← Beranda

Pahami 8 Jenis Perasaan Sedih yang Sering Dialami, Ada yang Tak Terlihat Namun Bahaya untuk Kesehatan Mental

Arsyad Dena MukhtaromRabu, 11 September 2024 | 23.36 WIB
Ilustrasi seseorang yang sedang sedih. (Freepik)

JawaPos.com - Perasaan sedih atau kesedihan sebenarnya merupakan hal wajar yang dialami seseorang. Namun ternyata, perasaan sedih memiliki banyak jenis. Bahkan ada jenis kesedihan yang tidak terlihat. 

 

Biasanya, perasaan sedih akan muncul karena kehilangan seseorang dalam hidup atau telah merasa gagal akan menggapai sesuatu. Rasa sedih yang berlarut-larut hingga tak menyadari kesedihan juga bisa dialami seseorang. Untuk itu perlu memahami berbagai jenis kesedihan ini dapat membantu kita menjalani proses penyembuhan dengan lebih baik. 

Dilansir dari verywellmind (11/9), setidaknya ada 8 kesedihan yang bisa saja dialami Anda atau seseorang yang Anda sayangi.

Baca Juga: Sri Mulyani Bertemu Prabowo 2,5 Jam, Ditawari Jabatan Menkeu Lagi? Begini Kata Thomas Djiwandono

1. Kesedihan Normal/Umum

Kesedihan normal adalah jenis kesedihan yang paling umum dialami. Biasanya dimulai dengan rasa terkejut dan tidak percaya setelah kehilangan. Emosi intens dan kerinduan untuk kembali bersama orang yang hilang sering terjadi.

Seiring waktu, rasa sakit yang mendalam akan berkurang, meskipun tidak sepenuhnya hilang. Kebanyakan orang dapat beradaptasi dengan kehidupan sehari-hari dan merasa emosi menjadi lebih dapat diatasi. Jenis kesedihan ini biasanya mereda dalam waktu 1-2 tahun.

Sekitar 50-85 persen orang mengalami kesedihan normal. Ini dianggap bagian dari proses berduka yang diharapkan. Perjalanan melalui kesedihan ini adalah hal yang alami dan menantang.

2. Kesedihan Antisipatif

Kesedihan antisipatif terjadi sebelum kehilangan benar-benar terjadi. Ini adalah rasa duka yang dirasakan saat mengantisipasi kematian orang tercinta. Biasanya muncul ketika seseorang didiagnosis dengan penyakit terminal.

Hannah Mayderry menggambarkannya sebagai campuran kesedihan dan kekhawatiran. Bentuk kesedihan ini bisa sangat melelahkan, terutama bagi para pengasuh. Pengalaman ini mencakup campuran kesedihan dan kelelahan.

Mengakui kesedihan antisipatif sangat penting karena berbeda dari berduka biasa. Ini menyoroti tekanan emosional yang dirasakan bahkan sebelum kehilangan terjadi. Kesadaran ini membantu memvalidasi emosi kompleks yang terlibat.

3. Kesedihan Kronis

Kesedihan kronis bertahan lama setelah kehilangan terjadi. Ditandai dengan perasaan duka yang intens yang terus berlangsung. Banyak orang dengan kesedihan kronis juga mengalami depresi atau kecemasan.

Berbeda dengan kesedihan normal, kesedihan kronis tidak mereda secara signifikan seiring waktu. Gejalanya bisa mirip dengan depresi klinis atau PTSD. Diagnosis seperti gangguan berduka kompleks yang menetap berlaku dalam kasus ini.

Mengalami kesedihan kronis sering memerlukan intervensi profesional. Penting untuk menangani perasaan berkepanjangan ini untuk mendukung kesehatan emosional. Pengobatan yang efektif dapat membantu mengelola gejala dan meningkatkan kesejahteraan.

4. Kesedihan Tak Terlihat

Kesedihan absen ditandai dengan kurangnya respon emosional yang terlihat. Individu dengan jenis kesedihan ini mungkin tidak menunjukkan tanda-tanda berduka yang biasa. Mereka mungkin tidak menyadari proses berduka mereka karena penekanan emosional.

Ini bisa terjadi akibat penyangkalan atau penghindaran dampak kehilangan. Orang dengan kesedihan absen mungkin menghindari menghadapi emosi mereka. Kurangnya tanda luar tidak mengurangi keberadaan kesedihan.

Memahami kesedihan absen melibatkan pengakuan bahwa tidak semua kesedihan terlihat. Penting untuk mengakui dan menangani keadaan emosional internal. Mencari dukungan bisa bermanfaat bagi mereka yang mengalami jenis kesedihan ini.

5. Kesedihan Tertunda

Kesedihan tertunda terjadi ketika perasaan berduka muncul belakangan daripada yang diharapkan. Ini bisa membingungkan dan membuat merasa kesepian jika melihat orang lain berduka dengan cara yang "normal."

Perasaan kesedihan yang datang berbulan-bulan atau bertahun-tahun setelah kehilangan dapat mengejutkan. Penting untuk mengakui emosi tersebut dan mencari dukungan dari orang terdekat atau profesional kesehatan mental.

Kesedihan yang datang terlambat sering memerlukan pemahaman dan dukungan ekstra. Mengatasi perasaan yang muncul di waktu yang tidak terduga membantu dalam proses penyembuhan.

6. Kesedihan Terdistorsi

Kesedihan terdistorsi ditandai dengan gejala yang tidak biasa dan seringkali lebih intens. Misalnya, kemarahan atau depresi tanpa adanya perasaan kehilangan atau kesedihan yang jelas.

Orang dengan kesedihan terdistorsi mungkin menyangkal kematian orang tercinta dan berharap mereka kembali, meskipun tidak mungkin. Gejala lain termasuk ekspektasi yang tidak rasional dari orang lain dan perilaku yang merusak hubungan sosial.

Kesedihan ini bisa membuat seseorang merasa terputus dari dunia sekitar. Mengidentifikasi dan menangani gejala ini dengan dukungan profesional dapat membantu dalam mengatasi kesedihan yang intens dan tidak biasa.

7. Kesedihan Kolektif

Kesedihan kolektif terjadi ketika peristiwa besar yang melibatkan kehilangan dirasakan oleh banyak orang. Contoh termasuk kematian George Floyd, serangan 9/11, dan pandemi COVID-19.

Gejala kesedihan kolektif bisa termasuk keterkejutan, kebingungan, dan kesulitan berkonsentrasi. Ini juga dapat menyebabkan kesedihan yang berkepanjangan dan kelelahan fisik bagi mereka yang terdampak.

Kesedihan kolektif dapat memengaruhi kelompok etnis atau ras tertentu lebih intens, seperti ketidakadilan sosial terhadap orang kulit hitam. Menyadari dampak kesedihan kolektif penting untuk mendukung pemulihan komunitas.

8. Kesedihan Tersembunyi

Kesedihan tersembunyi, atau disenfranchised grief, adalah kesedihan yang tidak dianggap sah untuk diekspresikan secara sosial. Ini termasuk kehilangan yang sering dianggap tidak pantas untuk diratapi secara terbuka, seperti keguguran atau kematian pasien oleh tenaga medis.

Contoh lain adalah kesedihan setelah kehilangan hewan peliharaan, yang sering kali dianggap kurang penting secara sosial. Ketika seseorang merasa kesedihannya tidak diterima atau kurang valid, pola berduka yang tidak sehat bisa muncul.

Penting untuk diingat bahwa semua jenis kehilangan adalah nyata dan valid. Jangan ragu untuk mencari dukungan jika merasa tidak mendapatkan izin untuk berduka secara terbuka.

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah