JawaPos.com - Kota yang dahulu dikenal sebagai Caruban—tempat bercampurnya berbagai budaya dan pendatang—kembali memancarkan pesonanya.
Cirebon, kota pesisir dengan sejarah panjang dan warisan kuliner yang begitu kuat, menjadi tujuan Melki dari kanal YouTube RUMAH CANDA MELKI dalam perjalanan kuliner seharian penuh.
Dengan hanya sekitar dua setengah jam perjalanan kereta, Melki menginjakkan kaki di kota yang sering dijuluki “Kota Udang”, tempat di mana aneka hidangan khas lahir dari kekayaan laut, budaya pesisir, dan tradisi turun-temurun masyarakatnya.
Sejak detik pertama tiba, aroma nasi jamblang, gurihnya empal gentong, dan pedas manjanya tahu gejrot seolah-olah sudah menyambut dari kejauhan.
Melki mengajak penonton menikmati kuliner yang bukan hanya memanjakan lidah, tetapi juga menggambarkan kehangatan warga Cirebon, kesederhanaan penyajiannya, serta keragaman cita rasa yang menjadi kekuatan kuliner Jawa Barat bagian utara ini.
Menurut kanal YouTube RUMAH CANDA MELKI, perjalanan kali ini bukan sekadar makan, melainkan penjelajahan: memahami karakter kuliner Cirebon dari pasar, warung rumahan, hingga toko oleh-oleh yang menjadi langganan wisatawan sejak bertahun-tahun.
1. Nasi Jamblang Legendaris: Sarapan Khas dari Daun Jati
Perhentian pertama adalah kuliner yang tak bisa dilewatkan di Cirebon: nasi jamblang.
Melki memilih salah satu warung jamblang legendaris yang sudah berdiri sejak 1970-an, dikenal sebagai hidden gem karena lokasinya yang tidak mencolok dari luar.
Di dalam, deretan lauk langsung memenuhi pandangan, seperti balakutak (cumi hitam), telur rajungan, tempe, perkedel, kerang dara,
dan berbagai olahan rumahan lainnya.
Nasi jamblang dibungkus daun jati—alasan yang menjadi asal nama hidangan ini. Aromanya khas, lauknya berani, dan porsinya cenderung kecil sehingga membuat banyak orang tak cukup hanya satu piring.
Melki sendiri berkali-kali mengambil balakutak dan sambal favoritnya karena rasa gurih-pedasnya sulit ditolak.
Total belanja sarapannya sekitar Rp48.000, lengkap dengan teh pucuk sebagai pendamping wajib.
2. Empal Gentong: Gurihnya Kuah, Hangatnya Tradisi
Masuk ke ikon kuliner berikutnya, Melki berburu empal gentong, hidangan berkuah gurih yang biasanya dimasak menggunakan gentong tanah liat.
Di warung pertama, sang penjual mengakui bahwa gentong tradisional sering pecah, sehingga kini menggunakan panci besar.
Meski begitu, cita rasanya tetap mantap: gurih, pedas dari bubuk cabai, dan aromatik.
Belum puas, Melki mengikuti rekomendasi warga untuk mencicipi empal gentong dengkul sapi di warung lain.
Di sinilah ia menemukan pengalaman makan yang berbeda: bagian dengkul dengan tekstur lembut dan kaya kolagen, dicocol sambal kecap agar rasa gurihnya semakin menyeruak.
Satu porsi empal gentong dengkul dibanderol sekitar Rp30.000, dan Melki menyebutnya sebagai “porsi luar biasa” karena potongan dengkulnya besar dan memanjakan pecinta daging.
3. Tahu Gejrot Pasar Kanoman: Pedas, Manis, Asam dalam Satu Suapan
Melanjutkan perjalanan, Melki tiba di salah satu kios tahu gejrot legendaris di Pasar Kanoman.
Penjualnya sudah terkenal dengan racikan kuah gula jawa, bawang putih, dan cabai yang dibuat segar di tempat.
Yang unik, tahu yang digunakan adalah tahu kopong—tahu tanpa isi yang memiliki tekstur renyah namun mampu menyerap kuah dengan sempurna.
Melki memesan versi pedas spesial, hingga kuahnya “banjir” dan membuatnya berkali-kali meminta tambahan tahu.
Penjual bahkan menyediakan tahu gejrot dalam bentuk oleh-oleh, seperti 50 buah tahu, lengkap dengan satu botol kuah, seharga Rp45.000.
Bagi Melki, tahu gejrot di kota asalnya jauh lebih segar, lebih pedas, dan lebih aromatik dibanding versi pentolan yang dijual di kota besar lain.
4. Bonseri: Surga Oleh-Oleh dengan Ketan Bumbu Buyudi yang Melegenda
Sebelum meninggalkan Cirebon, Melki menyempatkan mampir ke Bonseri, toko oleh-oleh yang selalu ramai terutama pada akhir pekan.
Tujuan utamanya jelas: ketan bumbu Bu Yudi, salah satu oleh-oleh paling populer dari kota ini.
Ketan diberi lumuran bumbu kuning gurih-manis dengan taburan rebon dan serundeng, menjadikannya camilan unik yang memadukan cita rasa laut dan tradisi lokal.
Melki bahkan meminta versi yang masih hangat agar bumbunya meresap sempurna.
Selain ketan, Bonseri menyediakan deretan kue tradisional lain, namun ketan Bu Yudi tetap menjadi primadona hingga sering ludes sebelum siang.
Dengan membawa beberapa bungkus sebagai bekal perjalanan ke kota berikutnya, Melki mengakhiri petualangan kuliner Cirebon dengan puas dan penuh cerita.
CIREBON, KOTA RASA YANG MENGAJAK UNTUK DATANG KEMBALI
Sehari penuh menyusuri warung, pasar, kedai, dan pusat oleh-oleh membuat Cirebon kembali menegaskan identitasnya sebagai kota kuliner yang tak pernah kehabisan kejutan.
Dari nasi jamblang beraroma daun jati, empal gentong berkuah pekat, tahu gejrot dengan kuah banjir, hingga ketan bumbu yang begitu khas—semuanya menghadirkan karakter kuat kuliner pesisir dan warisan budaya lokal.
Melki pun menutup perjalanannya dengan satu pesan: masih banyak kuliner Cirebon yang belum dieksplorasi, dan ia berjanji akan kembali untuk mencicipi hidangan-hidangan lain yang tak kalah menarik.
Perjalanan ini mengingatkan bahwa kuliner bukan hanya soal makanan, tetapi juga cerita, tradisi, dan orang-orang di baliknya. Cirebon jelas menjaga semuanya dengan baik.