. Ketajaman mental adalah hasil dari kebiasaan dan pilihan yang dilakukan setiap hari.

Orang-orang yang tetap tajam hingga usia lanjut—seperti yang diamati Una Quinn—punya satu kesamaan: mereka tidak berhenti belajar, tidak berhenti berbicara, tidak berhenti penasaran, dan tidak berhenti menantang diri sendiri.

Otak, seperti tubuh, membutuhkan latihan. Dan kabar baiknya, banyak dari latihan tersebut justru terasa menyenangkan.

 
 
 
EDITOR: Setyo Adi Nugroho