JawaPos.com – Sebutan generasi N-Po pada awalnya berasal dari bahasa Korea ‘Po’ yang maksudnya adalah ‘Pogihada’.
Kata ‘Pogihada’ dalam bahasa Indonesia artinya menyerah. Dalam tanda kutip menyerah dalam kehidupan, keturunan, pekerjaan sampai kelangsungan hidup seterusnya.
Disadur dari KWorldnow.com menjelaskan bahwa generasi N-Po tidak semata-mata tercipta begitu saja oleh para anak muda.
Munculnya generasi N-Po, sudah didahului oleh empat generasi sebelumnya yang menjadi awal mula terciptanya Generasi N-Po.
Generasi pertama yang dijuluki sebagai ‘Sam-Po’ yang artinya menyerah pada tiga hal yakni menjalin hubungan, pernikahan, dan anak.
Kemudian berkembang menjadi ‘O-Po’ artinya menyerah pada lima hal yakni tiga hal sam-po ditambah kehidupan sosial dan memiliki rumah.
Yang terus bertambah menjadi ‘Chil-Po’ yang menyerah pada tujuh hal yaitu lima hal o-po ditambah hubungan antar pribadi dan harapan.
Dan yang terakhir ada ‘Gu-Po’ artinya menyerah pada sembilan hal yaitu tujuh hal chil-po ditambah kesehatan dan penampilan.
Begitulah hingga terciptalah generasi N-Po saat ini yang memilih menyerah pada segala hal karena banyaknya tekanan sosial.
Para remaja Korea banyak mengeluhkan tentang kebutuhan dan ketimpangan sosial yang terjadi di sekitarnya.
Keresahan yang dirasakan begitu besar, seperti status sosial keluarga yang tidak sesuai standar, karena dianggap manja.
Contohnya, di Korea jika seseorang dari keluarga yang tidak mampu, banyak orang kaya yang merendahkan dan menganggap kemiskinan sebagai alasan kemalasan.
Walaupun sebenarnya tidak semua orang yang lahir dari keluarga tidak mampu memiliki mental pemalas seperti yang dibicarakan.
Ada juga masalah kepemilikan anak dengan tanggung jawab yang besar. Banyak orang Korea memilih untuk tidak menanggung risikonya.
Dengan cara tidak memiliki anak, maka biaya yang dikeluarkan untuk hidup sehari-hari tidaklah terlalu banyak.
Kemudian masalah lowongan pekerjaan yang jumlahnya sedikit dibanding dengan lulusan sarjana yang terlalu banyak setiap tahunnya.
Ditambah dengan lambatnya kenaikan jabatan dan banyaknya Pemutusan Hubungan Kerja PHK yang mengakibatkan melambatnya pula pertumbuhan ekonomi.
Hal yang paling banyak dijadikan bahan pertimbangan oleh generasi N-Po adalah biaya sewa rumah yang terlalu tinggi untuk tempat yang sedikit nyaman dan luas.
Para Generasi N-Po sudah tidak memiliki harapan untuk membeli rumah baru karena nilainya yang tidak masuk akal.
Berbanding jauh dengan gaji per bulan yang mereka dapatkan. Bahkan terkadang menyewa rumah pun harus dengan perhitungan yang matang.
Dan yang paling terakhir, persaingan sosial yang sangat ketat. Di mana kamu pernah bersekolah dan bekerja, menentukan tinggi rendahnya posisi sosialmu di masyarakat.
Maka, persaingan sosial ini dipupuk bahkan sejak dini, karena kebanyakan anak muda Korea tidak hidup di masa sekarang, mereka hidup di masa depan.