← Beranda

Orang yang Tumbuh Tanpa Kasih Sayang Ibu Cenderung Punya 8 Kepribadian Ini Menurut Psikologi

Mohammad Maulana IqbalSenin, 10 Februari 2025 | 05.43 WIB
Kepribadian orang tanpa kasih sayang ibu menurut psikologi

JawaPos.com – Kasih sayang ibu memiliki peran penting dalam perkembangan emosional dan psikologi seseorang.

Tanpa kehangatan dan perhatian sosok yang melahirkannya, individu bisa mengalami berbagai dampak psikologis yang membentuk kepribadian mereka di masa dewasa.

Dilansir dari geediting.com pada Minggu (9/2), diterangkan bahwa terdapat delapan kepribadian orang yang tumbuh tanpa kasih sayang ibu menurut psikologi.

1. Perjuangan dengan harga diri

Tumbuh tanpa sosok ibu yang penuh kasih sayang sering meninggalkan bekas luka yang dalam pada konsep harga diri seseorang. Mereka yang mengalami hal ini kerap mempertanyakan nilai diri mereka sendiri, seolah ada yang kurang atau salah dalam diri mereka.

Perasaan tidak cukup berharga ini bisa terus mengakar hingga dewasa, mempengaruhi berbagai aspek kehidupan dari karir hingga hubungan personal. Meski telah mencapai berbagai prestasi dan pencapaian, mereka tetap kesulitan untuk sepenuhnya mengakui dan menghargai kesuksesan mereka sendiri.

2. Kesulitan mempercayai orang lain

Ketika figur yang seharusnya menjadi sumber cinta dan perlindungan utama tidak hadir secara emosional, kepercayaan terhadap orang lain menjadi sesuatu yang sangat sulit dibangun. Pengalaman ini menciptakan tembok pertahanan yang tinggi, di mana seseorang cenderung menjaga jarak dan berhati-hati dalam membuka diri.

Kemandirian yang berlebihan menjadi cara mereka melindungi diri dari kemungkinan kekecewaan. Pola ini sering kali menghalangi terbentuknya hubungan yang dalam dan bermakna dengan orang lain.

3. Kemandirian yang ekstrem

Ketika seorang anak tidak memiliki figur ibu yang bisa diandalkan, mereka terpaksa belajar untuk mengatasi segala sesuatu sendiri sejak dini. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang mengalami kelalaian emosional sering mengembangkan kemandirian yang ekstrem sebagai mekanisme pertahanan diri.

Meski kemandirian bisa menjadi kekuatan, level ekstrem dari sifat ini justru bisa menjadi penghalang dalam membangun hubungan yang sehat. Mereka sering merasa bersalah atau lemah ketika harus meminta bantuan orang lain.

4. Tantangan mengatur emosi

Tanpa panduan dari sosok ibu yang menyayangi, seseorang bisa mengalami kesulitan dalam memahami dan mengelola emosinya sendiri. Mereka bisa berayun antara memendam perasaan terlalu dalam atau justru merasa kewalahan oleh emosi yang membanjiri.

Regulasi emosi yang seharusnya dipelajari melalui interaksi dengan pengasuh utama menjadi sesuatu yang harus mereka temukan sendiri cara penanganannya. Meski banyak yang akhirnya menemukan cara untuk mengatasi, pemahaman dan ekspresi emosi yang sehat tetap menjadi tantangan seumur hidup.

5. Ketakutan akan ditinggalkan

Ketiadaan kasih ibu sering meninggalkan luka berupa ketakutan mendalam akan ditinggalkan orang lain. Ketakutan ini bisa muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari mendorong orang menjauh sebelum mereka sempat pergi, hingga terlalu bergantung karena takut kehilangan.

Mereka sering kali memiliki kerinduan mendalam akan rasa aman dalam hubungan, namun sulit mempercayai bahwa seseorang akan bertahan bersama mereka. Bayangan akan ditinggalkan ini bisa menjadi penghalang besar dalam membangun hubungan yang sehat dan berkelanjutan.

6. Hambatan menerima kasih sayang

Mereka yang tumbuh tanpa kasih sayang ibu sering mengalami kesulitan untuk menerima dan memercayai kasih sayang yang diberikan orang lain. Pujian dan perhatian tulus sering ditanggapi dengan skeptis atau bahkan penolakan, seolah ada yang tidak wajar ketika seseorang menunjukkan kepedulian.

Meski dalam hati merindukan kedekatan dan kasih sayang, pengalaman masa lalu membuat mereka kesulitan untuk benar-benar membuka diri. Ironisnya, semakin dalam kerinduan akan kasih sayang, semakin sulit pula untuk menerimanya ketika akhirnya datang.

7. Analisis berlebihan dalam hubungan

Orang yang tumbuh tanpa kasih ibu cenderung terlalu sensitif terhadap setiap perubahan kecil dalam hubungan mereka. Mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam menganalisis makna di balik pesan singkat yang terlambat dibalas atau perubahan nada suara seseorang.

Kecenderungan untuk mengawasi setiap detail ini sebenarnya merupakan mekanisme pertahanan yang terbentuk dari pengalaman masa kecil. Meski hal ini dilakukan untuk melindungi diri, pada akhirnya justru menguras energi dan mengganggu kualitas hubungan mereka.

8. Kerinduan akan kasih yang tak pernah ada

Di balik semua pertahanan diri dan kemandirian yang mereka bangun, selalu ada kerinduan mendalam akan kasih sayang yang tak pernah mereka dapatkan. Kerinduan ini bisa muncul dalam berbagai bentuk, seperti mencari hubungan yang dalam atau keinginan kuat untuk dipahami sepenuhnya.

Bahkan ketika mereka telah membangun kehidupan yang mapan dan dikelilingi orang-orang yang peduli, perasaan kehilangan itu tetap ada. Kerinduan akan kasih ibu ini seperti luka yang meski telah sembuh, tetap meninggalkan bekas yang tak pernah benar-benar hilang.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho