JawaPos.com - Sejak dulu, manusia tertarik pada kisah-kisah sedih, dari drama klasik hingga film epik. Walaupun hiburan seharusnya membuat kita bahagia, kita justru menikmati cerita yang penuh penderitaan.
Fenomena ini sering disebut paradoks sebab kita memilih merasakan emosi negatif seperti kesedihan dan kehilangan.
Para psikolog berpendapat bahwa cerita sedih memberi kita kesempatan untuk merasakan emosi tersebut dengan aman, tanpa harus menghadapi trauma atau konsekuensi nyata, menjadikannya ruang aman dalam mengeksplorasi perasaan yang kompleks.
Merangkum verywellmind.com, berikut beberapa alasan seseorang merasa sedih ketika membaca dan menonton dilm yang mengharukan.
1. Keterkaitan emosi dengan kehidupan nyata
Saat kita menikmati cerita fiksi, kita cenderung merasakan emosi. Meski kita sadar bahwa cerita tersebut tidak nyata, reaksi emosional kita tetap muncul secara otomatis. Hal ini terjadi karena ketika kita terhubung dengan sebuah cerita terutama jika kita merasa terlibat atau terhanyut dalam alur ceritanya emosi yang terkandung di dalamnya akan bergema dengan cara yang membuat kita merasa cerita itu seakan nyata.
Menariknya, sebuah studi menunjukkan bahwa perasaan akan realisme ini bisa menerangkan mengapa kita menikmati film-film sedih. Penelitian tersebut menemukan bahwa setelah menonton film tragis Angel Baby (1995), peserta yang merasakan kesedihan lebih dalam menilai film tersebut lebih realistis dan menjadi lebih terlibat dalam cerita.
2. Mengalami kesedihan tanpa rasa cemas
Apabila kita merasa terhubung dengan cerita sedih karena realisme, alasan lain mengapa kita menikmatinya adalah sebab kita bisa merasakan kesedihan tanpa kecemasan. Penelitian menunjukkan bahwa respons emosional terhadap cerita sedih mirip dengan saat kita mengingat tragedi pribadi.
Sayangnya, ada perbedaan besar, di mana kita merasakan kecemasan lebih besar saat mengingat tragedi nyata dibandingkan saat menonton cerita fiksi yang sedih. Hal ini mungkin menjadi penjelasan mengapa kita bisa menikmati cerita tragis.
Ketika tragedi terjadi dalam kehidupan nyata, kita merasakan kecemasan karena dampaknya akan terus berlanjut. Sebaliknya, emosi yang kita rasakan dalam cerita fiksi tidak membawa konsekuensi jangka panjang sesudah kita selesai mengalaminya.
3. Cerita sedih bisa membuatmu merasa bersyukur
Salah satu alasan mengapa kita menikmati cerita sedih, yakni sebab mereka membuat kita merasa lebih bersyukur, meskipun tidak selalu dengan cara yang kita bayangkan. Dalam sebuah penelitian, peserta yang merasakan kesedihan lebih dalam saat menonton film Atonement (2007) melaporkan bahwa mereka merasa lebih bahagia dalam hidup.
Sayangnya, hanya jika mereka merenungkan hubungan dekat mereka selama menonton film tersebut. Peneliti juga mengeksplorasi apakah membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan karakter tragis dalam film bisa meningkatkan kebahagiaan.
Mereka menemukan bahwa pemikiran yang bersifat egois justru tidak berpengaruh pada suasana hati penonton. Sebaliknya, peserta yang merasakan kesedihan terbesar cenderung lebih banyak merenungkan hubungan mereka yang dekat sebagai respons terhadap film tersebut.
4. Membuatmu merenungkan makna hidup
Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa cerita sedih bisa memicu pemikiran yang lebih mendalam, melampaui hubungan pribadi dan menyentuh pertanyaan-pertanyaan eksistensial. Dalam sebuah studi yang menunjukkan klip film tentang tokoh yang menghadapi kematian orang terdekat.
Penelitian tersebut menemukan bahwa kesedihan dan kebahagiaan dapat berjalan beriringan, asalkan penonton juga merasa terhubung dengan cerita tersebut. Para akademisi Mary Beth Oliver dan Anne Bartsch menyebut perasaan tersentuh oleh cerita sedih sebagai penghargaan.
Mereka menyarankan bahwa orang cenderung mencari cerita yang bisa membangkitkan perasaan ini ketika mereka ingin menemukan makna atau kebenaran yang lebih dalam. Mereka mendefinisikan apresiasi sebagai suatu pengalaman yang ditandai dengan persepsi makna yang lebih dalam, perasaan tersentuh, dan dorongan untuk merenungkan pikiran dan perasaan yang timbul dari pengalaman tersebut.
Berdasarkan definisi ini, pengalaman apresiasi itu positif meskipun tidak selalu menyenangkan. Perasaan positif yang muncul berasal dari kemampuan penonton guna menemukan makna dalam cerita dan terus merenungkannya setelah cerita berakhir.
Penelitian menunjukkan bahwa cerita sedih membantu konsumen merenungkan pertanyaan-pertanyaan mendalam, seperti siapa diri kita, apa yang kita hargai, dan apa yang memberi makna dalam hidup, baik secara umum maupun dalam konteks pribadi.
Akibatnya, pengalaman ini mampu memicu pertumbuhan pribadi. Hal ini menunjukkan bahwa orang menyukai cerita sedih karena cerita tersebut memungkinkan mereka untuk merasakan emosi yang lembut dan bermakna, serta mendorong pemikiran reflektif.
Lebih jauh lagi, harapan bahwa cerita sedih akan memunculkan respons yang penuh makna dan emosional mendorong orang untuk terus mencari dan menikmati cerita-cerita sedih, baik lewat film, buku, ataupun media lainnya.