← Beranda

Hati-hati! Begini Tanda-tanda Seseorang yang Sebenarnya Bukan Orang Baik Menurut Psikologi

Pravita Windi Anatasa NitriaMinggu, 5 Januari 2025 | 00.24 WIB
ilustrasi seorang manipulator. (Freepik)

 

JawaPos.com - Terdapat perbedaan yang jelas antara seseorang yang terlihat baik dan seseorang yang benar-benar baik. Psikologi memungkinkan kita guna menggali lebih dalam perilaku seseorang dan mengungkapkan karakter sejati mereka. Terkadang, apa yang kita temukan mungkin tidak selalu menyenangkan.

Berada di sekitar orang yang tampaknya baik tetapi sesungguhnya tidak baik bisa sangat menguras energi kita. Merangkum geediting.com, berikut ini beberapa tanda seseorang yang sebenarnya bukan orang baik menurut Psikologi dan perlu diwaspadai.

1. Kurang empati

Kita semua memiliki momen mementingkan diri sendiri, namun ada perbedaan antara keegoisan sesekali dan kurangnya empati yang konsisten. Psikologi mengajarkan bahwa empati kemampuan untuk memahami perasaan orang lain menjadi ciri orang baik. Empati memungkinkan kita terhubung lebih dalam dengan orang lain, merasakan kebahagiaan dan kesedihan mereka.

Jika seseorang terus menunjukkan kurangnya empati, ini perlu diperhatikan. Bukan soal egois sesekali, tetapi kebiasaan mengabaikan perasaan orang lain dan tidak responsif terhadap kebutuhan emosional mereka. Kebiasaan ini bisa menjadi tanda bahwa seseorang tidak sebaik yang terlihat, meski kejadian sekali-sekali bisa dimaklumi.

2. Tidak jujur

Kepercayaan merupakan fondasi dari setiap hubungan, baik itu persahabatan, asmara, atau profesional, dan kejujuran adalah dasar dari kepercayaan tersebut. Ketika seseorang terus berbohong, itu tidak hanya merusak kepercayaan, tetapi juga menyebabkan keraguan terhadap karakter mereka.

Penipuan bisa berasal dari kebohongan kecil hingga penipuan serius, baik tentang hal penting maupun hal sepele. Sebuah studi dalam Journal of Personalitu and Social Psychology menemukan bahwa rata-rata orang berbohong satu atau dua kali sehari. Namun, kebiasaan berbohong bisa menunjukkan kelemahan karakter yang lebih dalam.

Apabila seseorang terus menerus memutarbalikkan kebenaran, maka itu bisa menjadi tanda bahwa mereka tidak sebaik yang terlihat. Walaupun kebohongan sesekali bukanlah indikasi kejahatan, tetapi pola ketidakjujuran yang berulang perlu diwaspadai.

3. Tidak bisa diandalkan

Kita semua pernah mengecewakan orang lain sebab hal-hal yang tidak berjalan sesuai rencana. Sayangnya, jika seseorang terus-menerus gagal menepati janji, itu bisa menandakan masalah lebih dalam. Keandalan merupakan sifat penting dalam karakter yang mencakup kemampuan guna menepati janji dan memenuhi tanggung jawab.

Ketidakandalan bisa terlihat dalam bentuk keterlambatan, melewatkan tenggat waktu, atau tidak menyelesaikan tugas. Jika seseorang sering tidak dapat diandalkan, itu bisa menunjukkan kurangnya rasa hormat terhadap waktu dan usaha orang lain yang mungkin menandakan mereka tidak sebaik yang terlihat. Kesalahan sesekali bisa dimaklumi, tapi pola ketidakandalan yang berulang perlu diperhatikan sebagai tanda bahaya.

4. Manipulatif

Manipulasi adalah tanda jelas bahwa seseorang mungkin tidak sebaik yang terlihat. Ini melibatkan upaya mengendalikan orang lain bagi keuntungan pribadi, sering tanpa mempedulikan perasaan mereka. Orang manipulatif bisa memakai taktik seperti membuat orang merasa bersalah, gaslighting, atau berpura-pura menjadi korban demi mendapatkan apa yang diharapkan.

Mereka sering memutarbalikkan kata-kata atau meragukan persepsi orang lain. Psikologi menunjukkan bahwa perilaku manipulatif biasanya berasal dari keinginan mengontrol yang dapat merusak hubungan dan memicu kebingungan. Meskipun kita semua pernah mencoba mempengaruhi orang, ada perbedaan antara membujuk dan memanipulasi.

5. Tidak ada rasa penyesalan

Seseorang yang terus-menerus memperlihatkan kurangnya penyesalan atas tindakannya mungkin tidak sebaik yang terlihat. Mereka bisa mengabaikan kesalahan, menyalahkan orang lain, atau bahkan tampak bangga dengan kesalahan tersebut.

Psikologi menunjukkan bahwa kurangnya rasa bersalah bisa menandakan masalah lebih dalam, seperti ketidakpedulian terhadap perasaan orang lain dan ketidakmampuan bertanggung jawab. Walau kita semua pernah sulit mengakui kesalahan, pola menghindari permintaan maaf secara konsisten bisa menjadi peringatan.

6. Sering mengkritik orang lain

Kritik yang membangun bisa membantu kita berkembang, namun ada perbedaan besar antara umpan balik yang konstruktif dan kritik yang terus-menerus tanpa alasan jelas. Misalnya, ada seorang selalu mengkritik orang lain, baik itu mengenai penampilan, pilihan hidup, atau ide mereka.

Kritiknya terasa hadir dalam setiap percakapan. Psikologi menyatakan bahwa orang yang sering mengkritik mungkin sedang memproyeksikan rasa tidak amannya. Itu bisa menjadi cara mereka melindungi diri dari kekurangan mereka sendiri.

Jika seseorang terus-menerus mengkritik tanpa alasan, itu bisa menunjukkan bahwa mereka tidak sebaik yang terlihat. Ingat, kita semua pernah menghakimi, namun pola kritik yang berulang adalah yang perlu diwaspadai.

7. Mengabaikan batasan

Menghormati batasan pribadi adalah dasar dari hubungan yang sehat, melibatkan pemahaman dan penghormatan terhadap pedoman yang ditetapkan orang lain. Jika seseorang terus mengabaikan batasanmu, itu bisa menunjukkan kurangnya rasa hormat terhadap ruang pribadi dan otonomimu, seperti gangguan fisik atau invasi emosional.

Psikologi mengatakan bahwa orang yang sering melanggar batasan mungkin kurang empati atau merasa berhak. Walau kita semua kadang melanggar batasan, apabila ini menjadi pola yang konsisten, itu bisa menunjukkan bahwa orang tersebut tidak sebaik yang terlihat. Pertimbangkan ini bersama perilaku lainnya sebelum menarik kesimpulan.

Baca Juga: Bak Drakor, 5 Shio Ketiban Rezeki Segunung Mulai Februari 2025, Auto Hoki Jadi Pengusaha Muda Dadakan!

8. Sering marah dan agresif

Kemarahan merupakan emosi yang wajar, namun cara kita mengelola dan mengekspresikannya yang membedakan. Sering marah dan bersikap agresif dapat menunjukkan bahwa seseorang tidak sebaik yang tampak. Psikologi menjelaskan bahwa kemarahan yang tak terkendali bisa menandakan masalah mendalam seperti stres atau gangguan kepribadian.

Kondisi ini mampu merusak hubungan dan menciptakan suasana yang tidak nyaman. Jika seseorang sering marah atau agresif, bahkan dalam situasi kecil, itu perlu diperhatikan. Ini bukan soal kemarahan sesekali kita semua bisa kehilangan kesabaran. Sayangnya, pola amarah yang konsisten bisa menjadi tanda bahaya.

 

EDITOR: Kuswandi