JawaPos.com - Ketika kita sudah merasa terkuras secara emosional maka tubuh akan mudah lelah dan suasana hati pun tidak stabil. Tapi semua orang tidak memahami akan hal ini.
Layaknya manusia memiliki keterbatasan baik dari segi fisik maupun emosional, tapi sayangnya kita selalu memaksakan diri untuk bersikap baik-baik saja.
Dilansir dari laman Hack Spirit pada Rabu (26/02) inilah 8 tanda peringatan keras dari seseorang yang sudah terkuras secara emosional dan butuh pertolongan :
1. Kelelahan terus-menerus
Merasa lelah setelah hari yang panjang adalah hal yang normal. Tetapi ketika kelelahan menjadi konstan, itu bisa menjadi tanda sesuatu yang lebih dalam.
Kelelahan emosional sering muncul secara fisik, menguras energi dan membuat tugas-tugas sederhana sekalipun terasa luar biasa. Kamu mungkin bangun dengan perasaan sama lelahnya seperti ketika pergi tidur atau berjuang untuk fokus sepanjang hari.
Psikolog mengatakan bahwa ketika seseorang terkuras secara emosional, tubuh mereka menandakan perlunya istirahat yang tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara mental dan emosional.
2. Merasa mati rasa secara emosional
Percakapan terasa membosankan, bahkan dengan orang yang dicintai. Rasanya seperti emosi p telah mati untuk melindungi diri dari sesuatu yang bahkan tidak sepenuhnya disadari.
Psikolog menyebut ini mati rasa emosional, dan itu adalah tanda umum dari kelelahan emosional. Jika sudah merasa terputus dari emosi sendiri, mungkin sudah waktunya untuk memeriksa diri.
3. Mudah marah
Ketika seseorang terkuras secara emosional, bahkan ketidaknyamanan terkecil pun dapat terasa tak tertahankan. Penundaan kecil, komentar yang sedikit tidak masuk akal, atau perubahan rencana dapat memicu reaksi amarah.
Hal ini terjadi karena kelelahan emosional mengurangi kemampuan kita untuk mengatur emosi. Korteks prefrontal, yakni bagian otak yang bertanggung jawab atas pemikiran rasional menjadi kurang aktif ketika kita kewalahan.
Sementara itu, amigdala yang memproses stres dan ketakutan, menjadi lebih reaktif. Ketidakseimbangan ini membuat orang lebih sensitif terhadap stresor yang biasanya mereka abaikan.
4. Kesulitan dalam membuat keputusan
Bahkan pilihan sederhana seperti memilih untuk menu makan malam atau memilih email yang harus ditanggapi terlebih dahulu, dapat terasa luar biasa ketika terkuras secara emosional.
Ini terjadi karena pengambilan keputusan membutuhkan energi mental, dan ketika energi itu habis, bahkan keputusan terkecil pun bisa terasa terlalu banyak.
Otak berjuang untuk menimbang pilihan, yang menyebabkan keragu-raguan, penundaan, atau bahkan penghindaran sama sekali.
Psikolog menyebut ini sebagai kelelahan keputusan. Ketika seseorang mencapai titik ini, itu sering kali merupakan tanda bahwa mereka telah membawa terlalu banyak dan terlalu lama beban emosional.
5. Menarik diri dari orang lain
Ketika seseorang terkuras secara emosional, mereka sering mulai menarik diri dari orang-orang di sekitar. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena tidak memiliki energi untuk terlibat.
Percakapan terasa melelahkan, teks tidak dijawab, serta undangan ditolak. Bukannya mereka ingin sendirian, tetapi berada di sekitar orang lain terasa terlalu berlebihan.
Jauh di lubuk hati, mereka mungkin berharap bahwa seseorang memerhatikan ketidakhadiran. Hubungan manusia adalah salah satu cara paling ampuh untuk menyembuhkan kelelahan emosional.
Tetapi ketika seseorang sedang berjuang, mereka mungkin tidak tahu bagaimana cara meminta dukungan.
6. Merasa tidak dihargai
Ada jenis kelelahan tertentu yang berasal dari memberi begitu banyak dan merasa seperti itu tidak pernah cukup. Ketika seseorang terkuras secara emosional, mereka mungkin mulai merasa tidak diperhatikan, diremehkan, atau bahkan tidak terlihat.
Mereka muncul untuk orang lain, melakukan apa yang diharapkan, mendorong melalui hari-hari yang sulit tetapi pada titik tertentu, mulai bertanya-tanya apakah ada orang yang melihat upaya itu.
Bukannya mereka membutuhkan validasi terus-menerus, tetapi ketika apresiasi hilang terlalu lama, itu mulai membuat mereka lelah.
Psikolog mengatakan bahwa merasa tidak dihargai dapat menjadi tanda peringatan kelelahan emosional karena itu menandakan kebutuhan yang lebih dalam, yakni kebutuhan untuk merasa dilihat, dihargai, dan didukung.
7. Suka mood swing
Untuk sesaat, semuanya tampak baik-baik saja. Selanjutnya, frustrasi, kesedihan, atau bahkan air mata tiba-tiba muncul entah dari mana. Ketika seseorang terkuras secara emosional, emosi mereka dapat tidak dapat diprediksi dan sulit dikendalikan.
Ini terjadi karena pikiran sudah membawa terlalu banyak. Ada sedikit energi yang tersisa untuk mengatur emosi, sehingga mereka menyebar dengan cara yang tidak terduga.
Ketidaknyamanan kecil dapat memicu reaksi yang luar biasa, atau kata-kata yang baik mungkin tiba-tiba membawa air mata. Ini bukan tentang menjadi terlalu emosional, tapi kelelahan secara emosional.
Ketika perubahan suasana hati menjadi sering terjadi, itu sering kali merupakan tanda bahwa orang tersebut membutuhkan istirahat, perawatan diri, atau bahkan hanya ruang untuk memproses sesuatu yang mereka rasakan tanpa menghakimi.
8. Berjuang untuk menemukan makna
Ketika kelelahan emosional terjadi, bahkan hal-hal yang pernah terasa penting dapat mulai kehilangan maknanya. Tujuan terasa tidak ada gunanya, gairah memudar, dan hidup mulai terasa seperti mengalami gerakan.
Ini bukan kurangnya motivasi, tapi menjadi tanda bahwa dunia batin seseorang telah habis. Pikiran dan hati sedang mencari sesuatu yang lebih dalam.
Tanpa makna, semuanya terasa lebih berat. Dan ketika seseorang mencapai titik ini, yang paling mereka butuhkan bukanlah hanya motivasi tapi terhubung kembali dengan sesuatu yang benar-benar penting bagi mereka.
Mengutip dari laman RS Radjiman Wediodiningrat pada Rabu (26/02) kelelahan secara emosional ini sering disebut dengan istilah burnout.
Kebanyakan burnout diasosiasikan sebagai kelelahan di tempat kerja. Nyatanya, hal ini bisa terjadi di mana saja misalnya di lingkungan rumah atau sekolah.
Oleh karena itu, jika burnout ini sudah berkepanjangan maka sudah saatnya kita perlu bantuan baik dari orang sekitar maupun profesional.