JawaPos.com - Toxic friendship atau pertemanan yang tidak sehat menjadi isu yang sering dialami banyak orang tanpa mereka sadari. Hubungan yang awalnya terasa dekat bisa berubah menjadi beban emosional ketika teman mulai merendahkan, membandingkan, hingga membuat kita merasa tidak berharga.
Melansir dari laman Halodoc, toxic friendship bukan hanya membuat stres, tetapi juga bisa menurunkan rasa percaya diri hingga memengaruhi kesehatan mental. Pentingnya langkah-langkah yang harus diambil agar hubungan tidak semakin merugikan diri sendiri.
Cara Mengatasi Toxic Friendship
1. Kenali tanda-tanda toxic friendship
Sejak awal hal ini harus dilakukan agar kamu tidak terlambat menyadari dampak buruknya. Tanda ini bisa berupa teman yang sulit dipercaya, sering merendahkan, hingga tidak menghargai batasan personal.
2. Berani membatasi interaksi dengan teman yang toxic
Misalnya dengan mengurangi pertemuan atau membatasi kontak di media sosial. Menjaga jarak akan membantu kamu memiliki ruang emosional untuk pulih.
3. Komunikasikan perasaan dengan jujur tanpa menyalahkan
Gunakan kalimat seperti "aku merasa…" agar tidak menimbulkan konflik baru. Berbicara secara terbuka adalah langkah awal memperbaiki hubungan.
4. Praktikkan self-love dan mindfulness
Langkah ini harus diambil supaya kamu lebih sadar dengan kebutuhan diri sendiri. Dengan mencintai diri dan melatih kesadaran, kamu bisa lebih kuat menolak perlakuan yang merugikan.
5. Cari dukungan dari orang terdekat atau profesional
Jika beban emosional terasa berat. Berbicara dengan keluarga, sahabat lain, atau psikolog akan membuatmu lebih percaya diri dalam mengambil keputusan.
Menghadapi toxic friendship bukanlah perkara mudah karena seringkali kita terjebak dalam ikatan emosional yang membuat ragu untuk menjauh. Namun, penting diingat bahwa menjauh dari hubungan yang tidak sehat bukan kegagalan, melainkan keberanian untuk menjaga diri.
Universitas Negeri Surabaya pada lamannya menegaskan bahwa melepaskan teman yang toxic adalah bentuk penghargaan terhadap kesehatan mental kita. Hal ini justru menjadi langkah bijak agar kita bisa berkembang di lingkungan yang lebih suportif.
Dengan memilih pertemanan yang sehat, kita bisa lebih bahagia, produktif, dan merasa dihargai apa adanya. Menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik, dan salah satu caranya adalah berani berkata "cukup" pada toxic friendship.