← Beranda

Bukan Drama, Ini 5 Alasan PMS Perlu Dimengerti Para Pria

Juliana ChristyMinggu, 4 Mei 2025 | 01.13 WIB
ilustrasi perempuan yang nyeri haid. (Freepik)

JawaPos.com - Setiap bulan, jutaan perempuan di dunia harus menghadapi yang namanya PMS alias Premenstrual Syndrome. Sayangnya, masih banyak pria yang menganggap PMS itu cuma soal “cewek lagi drama” atau “lagi sensian aja.” Padahal, PMS bukan isapan jempol. Ia nyata, kompleks, dan bisa sangat mengganggu aktivitas dan emosi perempuan.

Kalau kamu seorang pria—pacar, suami, kakak, adik, atau bahkan rekan kerja perempuan—sudah saatnya kamu lebih peka dan paham. Ini bukan soal ikut-ikutan tren “he for she”, tapi soal jadi manusia yang punya empati.

Berikut 5 alasan kuat kenapa PMS bukan drama, dan kenapa pria perlu banget paham soal ini:

1. PMS Bukan Cerita Karangan, Tapi Fakta Medis

PMS diakui secara medis oleh organisasi kesehatan dunia dan muncul dalam jurnal-jurnal psikologi terkemuka. Gejalanya nyata: mulai dari nyeri perut, payudara sensitif, perubahan mood, sulit tidur, hingga rasa cemas berlebihan. Studi dalam National Library of Medicine menunjukkan bahwa lebih dari 75% perempuan usia reproduktif mengalami gejala PMS. Jadi, bukan lebay. Bukan baperan. Ini real.

Kalau pria terus menganggap PMS itu cuma “alasan buat marah-marah,” artinya kamu belum baca cukup banyak.

2. Mengabaikan PMS = Meremehkan Kondisi Pasangan

Bayangkan kamu sedang sakit kepala parah, tapi orang di sekitarmu malah bilang, “Kamu cuma cari perhatian.”

Begitulah rasanya bagi banyak perempuan saat PMS mereka dianggap remeh.

PMS bisa memengaruhi aktivitas sehari-hari—bekerja, belajar, bersosialisasi—semuanya bisa terganggu. Dan ketika pasangan tidak memahami ini, yang muncul adalah konflik dan jarak emosional. Penelitian menunjukkan bahwa dukungan dari pasangan bisa menurunkan stres dan meningkatkan kualitas hubungan selama fase PMS.

3. Stigma “Cewek Lagi Drama” Itu Usang dan Merugikan

Label “drama” adalah salah satu stigma paling menyakitkan bagi perempuan yang sedang berjuang menyeimbangkan hormon dan emosi. Padahal, perubahan mood saat PMS adalah reaksi biologis dari fluktuasi hormon estrogen dan progesteron.

Menuduh perempuan “cuma drama” atau "cari gara-gara" saat PMS bukan cuma nggak empatik, tapi juga memperkuat stereotip lama yang seksis. Cowok keren dan cerdas seharusnya nggak lagi pakai label murahan kayak gitu.

4. Kamu Bisa Jadi Support System yang Mereka Butuhkan

Sikap paling keren dari seorang pria bukan sekadar tampan atau tajir, tapi peduli dan bisa diandalkan. Saat perempuan sedang PMS, mereka butuh pasangan yang ngerti kapan harus mendengarkan, kapan memberi ruang, dan kapan menawari pelukan atau teh hangat.

Kamu nggak perlu jadi dokter atau psikolog. Cukup jadi pendengar yang nggak menghakimi. Dan percayalah, itu akan sangat berarti.

5. Hubungan Jadi Lebih Sehat (dan Romantis)

Fakta menarik: pria yang paham dan peduli soal PMS biasanya punya hubungan yang lebih stabil dan romantis. Kok bisa? Karena komunikasi dan empati itu fondasi hubungan yang sehat. Saat pasangan merasa dimengerti dalam kondisi terlemahnya, kepercayaan dan rasa sayang akan tumbuh makin kuat.

Jurnal dari PubMed menunjukkan bahwa pemahaman pria tentang siklus menstruasi dan PMS punya korelasi dengan tingkat kepuasan dalam hubungan. Jadi, ini bukan cuma soal “menghindari marah-marah,” tapi investasi emosional jangka panjang.

Baca Juga: 9 Efek Positif Bagi Orang yang Suka Camil Kuaci, Salah Satunya Bisa Kurangi Dampak PMS Perempuan 

PMS bukan soal manja. Bukan drama. Bukan alasan untuk bersikap “berlebihan.” PMS adalah realita bulanan yang dihadapi perempuan dengan penuh ketabahan.

Dan kalau kamu pria yang benar-benar peduli, kamu nggak akan menertawakan atau mengabaikannya. Kamu akan belajar, mendengarkan, dan jadi pendamping yang layak untuk mereka.

Karena jadi pengertian itu nggak bikin kamu lemah—justru bikin kamu lebih manusia.

EDITOR: Kuswandi