← Beranda

Kapan Waktu yang Tepat Berganti Psikiater? Kenali 6 Tandanya Berikut Ini

Arin SutrioriniMinggu, 11 Mei 2025 | 04.07 WIB
Ilustrasi konsultasi dengan psikiater. (Freepik)

JawaPos.com – Memutuskan untuk pergi ke psikiater bukanlah langkah yang mudah. Banyak orang merasa ragu, malu, atau bahkan takut.

Setelah berani mencari bantuan, tidak sedikit yang merasa dilema. Apakah pertemuan ini benar-benar membantu, ataukah harus bertahan meskipun merasa tidak cocok?

Mengutip Verywellmind, menurut para profesional kesehatan mental, bila mengalami salah satu dari tanda ini, mungkin sudah saatnya mencari psikiater yang lebih tepat.

1. Tidak Ada Perubahan Sama Sekali

Gejala yang tetap ada tanpa adanya perubahan dalam pengobatan merupakan pertanda yang perlu diperhatikan.

Saat psikiater tidak melakukan perubahan atau penyesuaian pengobatan meskipun gejala berlanjut, ini bisa menjadi alasan untuk mencari psikiater lain.

"Saya pernah punya psikiater yang bilang kondisi saya sudah yang paling baik, dan saya mempercayainya. Padahal, gejala saya baru hilang dalam beberapa bulan setelah saya ganti psikiater," ujar Hannah Owens, seorang Licensed Master Social Worker (LMSW) yang juga terapis sekaligus pasien.

2. Psikiater Fokus pada Hal yang Tidak Penting

Psikiater seharusnya fokus pada perbaikan kondisi mental pasien, bukan hanya memperhatikan hal-hal yang tidak relevan, contohnya menanyakan efek samping berupa kenaikan berat badan.

Jika pertemuan hanya membahas efek samping fisik tanpa memperhatikan dampak pada gejala, hal ini menjadi tanda pendekatan pengobatan tidak tepat.

3. Efek Samping Tidak Dianggap Serius

Ada kalanya pasien mengeluhkan efek samping yang mengganggu, psikiater harus segera merespons dan mencari solusi.

Mengabaikan keluhan efek samping atau tidak mengganti obat menjadi tanda bahwa psikiater tidak cukup memperhatikan kebutuhan pasien.

"Saya sering mengalami efek samping langka. Saya harus bersuara keras sampai akhirnya saya menemukan psikiater yang langsung percaya dan tanggap," kata Owens.

4. Hanya Bicara soal Obat

Peran psikiater tidak berhenti pada pengaturan resep semata. Perawatan kesehatan mental yang efektif melibatkan pembicaraan tentang berbagai faktor kehidupan pasien, seperti hubungan sosial, pekerjaan, atau situasi pribadi.

Hanya fokus pada obat tanpa mempertimbangkan faktor lain, bisa menghambat pemahaman yang lebih holistik tentang kondisi pasien.

5. Psikiater Membuat Permintaan yang Tidak Pantas

Baca Juga: Tips Cross Training Pasca Surabaya Medic Air Run 2025

Psikiater seharusnya tidak meminta pasien untuk melakukan hal yang tidak etis, seperti menulis ulasan positif yang tidak jujur.

Hal semacam ini, menjadi tanda jelas, hubungan profesional yang telah menyimpang dari etika.

6. Anda Dibuat Merasa Buruk tentang Diri Sendiri

Kata-kata dari seorang psikiater seharusnya membangun, bukan menjatuhkan.

Ketika muncul komentar seperti, "Bayangkan apa yang bisa kamu lakukan kalau kamu nggak seburuk ini,"  dampaknya bisa sangat merusak.

Ucapan yang menyiratkan bahwa pasien adalah hambatan bagi dirinya sendiri dapat memperparah perasaan tidak mampu atau putus asa.

Seorang profesional kesehatan mental wajib menciptakan ruang yang aman dan suportif, bukan menambah beban emosional yang sudah ada. (*)

EDITOR: Siti Nur Qasanah