JawaPos.com – Menopause kerap menjadi topik yang dipenuhi berbagai anggapan keliru. Memahami fakta sebenarnya dapat membantu menghadapi fase ini dengan lebih bijak dan tenang.
Menopause adalah kondisi ketika seorang wanita berhenti mengalami menstruasi selama 12 bulan berturut-turut tanpa penyebab lain. Ini menandai berakhirnya masa reproduksi secara alami, dan biasanya terjadi pada usia mulai dari 45–55 tahun.
Informasi akurat tentang menopause mencegah kesalahpahaman yang dapat mempengaruhi kesehatan fisik dan emosional. Mengetahui fakta akan membantu mengambil langkah yang tepat untuk menghadapi perubahan tubuh dengan lebih percaya diri.
Berikut 10 mitos dan fakta menopause membantu menghadapi perubahan tubuh dengan lebih percaya diri, dilansir dari laman Webmd, Jumat (22/11):
1. Mitos: Menopause membuat mudah lupa
Perubahan hormon selama perimenopause dapat menyebabkan sedikit gangguan konsentrasi. Namun, menopause itu sendiri tidak menjadi penyebab hilangnya ingatan permanen.
Fakta: Ingatan terkait dengan penuaan otak. Masalah ingatan lebih sering disebabkan oleh proses penuaan alami pada otak. Gaya hidup sehat seperti olahraga, istirahat cukup, dan aktivitas melatih otak dapat meningkatkan daya ingat.
Menjaga pola makan yang seimbang juga dapat mendukung fungsi kognitif. Diskusi dengan ahli kesehatan dapat membantu jika gangguan semakin sering terjadi.
2. Mitos: Dimulai saat menstruasi berhenti
Menopause dianggap sudah dimulai ketika menstruasi berhenti total. Banyak yang tidak menyadari bahwa ada masa transisi sebelumnya, yaitu perimenopause.
Fakta: Butuh 12 bulan tanpa menstruasi. Secara medis, menopause terjadi setelah 12 bulan berturut-turut tanpa menstruasi. Selama perimenopause, siklus menstruasi menjadi tidak teratur, dan gejala seperti keringat panas mendadak (hot flashes) mulai terasa.
Fase ini bisa berlangsung hingga delapan tahun sebelum menopause sebenarnya. Pemahaman ini penting untuk mengenali tanda-tanda perimenopause.
3. Mitos: Menyebabkan mudah tersinggung
Banyak yang mengira menopause secara langsung mempengaruhi suasana hati. Padahal, perubahan emosi lebih sering dipicu oleh gejala tidak langsung seperti gangguan tidur akibat hot flashes.
Fakta: Mudah tersinggung adalah dampak dari gejala tertentu. Keringat malam dan rasa panas dapat mengganggu kualitas tidur, sehingga mempengaruhi suasana hati.
Tidur yang cukup dapat membantu mengurangi efek tersebut. Relaksasi, meditasi, dan pola hidup aktif berkontribusi pada kestabilan emosi. Jika masalah berlanjut, konsultasikan dengan ahli untuk opsi penanganan lebih lanjut.
4. Mitos: Tidak Bisa Hamil Lagi
Kesuburan langsung hilang setelah menstruasi berhenti adalah anggapan yang keliru. Meski menurun drastis, kehamilan masih bisa terjadi pada masa perimenopause.
Fakta: kesuburan menurun, masih mungkin hamil. Pada perimenopause, ovarium masih bisa menghasilkan sel telur, meskipun jumlahnya jauh lebih sedikit. Peluang kehamilan lebih kecil setelah usia 45 tahun, tetapi tetap ada.
Untuk mencegah kehamilan, alat kontrasepsi tetap dianjurkan hingga menstruasi berhenti total selama satu tahun. Penting untuk berdiskusi dengan dokter mengenai perlindungan yang tepat.
5. Mitos: Kehidupan seks berakhir
Banyak yang percaya bahwa menopause mengakhiri aktivitas seksual. Penurunan hormon memang mempengaruhi gairah, tetapi tidak berarti kehidupan seksual harus berhenti.
Fakta: Seks dapat terus dinikmati. Menopause memang dapat menyebabkan kekeringan vagina yang mengurangi kenyamanan.
Solusi seperti pelumas, terapi hormon, atau eksplorasi metode baru dapat menjaga kehidupan seksual tetap menyenangkan.
Komunikasi dengan pasangan penting untuk meningkatkan keintiman. Konsultasikan dengan dokter jika diperlukan perawatan tambahan.
6. Mitos: Perlu mengonsumsi hormon
Banyak yang mengira hormon wajib dikonsumsi untuk mengatasi gejala menopause. Padahal, tidak semua wanita membutuhkan terapi hormon.
Fakta: Itu adalah pilihan, tergantung kondisi individu. Terapi penggantian hormon adalah salah satu opsi untuk mengurangi gejala seperti hot flashes. Namun, ada risiko dan manfaat yang perlu dipertimbangkan.
Alternatif seperti akupunktur, teknik relaksasi, atau perubahan gaya hidup juga efektif. Diskusi dengan dokter dapat membantu menentukan metode terbaik sesuai kebutuhan.
7. Mitos: Menyebabkan berat badan naik
Penurunan estrogen kerap dianggap sebagai penyebab utama kenaikan berat badan. Sebenarnya, metabolisme yang lambat lebih berperan dalam perubahan berat tubuh.
Fakta: Kenaikan berat badan dipengaruhi oleh faktor metabolisme dan gaya hidup. Setelah menopause, metabolisme tubuh cenderung melambat, sehingga berat badan lebih mudah bertambah.
Aktivitas fisik seperti latihan kekuatan dapat meningkatkan massa otot dan metabolisme. Mengatur pola makan dengan mengurangi kalori juga membantu menjaga berat badan. Penting untuk tetap aktif secara fisik agar tubuh tetap bugar.
8. Mitos: Pria juga mengalami menopause
Penurunan kadar testosteron pada pria sering dikaitkan dengan menopause. Namun, proses yang dialami pria berbeda dengan wanita.
Fakta: Kondisinya tidak sama. Pada pria, kadar testosteron menurun perlahan dan tidak menyebabkan perubahan drastis. Gejala seperti penurunan energi atau libido lebih sering terkait dengan pola hidup.
Perubahan ini jarang menimbulkan gejala seperti hot flashes yang dialami wanita. Pemahaman ini penting agar pria tidak salah kaprah dengan istilah "menopause".
9. Mitos: Hanya terjadi setelah usia 40
Menopause sering diasosiasikan dengan usia di atas 40 tahun. Namun, ada kondisi yang bisa menyebabkan menopause terjadi lebih awal.
Fakta: Menopause bisa terjadi lebih dini. Sekitar 1 persen wanita mengalami menopause sebelum usia 40 tahun, dan dikenal sebagai menopause dini. Penyebabnya bisa karena faktor genetik, pengobatan medis tertentu, atau operasi.
Pemantauan kesehatan reproduksi secara berkala dapat membantu mendeteksi kondisi ini lebih awal. Dukungan medis membantu menangani gejala yang muncul.
10. Mitos: Mengikuti pola ibu
Banyak yang percaya bahwa waktu menopause mengikuti pola ibu. Faktor genetik memang berperan, tetapi bukan satu-satunya penentu.
Fakta: Waktu menopause dipengaruhi banyak faktor. Merokok, kondisi medis, dan gaya hidup dapat mempengaruhi waktu menopause. Wanita yang merokok cenderung mengalami menopause dua tahun lebih awal dibandingkan yang tidak merokok.
Pengobatan seperti kemoterapi juga dapat mempercepat menopause. Pemahaman faktor-faktor ini membantu menjaga kesehatan reproduksi secara optimal.
Pemahaman yang benar tentang menopause membangun perspektif positif menghadapi fase kehidupan ini. Langkah kecil dalam menyerap informasi dan menerapkan perubahan dapat membawa manfaat besar bagi kesehatan tubuh dan pikiran.