JawaPos.com - Pengobatan kanker terus berkembang dengan mengadopsi teknologi terkini. Salah satunya untuk mengobati kanker usus besar atau kolorektal.
Konsultan Hematologi Onkologi Medik FKUI-RSCM Dr. dr. Ikhwan Rinaldi, Sp.PD-KHOM, M.Epid, FINASIM, FACP, menjelaskan, pengobatan kanker kolorektal dapat dibagi menjadi 3 klasifikasi pengobatan. Yaitu pengobatan pada kondisi lokal (awal), lokal lanjut (menengah) dan metastasis (lanjut).
Kondisi lokal dan lokal lanjut ini didekati melalui tindakan operasi dilanjutkan dengan kemoterapi tambahan atau pada kanker rectum juga seringkali ditambahkan juga radioterapi atau penyinaran. Sedangkan pada kondisi metastasisi (atau kanker sudah menyebar) didekati melalui tindakan kemoterapi sebagai pengobatan utama.
"Operasi hanya dilakukan pada kondisi penyebaran kanker di satu lokasi dan tidak banyak dan berukuran kecil serta bisa dioperasi atau hanya untuk membuat kantong penampung feses di sekitar perut dengan mengeluarkan kolon atau usus besar ke perut untuk mendiversi atau mengalihkan aliran kotoran ke kantong (kolostomi)," jelasnya dalam konferensi pers virtual, Selasa (26/1).
Baca Juga: Gerogoti Jaringan Usus Besar, Kenali Gejala Kanker Kolorektal
Menurut dr. Ikhwan, dalam dekade terakhir ini, kemoterapi bukan satu-satunya obat yang diberikan untuk pasien kanker kolorektal stadium lanjut. Muncul obat-obatan lain yang dikelompokkan dalam terapi target sebagai tambahan pada kemoterapi, yang diberikan untuk menambah efektifitas pengobatan. Sehingga akhirnya diharapkan memperpanjang ketahanan hidup pasien kolorektal yang sudah bermetastasis jauh.
"Pasien kanker kolorektal yang sudah bermetastasis (kankernya menyebar jauh) semestinya mendapatkan pengobatan dalam rangka paliatif dan memperpanjang ketahanan hidup yang berkualitas. Oleh karena itu, dunia kedokteran berusaha semaksimal mungkin untuk menemukan berbagai obat yang dapat mencapai tujuan tersebut,” jelasnya.
Menurutnya, pengobatan terapi target dapat ditambahkan pada kanker kolorektal. Pengobatan itu berupa antibodi monoklonal atau molekul atau rekombinan protein fusi.
"Pada pengobatan kanker kolorektal yang sudah bermetastasis (menyebar) yang paling penting untuk menghambat pertumbuhan tumor disamping kemoterapi yang bekerja dengan cara menghancurkan sintesis DNA di inti sel sebagai komponen sel kanker sehingga sel kanker tak bisa membelah lagi dan akhirnya mati adalah penghambatan pada faktor pertumbuhan tumor," tegasnya.
Metastasis Kanker
Saat kanker menyebar, faktor pertumbuhan yang penting adalah faktor pertumbuhan epidermal dan faktor pertumbuhan pembuluh darah. Faktor pertumbuhan ini terdapat di permukaan sel kanker yang akan diikat oleh ligand pertumbuhan. Sehingga selanjutnya mengaktivasi jalur pertumbuhan dibawah permukaan sel. Akhirnya merangsang inti sel untuk melakukan pembelahan sel dan membuat sel kanker baru.
Dengan terapi target, penghambatan faktor pertumbuhan ini di permukaan sel akan menyebabkan tidak adanya ligan pertumbuhan yang menempel pada reseptor pertumbuhan di permukaan sel. Sehingga tidak ada sinyal pertumbuhan yang melalui jalur pertumbuhan di dalam sel dan akhirnya inti sel tidak membelah dan akan mati. Namun demikian, ternyata hal ini tidak terjadi semudah itu.
Penghambatan reseptor pertumbuhan tidak serta berfungsi pada semua sel kanker. Ternyata ada kanker kolorektal yang jalur pertumbuhan di dalam selnya mengalami mutasi. Sehingga penghambatan reseptor pertumbuhan di permukaan sel oleh obat penghambat reseptor pertumbuhan tidak akan juga berfungsi. Sebab sinyal pertumbuhan tetap dipancarkan oleh komponen dalam jalur pertumbuhan di dalam sel kanker.
"Oleh karena itu untuk mendapatkan efektivitas pengobatan perlu pemeriksaan ada tidaknya
mutasi dari komponen jalur pertumbuhan," tutur dr. Ikhwan.
Jika ditemukan adanya mutasi pada komponen tersebut maka penghambat reseptor faktor pertumbuhan epidermal tipe 1 semisal obat cetuximab dan panitumumab tidak bisa digunakan. Tapi jika tidak ada mutasi obat tersebut dapat bermanfaat.
Obat penghambat reseptor pertumbuhan lain yang baru-baru ini diketahui juga berperan pada kanker saluran cerna adalah reseptor faktor epidermal pertumbuhan tipe 1, yang sebelumnya diketahui sebagai reseptor faktor pertumbuhan pada kanker payudara, mirip dengan faktor pertumbuhan tipe 1, yaitu trastuzumab. Obat ini dapat diberikan pada pasien kanker kolorektal dengan Her2 positif.
Namun demikian, sebelum menggunakan obat tersebut, diutamakan menggunakan obat lain dengan mekanisme yang lain berdasarkan atas pengetahuan bahwa pertumbuhan sel kanker kolorektal ditengarai dipengaruhi juga pembentukan pembuluh darah baru oleh sel kanker yang distimulus oleh faktor pertumbuhan pembuluh darah.
Obat dengan mekanisme pertama dikenal dengan bevacizumab, sedangkan yang lain adalah ramucirumab dan aflibercept. Selain itu, ada juga molekul kecil yang memiliki efek yang mirip dengan ketiga obat tersebut yaitu regorafenib.
"Obat-obat penghambat reseptor faktor pertumbuhan itu umumnya diberikan bersama dengan obat kemoterapi yang sudah menjadi standar internasional," jelasnya.
Pengobatan lainnya
Dr. Ikhwan juga menambahkan imunoterapi, sebagai teknologi terbaru dan terupdate untuk kanker, juga telah diaplikasikan pada kanker kolorektal setelah dengan melanoma dan paru. Imunoterapi diberikan pada kanker-kanker yang memiliki antigenisitas tinggi. Salah satu tanda adanya antigenisitas tinggi adalah tingginya program death ligand (PDL)-1 yang tinggi persentasenya. Imunoterapi seperti pembrolizumab ini bekerja dengan cara menghambat ikatan antara PD-1 dar sel imun (sel T) dengan PDL-1 dari sel kanker sehingga sel imun dapat bekerja melakukan pembunuhan sel kanker.
"Gampangnya, imunoterapi ini berguna mengaktifkan kembali sel imun untuk membunuh sel kanker dengan cara menghambat ikatan yang terjadi antara sel imun dan kanker karena sebagai upaya sel kanker bertahan hidup dari sel imun," katanya.
Bagusnya, imunoterapi ini dapat diberikan sendirian tanpa kemoterapi. Meskipun digunakan pada lini ketiga pada pengobatan kanker kolorektal bermetastasis, namun dapat menjadi pilihan bagi pasien dengan performa yang kurang baik dan tidak bisa menerima kemoterapi.
“Personalised medicine pada kanker kolorektal telah memberikan ketahanan hidup yang lebih panjang bagi pasien kanker kolorektal yang bermetastasis," jelasmya.
Sayangnya obat-obatan ini masih mahal harganya dan belum bisa dijangkau oleh sebagian besar pasien kanker kolorektal. Meskipun demikian, pengetahuan tentang hal ini perlu menjadi pengetahuan masyarakat agar mengerti perkembangan pengobatan kanker yang sudah semakin canggih saat ini dan tidak berpaling ke pengobatan kanker yang lain yang bukan didasarkan atas ilmu pengetahuan kedokteran yang valid.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=_SvJUpeygPE