← Beranda
Fakta Psikologi Tentang Kebiasaan Mengorbankan Diri Demi Orang Lain, Apakah Ini Tanda Kebaikan atau Beban Emosional?
Latifah Tul JannahSelasa, 28 Januari 2025 | 17.31 WIB
Ilustrasi orang yang berkorban demi hubungan./azerbaijan_stockers./Freepik.

JawaPos.com - Pernahkah Anda bertemu seseorang yang selalu mengutamakan kepentingan orang lain di atas dirinya sendiri?

Fenomena ini sering kali dianggap sebagai bentuk empati atau altruisme. Namun, sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Personality and Individual Differences mengungkapkan perspektif baru, yakni konsep others-centeredness.

Dikutip JawaPos.com dari www.psychologytoday.com (28/01) Others-centeredness adalah kecenderungan untuk mengutamakan kepentingan orang lain berdasarkan cara berpikir yang khusus, di mana individu memandang bahwa kepentingan orang lain sama pentingnya dengan kepentingan diri sendiri.

Lebih dari Sekadar Empati: Memahami Others-Centeredness

Beberapa orang selalu mengutamakan kepentingan orang lain. Mengapa mereka bisa begitu? Konsep yang disebut others-centeredness memberi pemahaman baru tentang perilaku ini.

Berbeda dengan sifat-sifat lain seperti keramahan, altruisme, atau empati, others-centeredness bukan hanya soal peduli pada orang lain, tetapi juga tentang keseimbangan antara kepentingan diri sendiri dan orang lain.

Salah satu perbedaan utama adalah bagaimana seseorang yang others-centeredness tidak hanya mengutamakan orang lain demi hubungan yang baik, tetapi juga merasa bahwa hubungan itu sendiri memiliki nilai yang lebih besar daripada sekadar kepentingan pribadi.

Mereka lebih memilih untuk memberi kepada orang lain karena menyadari bahwa kebahagiaan bersama lebih penting daripada keuntungan pribadi semata.

Sebagai contoh, dibandingkan dengan orang yang cenderung berlebihan dalam mengorbankan diri demi orang lain (unmitigated communion), orang dengan others-centeredness merasa seimbang.

Mereka tidak melakukannya karena rasa ketergantungan emosional atau rasa khawatir, tetapi karena mereka menghargai hubungan interpersonal yang lebih dalam.

Bukti Nyata dalam Angka

Sebuah eksperimen sederhana menunjukkan bagaimana banyak orang cenderung bertindak dengan others-centeredness.

Dalam eksperimen ini, peserta diminta untuk membagi lima lembar uang dua dolar antara diri mereka sendiri dan orang lain.

Hasilnya menunjukkan bahwa 32% peserta memilih untuk memberikan lebih banyak uang kepada orang lain (tiga lembar), sementara 42% memilih untuk memberi lebih banyak untuk diri mereka sendiri.

Meski eksperimen ini hanya sekali, angka ini memberi gambaran tentang seberapa banyak orang cenderung mendahulukan orang lain dalam situasi tertentu.

Perspektif Kritis: Solusi atau Risiko?

Tentu saja, others-centeredness tidak lepas dari tantangan. Dalam masyarakat yang semakin menghargai pencapaian individu, mengutamakan orang lain bisa dianggap sebagai kelemahan.

Ada kekhawatiran bahwa perilaku ini bisa dimanfaatkan oleh orang lain tanpa menghargai pengorbanan yang telah dilakukan.

Namun, dalam masyarakat yang semakin terpecah, others-centeredness juga menawarkan solusi yang positif.

Baca Juga: Keberuntungan Besar! 6 Zodiak Ini Akan Meninggalkan Masa Sulit dan Menuju Kesuksesan pada 28 Januari 2025

Konsep ini mengingatkan kita bahwa hubungan bukan hanya soal keuntungan materi, tetapi juga tentang membangun ikatan emosional yang lebih kuat.

Meskipun tidak selalu cocok untuk semua situasi, others-centeredness dapat menjadi dasar untuk menciptakan masyarakat yang lebih peduli dan kooperatif.

Dengan begitu, apakah Anda termasuk orang yang memilih untuk mendahulukan orang lain, atau lebih sering mengutamakan kepentingan diri sendiri? Sebuah pertanyaan yang patut direnungkan di tengah dunia yang semakin kompetitif ini.

 

EDITOR: Kuswandi