← Beranda

Mampu Memanipulasi Lidah agar Terus Merasakan Manis, Inilah 5 Manfaat Buah Anaris atau 'Miracle Fruit' bagi Kesehatan

Ahmad Harsya AlindraKamis, 16 Oktober 2025 | 22.14 WIB
Ilustrasi buah aranis yang sudah dipetik dan siap untuk dikonsumsi. (Freepik)

JawaPos.com - Aranis atau dikenal juga dengan istilah “Miracle fruit” yang berarti buah ajaib adalah buah kecil berwarna merah cerah yang berasal dari Afrika Barat. Dikutip dari Alodokter, buah ini tergolong ke dalam keluarga buah sawo serta memiliki nama latin Synsepalum dulcificum.

Buah ini hanya memiliki ukuran sebesar 2-3 cm, sehingga tampak mirip dengan buah melinjo atau kopi. Aranis terkenal bukan karena rasanya yang manis, melainkan karena kemampuannya mengubah persepsi rasa. Setelah memakan buah ini, makanan atau minuman yang asam atau pahit akan terasa manis di lidah selama beberapa waktu.

Penjelasan Ilmiah Mengenai Keunikan Tersebut

Meskipun rasa buah aranis sebenarnya cenderung hambar, tetapi buah ini mampu membuat makanan apapun terasa manis jika dikonsumsi setelahnya. Hal tersebut terjadi karena adanya kandungan protein bernama miraculin.

Dikutip dari Alodokter, miraculin merupakan protein yang dapat menempel pada reseptor lidah dan mengubah cara kerjanya. Akibatnya, lidah menangkap sensasi rasa manis, meskipun yang dikonsumsi sebenarnya adalah makanan dengan rasa asam atau pahit.

Proses pengikatan protein yang membuat rasa menjadi manis dapat bertahan selama kurang lebih 15 hingga 60 menit, sebelum efek miraculin tersebut secara alami menghilang dari lidah.

Manfaat dari Aranis atau Miracle Fruit bagi Tubuh

Tidak hanya memiliki kemampuan yang unik, buah aranis juga bermanfaat jika dikonsumsi sesuai kebutuhan. Dikutip dari HelloSehat, berikut manfaat mengonsumsi buah aranis bagi tubuh.

1. Mengontrol Gula Darah

Menurut penelitian yang dimuat dalam jurnal Heliyon (2020), buah ini diketahui mampu meningkatkan sensitivitas serta produksi insulin, yaitu hormon yang berperan menurunkan kadar gula darah.

Sensitivitas insulin sendiri menggambarkan kemampuan tubuh dalam memanfaatkan insulin secara optimal, sehingga kadar gula darah dapat tetap terjaga dengan baik. Para peneliti memperkirakan bahwa efek tersebut berasal dari kandungan miraculin dan flavonoid.

Namun, temuan ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut karena sejauh ini baru diuji pada tikus yang mengalami resistensi insulin akibat konsumsi makanan tinggi fruktosa.

Baca Juga: Bukan Cuma di Hati, Ini 5 Dampak Nyata Memendam Emosi Bagi Kesehatan Tubuhmu

2. Membantu Pemulihan Pasien Pasca-Kemoterapi

Kemoterapi dapat menimbulkan berbagai efek samping, salah satunya adalah penurunan kemampuan lidah dalam merasakan cita rasa makanan. Akibatnya, nafsu makan pasien bisa menurun dan berujung pada kekurangan asupan nutrisi.

Menariknya, buah anaris dapat membantu mengatasi efek samping tersebut. Konsumsi buah ini diketahui mampu meningkatkan kemampuan pengecapan dan selera makan pada pasien kanker yang menjalani kemoterapi, sehingga kebutuhan gizinya tetap terpenuhi.

3. Menurunkan Berat Badan

Salah satu manfaat anaris adalah membantu menurunkan berat badan, karena berfungsi sebagai pemanis alami rendah kalori. Berbeda dengan gula biasa yang mengandung kalori tinggi, buah ini memberikan rasa manis tanpa menambah banyak kalori. Selain itu, karena konsumsi aranis membuat makanan lain terasa manis, keinginan untuk mengonsumsi makanan tinggi gula pun dapat berkurang.

4. Menjaga Kesehatan Mata

Salah satu manfaat buah aranis berasal dari kandungan vitamin A di dalamnya. Vitamin ini berperan penting dalam melindungi bagian mata yang berfungsi menerima cahaya, sehingga dapat membantu mencegah rabun senja.

5. Meningkatkan Sistem Kekebalan Tubuh

Buah aranis mengandung vitamin C yang tinggi, yang berperan penting dalam menjaga daya tahan tubuh. Asupan vitamin C yang cukup dapat merangsang produksi sel darah putih, yaitu komponen tubuh yang bertugas melawan infeksi dari bakteri maupun virus.

Selain itu, vitamin C dalam buah ini juga berfungsi sebagai antioksidan yang membantu melindungi tubuh dari paparan radikal bebas yang berasal dari sinar ultraviolet, polusi dan asap rokok, yang dapat meningkatkan risiko munculnya penyakit kronis. (*)

EDITOR: Siti Nur Qasanah