JawaPos.com - Saat seseorang diduga terinfeksi penyakit tifus, maka harus melakukan pemeriksaan medis. Sedikitnya ada 2 cara untuk mendiagnosis pasien tifus.
Dalam kicauannya yang sudah dikonfirmasi, Rabu (9/11), Ahli Spesialis Penyakit Dalam Universitas Indonesia Prof Zubairi Djoerban mengatakan kedua cara tersebut adalah tes widal dan tes darah. Kedua tes tersebut memiliki plus minus.
Tes Widal
Tes ini paling banyak digunakan di Indonesia untuk mendiagnosis tifus. Walaupun sebenarnya banyak kelemahan dari tes ini. Kemungkinan karena di Indonesia tes ini paling memungkinkan, dari segi sarana dan biaya, untuk dilakukan sebagai tes awal.
Yang diperiksa saat tes widal adalah adanya zat antibodi terhadap bagian tubuh kuman S. typhi, yaitu tubuhnya (O) dan flagella atau rambut (H). Jadi O dan H bukanlah tipe dari kuman S. typhi.
Hasil tes Widal positif belum tentu positif tifus, apakah benar? Menurutnya, Indonesia ini endemis tifus. Sebab itu hampir semua orang kemungkinan pernah kemasukan virus ini sehingga tubuhnya sudah membentuk antibodi terhadap S. typhi.
Maka, hasil positif dengan titer < 1/80 pada tes Widal biasanya belum dianggap sebagai adanya infeksi S. typhi yang baru. Lain halnya jika tes dilakukan pada orang yang berasal dari negara yang jarang terdapat kasus tifus
Sampel Darah
Pengambilan sampel darah satu kali juga belum bisa memastikan adanya infeksi baru walaupun titernya tinggi. Jadi harus dilakukan tes ulang 10-14 hari sesudah tes pertama untuk mengetahui adanya kenaikan titer. Misalnya, dari 1/320 menjadi 1/640. Namun, pengobatan tentu tidak dapat menunggu selama itu. Jadi, berdasarkan gejala klinis dan hasil tes awal, dokter Anda biasanya akan memberikan pengobatan yang sesuai.
Kesimpulannya
Meskipun begitu kedua tes ini tetap bisa dijadikan alat diagnosis tifus, terutama jika ada peningkatan kadar antibodi terhadap Salmonella dan disertai gejala tifus yang khas. Jadi, bila Anda mengalami gejala tifus, jangan ragu untuk memeriksakan diri ke dokter.