← Beranda

Orang yang Dibesarkan oleh Orang Tua yang Lalai Biasanya Mengembangkan 4 Sifat Ini di Kemudian Hari

KuswandiMinggu, 24 November 2024 | 23.34 WIB
Ilustrasi perempuan yang mengalami pengabaian emosional dari orang tuanya. (Freepik)

 

 

JawaPos.com - Tumbuh dengan orang tua yang lalai dapat meninggalkan jejak emosional mendalam, yang sering kali muncul di masa dewasa. 

Apakah pengabaian itu bersifat emosional, fisik, atau keduanya, kurangnya perhatian dan dukungan selama masa pertumbuhan membentuk cara seseorang melihat diri mereka sendiri, orang lain, dan dunia di sekitar mereka. 

Ini bukan hanya tentang ketiadaan pengasuhan. Ini tentang ketiadaan perasaan benar-benar dilihat, didengar, dan dihargai.

Bagi banyak orang, pengalaman awal ini mengarah pada sifat dan perilaku yang mungkin terasa seperti sifat alamiah, namun sangat terkait dengan pengasuhan mereka.

Jika Anda pernah bertanya-tanya bagaimana pengabaian di masa kecil dapat memengaruhi kepribadian dan kebiasaan seseorang, berikut ini adalah empat sifat umum yang cenderung berkembang di kemudian hari, dikutip dari hackspirit pada Minggu (24/11). 

1) Kesulitan dalam membentuk keterikatan yang aman

Salah satu sifat yang paling umum terlihat pada individu yang dibesarkan oleh orang tua yang lalai, adalah kesulitan dalam membentuk keterikatan yang aman.

Hal ini sering terjadi karena sebagai anak-anak, mereka tidak dapat mengandalkan pengasuh mereka untuk mendapatkan dukungan emosional atau perawatan yang konsisten. 

Akibatnya, mereka dapat mengembangkan gaya kelekatan yang tidak aman, yang dapat bermanifestasi dalam hubungan orang dewasa mereka juga. 

Gaya kelekatan yang tidak aman dapat mengambil berbagai bentuk, seperti:

Kelekatan yang cemas: terus-menerus takut ditinggalkan

Kelekatan menghindar: menghindar dari kedekatan untuk melindungi diri dari potensi terluka.

Orang-orang ini mungkin merasa sulit untuk mempercayai orang lain atau mungkin merasa tidak nyaman dalam hubungan intim. Mereka mungkin juga takut menjadi terlalu bergantung atau sebaliknya, terlalu mandiri.

Memahami gaya kelekatan Anda adalah langkah pertama menuju penyembuhan dan membentuk hubungan yang lebih sehat. Ada banyak sumber daya yang tersedia, termasuk terapi dan buku-buku self-help, yang dapat memandu Anda dalam perjalanan ini.

2) Rasa tanggung jawab yang tinggi

Orang yang dibesarkan oleh orang tua yang lalai sering kali mengembangkan rasa tanggung jawab yang tinggi, terkadang karena kesalahan.

Tumbuh di lingkungan di mana mereka tidak dapat mengandalkan pengasuh mereka, mereka mungkin harus mengurus diri mereka sendiri sejak usia dini.

Hal ini mungkin berarti memasak makanan mereka sendiri, menjaga saudara kandung, atau bahkan mengelola beban emosional yang jauh melampaui usia mereka.

Seiring berjalannya waktu, kemandirian ini dapat berubah menjadi kebiasaan yang mengakar untuk mengambil tanggung jawab yang lebih besar di masa dewasa.

Meskipun sifat ini dapat bermanfaat dalam situasi tertentu, seperti di tempat kerja atau dalam peran kepemimpinan, sifat ini juga dapat membuat mereka kewalahan.

Orang-orang ini mungkin kesulitan untuk meminta bantuan atau merasa bersalah ketika mereka tidak menangani semuanya sendiri.

Pola pikir “Jika saya tidak melakukannya, tidak ada orang lain yang akan melakukannya” menjadi tertanam, yang sering kali menyebabkan kelelahan atau kebencian dalam hubungan pribadi dan profesional.

3) Harga diri yang rendah

Salah satu efek yang paling disayangkan dari pengabaian adalah dampak jangka panjang yang ditimbulkannya terhadap harga diri. Penelitian menunjukkan bahwa pengasuhan yang lalai sangat terkait dengan harga diri yang rendah.

Ketika seseorang tumbuh dengan perasaan tidak terlihat, tidak didengar, atau tidak penting, mereka sering kali menginternalisasi gagasan bahwa mereka tidak layak untuk diperhatikan atau dipedulikan.

Secara emosional, mereka membawa perasaan tidak mampu ini hingga dewasa, meragukan nilai mereka dalam hubungan, pekerjaan, dan bahkan dalam diri mereka sendiri.

Kurangnya rasa percaya diri ini dapat muncul dalam berbagai cara. Mereka mungkin menghindari mengambil risiko, merasa terlalu kritis terhadap diri mereka sendiri, atau sulit menerima pujian.

Jauh di lubuk hati, mereka mungkin percaya bahwa mereka tidak “cukup baik”, sebuah keyakinan yang berakar dari pengabaian yang mereka alami saat masih kecil.

Bahkan ketika mereka mencapai kesuksesan atau dikelilingi oleh orang-orang yang mendukung, perasaan tidak berharga ini dapat bertahan, membayangi pencapaian mereka. 

4) Berjuang dengan menetapkan batasan

Perjuangan lain yang dimiliki orang-orang yang dibesarkan oleh orang tua yang lalai adalah terkait dengan menetapkan batasan.

Dibesarkan di lingkungan di mana batasan-batasan pribadi mereka sering dilanggar, mereka mungkin percaya bahwa kebutuhan dan perasaan mereka tidak penting. 

Sebagai orang dewasa, mereka mungkin merasa sulit untuk menetapkan dan mempertahankan batasan dalam hubungan.

Misalnya, mereka mungkin membiarkan orang lain mengambil keuntungan dari mereka, atau menempatkan kebutuhan orang lain di atas kebutuhan mereka sendiri sampai batas yang tidak sehat.

EDITOR: Kuswandi