← Beranda
7 Tanda Orang yang Berpura-Pura Bahagia dan Menyembunyikan Perasaannya Menurut Psikologi, Apa Saja?
Nafisah MisgiartiSelasa, 15 Oktober 2024 | 18.49 WIB
Ilustrasi orang yang pura-pura bahagia menurut psikologi/freepik

JawaPos.com - Dalam menjalani kehidupan, setiap manusia pasti mengalami perasaan bahagia dan sedih, dan hal ini sering diteliti menurut psikologi.

Tidak jarang ada orang yang selalu tampak bahagia di hadapan orang lain dan terlihat tidak pernah mengalami kesusahan.

Mungkin orang tersebut memang pandai berpura-pura bahagia dan menyembunyikan perasaan yang sebenarnya dirasakan.

Dilansir dari laman Geediting pada (15/10), berikut ini penjelasan selengkapnya seputar tanda-tanda orang yang sedang berpura-pura bahagia menurut psikologi.

1) Perubahan suasana hati yang cepat

Menurut psikologi, tanda lain bahwa seseorang mungkin berpura-pura bahagia adalah perubahan suasana hati yang tiba-tiba.

Hal ini sangat kontras, seperti membalik saklar.

Perhatikan saat-saat kesedihan atau kekesalan yang sekejap, dengan cepat digantikan oleh senyuman yang sangat lebar. Hal ini bisa mengindikasikan bahwa kebahagiaan mereka tidak seasli yang terlihat.

2) Menghindari percakapan yang mendalam

Orang yang berpura-pura bahagia sering kali menghindari topik-topik yang dapat memicu emosi negatif. Mereka cenderung memilih diskusi yang ringan dan di permukaan saja.

Mereka takut kedok mereka akan retak dan mengungkapkan perasaan mereka yang sebenarnya jika mereka mulai membicarakan sesuatu yang serius.

Jika seseorang tampaknya selalu mengubah topik pembicaraan ketika keadaan menjadi sedikit berat atau secara konsisten menghindari topik pribadi, mereka menutupi emosi mereka yang sebenarnya dengan menunjukkan kebahagiaan.

3) Senyum palsu

Senyuman yang tulus melibatkan otot-otot di sekitar mulut dan mata.

Menurut psikologi, ketika seseorang memalsukan kebahagiaan mereka, senyum mereka sering kali tidak sampai ke mata mereka. Senyuman ini hanya di mulut saja.

Jadi, perhatikanlah senyuman mereka saat Anda mencoba mengukur kebahagiaan seseorang. Apakah hanya gigi dan tidak ada binar mata? Bisa jadi itu hanya topeng kegembiraan.

4) Terlalu antusias

Terkadang, orang yang mencoba menyembunyikan perasaan mereka yang sebenarnya menjadi terlalu antusias. Mereka berusaha terlalu keras untuk meyakinkan orang lain (dan mungkin diri mereka sendiri) bahwa mereka baik-baik saja.

Melihat seseorang yang terlalu ceria atau antusias bisa jadi menandakan bahwa mereka sedang menutupi emosi yang sebenarnya.

5) Kelelahan yang terus-menerus

Berpura-pura bahagia bisa melelahkan secara fisik. Ini seperti lari maraton, tetapi secara emosional.

Ketika merasa sedih, energi yang dibutuhkan untuk mempertahankan wajah yang penuh dengan kegembiraan dapat membuat orang terus menerus merasa lelah, menurut psikologi.

Hal ini karena otak kita menggunakan sejumlah besar energi tubuh kita, dan terus menerus mengatur emosi dan perilaku dapat menguras energi ini dengan cepat.

Jika seseorang selalu mengeluh tentang perasaan lelah atau kehabisan tenaga meskipun sudah cukup tidur atau tidak melakukan aktivitas fisik yang berat, bisa jadi karena mereka bekerja lembur untuk terlihat bahagia.

6) Terlalu banyak mengumbar ekspresi melalui media sosial

Kita semua akrab dengan kehidupan sempurna yang ditampilkan di Instagram.

Ketika seseorang memalsukan kebahagiaan, mereka sering merasa perlu untuk mengimbanginya secara berlebihan melalui media sosialnya.

Jika kehidupan di dunia maya seseorang tampak terlalu bagus untuk menjadi kenyataan, mungkin memang demikian.

7) Kurangnya perawatan diri

Hal yang paling penting untuk dipahami adalah bahwa orang yang berpura-pura bahagia sering kali mengabaikan kebutuhan dan kesejahteraan mereka.

Mereka mungkin melewatkan waktu makan, memiliki pola tidur yang tidak teratur, atau kurang memperhatikan kebersihan diri. Mereka terlalu sibuk menampilkan pertunjukan untuk orang lain sehingga mereka lupa untuk merawat diri mereka sendiri.

Kurangnya perawatan diri ini adalah tanda dari kebahagiaan yang palsu. Jadi, inilah saatnya untuk menawarkan dukungan dan pengertian Anda.

Demikianlah beberapa tanda yang menunjukkan bahwa seseorang sedang berpura-pura bahagia padahal sebenarnya sengsara, menurut psikologi.***

EDITOR: Setyo Adi Nugroho