← Beranda
Eldest Daughter Syndrome, Benarkah Menjadi Anak Perempuan Sulung Mempengaruhi Kepribadian dan Kesehatan Mental?
Dewi Anggini LarasatiSelasa, 20 Agustus 2024 | 04.37 WIB
ilustrasi Eldest Daughter Syndrome

JawaPos.com – Eldest Daughter Syndrome atau sindrom anak perempuan tertua, menjadi fenomena yang ramai diperbincangkan beberapa waktu lalu di platform media sosial seperti TikTok. Lalu sebenarnya, apakah “diagnosis” dari media sosial ini nyata?

Secara umum, Eldest Daughter Syndrome mengacu pada bagaimana menjadi seorang anak perempuan pertama dalam keluarga dapat membentuk kepribadian dan perilaku seseorang, bahkan hingga dewasa.

Kondisi tersebut bukan sebuah diagnosis formal, namun tentu terasa sangat nyata bagi yang mengalaminya. Karena menjadi anak perempuan sulung dalam keluarga, biasanya memiliki tanggung jawab kepada adik-adiknya.

Meskipun menjadi panutan dapat menumbuhkan kepemimpinan, namun tidak jarang hal tersebut juga dapat membebani seseorang. Bahkan hingga bisa berdampak pada kesehatan mentalnya.

Sejumlah penelitian telah mengeksplorasi dampak potensial dari urutan kelahiran seseorang.

Salah satunya teori yang diperkenalkan oleh psikoterapis Austria, Alfred Adler, yang menyatakan bahwa urutan kelahiran anak dalam keluarga, dapat memengaruhi kepribadian dan pengalaman hidup mereka.

Karakteristik Anak Sulung

Melansir dari website verywellmind.com, Brandy Smith, PhD, psikolog berlisensi di Thriveworks di Birmingham, AL, berpendapat bahwa ada beberapa karakteristik yang umumnya dikaitkan dengan anak sulung antara lain:

-Memiliki rasa tanggung jawab

-Secara teratur berjuang untuk kesempurnaan

-Merasa terdorong untuk memenuhi ekspektasi masyarakat, khususnya orang tua

-Biasanya digambarkan sebagai pengikut aturan dan berkelakuan baik

-Seorang yang ambisius dan berprestasi tinggi

-Seringkali menampilkan ciri-ciri kepribadian Tipe A, yang mencakup daya saing dan ketidaksabaran

Meskipun sifat-sifat tersebut cenderung seperti perfeksionis, ambisius, dan keras kepala, namun ternyata banyak anak sulung mengalami kesulitan karena beban ekspektasi yang diberikan kepada mereka.

Dilansir dari charliehealth.com, konselor profesional klinis berlisensi, Jamila Jones mengatakan bahwa anak sulung sering kali diharapkan bisa menjadi teladan bagi adik-adiknya, memikul lebih banyak tanggung jawab, dan menjadi panutan.

Masih dari website yang sama, seorang terapis pernikahan dan keluarga berlisensi, Kasey Scharnett King mengamati bahwa dalam rumah tangga dengan orang tua ganda, anak sulung mungkin menjadi orang dewasa ketiga, yang sangat mengetahui masalah pribadi orang tuanya dan bahkan sering kali menjadi mediator dalam perselisihan mereka.

Dampak Eldest Daughter Syndrome terhadap Perkembangan Anak

Mengutip dari Very Well Mind, banyak teori tentang perkembangan anak sulung didasarkan pada gagasan bahwa biasanya mereka diberi perhatian penuh oleh orang tuanya sejak dini, yang mungkin membuat mereka bisa mencapai tonggak perkembangan sejak dini pula.

Menjadi anak perempuan sulung juga bisa memungkinkan mereka lebih cepat dewasa karena biasa memikul lebih banyak tanggung jawab untuk keluarga atau adik-adiknya. Terkadang, hal ini bisa dibawa hingga dewasa.

Anak sulung bisa saja memandang hubungan sebagai tempat di mana mereka merupakan figur otoritas. Dalam hubungan yang sehat, hal tersebut bisa diimplementasikan menjadi perhatian.

Namun dalam beberapa hubungan, terkadang ada kecenderungan merasa perlu memegang kendali. Hal tersebut berpotensi menimbulkan konflik dalam suatu hubungan.

Bagi beberapa anak perempuan sulung, beban dan ekspektasi yang mereka rasakan dapat menyebabkan masalah kesehatan emosional dan mental jangka panjang. Termasuk perasaan bersalah, rendah diri, dan sebagainya.

Cara Menyembuhkan Eldest Daughter Syndrome

Meskipun bukan sebuah diagnosis formal, anak perempuan sulung kemungkinan bisa merasakan stress karena tekanan yang dialami. Dilansir dari website Charlie Health, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk usaha menyembuhkan Eldest Daughter Syndrome, antara lain:

1. Mencoba Memprioritaskan Diri Sendiri

Terkadang sulit bagi anak sulung untuk mengutamakan diri sendiri karena tumbuh dengan terbiasa mengurus orang lain bahkan melebihi perhatiannya pada diri sendiri.

Namun, sangat penting untuk memprioritaskan dan tau kapasitas diri sendiri supaya tidak selalu memaksakan berkorban untuk membantu orang lain.

Meluangkan waktu untuk diri sendiri dapat membantu mengurangi kelelahan dan stres. Lakukanlah hal-hal yang bermanfaat untuk diri sendiri seperti berolahraga, menulis jurnal, dan sebagainya.

2. Menetapkan Batasan

Mengatakan “ya” ketika seseorang membutuhkan bantuan, merupakan salah satu hal yang familiar dengan anak sulung. Terlebih lagi, jika adik-adiknya yang meminta pertolongan.

Namun terkadang, saat diri sendiri sudah kelelahan dan tidak bisa mengatur stres yang dirasakan, penting untuk menetapkan batasan tersebut. Ingatlah bahwa mengatakan 'tidak' kepada orang lain, berarti mengatakan 'ya' kepada diri sendiri.

3. Mencari Bantuan

Eldest Daughter Syndrome bisa saja menyebabkan kecemasan dan depresi jika tingkat stress yang dirasakan tidak kunjung teratasi. Saat kesehatan mental sudah memengaruhi kehidupan sehari-hari atau produktifitas, carilah bantuan dari orang yang ahli di bidangnya.

Hal tersebut bukan hanya membantu keadaanmu di masa sekarang, namun juga bisa membantu menghilangkan trauma generasi dan mekanisme penanggulangan agar tidak diturunkan ke generasi mendatang.

Itulah penjelasan tentang Eldest Daughter Syndrome. Perlu dipahami bahwa sesuatu yang diperbincangkan di media sosial, belum tentu memiliki cukup bukti yang mendukungnya secara ilmiah.

Mengutip dari psychologytoday.com, urutan kelahiran hanyalah salah satu dari banyak faktor yang dapat memengaruhi kepribadian dan perilaku seseorang. Dinamika keluarga, pola asuh, dan status sosial ekonomi juga berperan penting membentuk karakter setiap individu.

Sisi positif dari adanya pembahasan Eldest Daughter Syndrome adalah dapat meningkatkan kesadaran dan pemahaman di antara mereka yang merasakan hal serupa.

Perbincangan tentang Eldest Daughter Syndrome ini diharapkan bisa mendorong unit keluarga untuk mengenali dan mengatasi beban yang secara tidak sadar mereka berikan pada anak perempuan sulungnya.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho