JawaPos.com - Belum banyak dokter spesialis yang mengambil subspesialisasi rehab jantung. Di antara mereka, ada dr Dyana Sarvasti SpJP. Perempuan itu tidak hanya bertugas memulihkan kondisi, namun juga membantu memunculkan kembali semangat pasien untuk sembuh.
''Silakan masuk. Ini kantor saya,'' sapa Dyana.
Ruang gymnasium lantai 3 di RS Husada Utama Surabaya tersebut adalah tempat kerjanya. Di situ berjajar sepeda statis, treadmill, dan perlengkapan olahraga lain. Lagu Happy milik Pharrell Williams berdentum menyambut.
Bayangan dokter jantung yang superserius seakan hilang. Ibu dua anak itu memaparkan bahwa profesi dokter rehab jantung yang dirinya lakoni memang menuntutnya untuk ramah dan riang.
''Soalnya, yang saya tangani adalah pasien pascaoperasi jantung. Rata-rata datang kondisinya merengut (cemberut, Red),'' ungkap dia.
Padahal, menurut Dyana, pasien pascaoperasi bisa dibilang sembuh dari penyakit. Meski tidak dapat melakukan aktivitas berat, mereka setidaknya bebas dari kekhawatiran serangan tiba-tiba.
''Secara logis, mereka seharusnya happy,'' jelasnya. Namun, kondisi psikologis pasienlah yang membuat mereka tampak lemah, nelangsa, bahkan memiliki emosi labil.
''Banyak yang berpikiran, sakit mereka itu parah banget. Soalnya, jantungnya sudah nggak normal lagi, pernah dioperasi,'' kata perempuan kelahiran 8 Desember 1971 tersebut.
Bahkan, beberapa pasien memilih mengungkung diri di rumah dan menghindari dunia luar. Nah, itulah PR Dyana sehari-hari. Mengembalikan kualitas hidup pasien seperti sebelum sakit.
Berbeda dengan spesialis jantung pada umumnya, alumnus subspesialisasi Prevensi dan Rehabilitasi Kardiovaskular UI tersebut memberikan edukasi seputar prevensi sekunder alias pencegahan agar penyakit jantung tidak muncul kembali.
''Makanya, kadang saya nggak cuma menerangkan kepada pasien. Keluarganya sekalian,'' papar Dyana.
Tujuannya, keluarga mampu memberikan support yang tepat buat pasien. Uniknya, kebanyakan pasien yang datang berasal dari kalangan menengah ke atas. Tidak jarang, pasiennya merupakan pejabat atau bos-bos perusahaan.
''Ya harus pintar-pintar menempatkan diri. Sebab, saya dan tim kadang nggak dianggap. Kesabarannya mesti tingkat dewa,'' ujar Dyana.
Namun, dia maklum karena kondisi psikis pasien sedang down. Bersama timnya yang berjumlah empat orang tersebut, Dyana perlahan membangun kepercayaan diri pasien.
Caranya, mulai dilatih olahraga ringan, sesi konseling dan curhat, hingga menyanyi bersama.
''Pokoknya, harus selalu senang supaya pasiennya nyaman,'' tutur istri dr Didi Darmahadi Dewanto SpOG tersebut.
Tidak jarang, pasien dan tim prevensi dan rehab jantung punya keakraban layaknya sahabat lama. Saking dekatnya dengan Dyana dan tim, ada beberapa pasien yang kerap menyambangi gym meski telah merampungkan program rehab.
''Ada yang ngajak temannya untuk ikut latihan. Ada juga pasien yang sering kirim bunga,'' ucapnya.
Buat Dyana, pasien yang bisa kembali tersenyum dan beraktivitas normal adalah penghargaan tertinggi. ''Senang karena bisa bikin orang lain senang,'' lanjutnya.
Mencari dokter seprofesi Dyana di kawasan Indonesia Timur memang tidak mudah. Subspesialisasi yang ditekuninya kurang diminati.
''Saat saya sekolah subspesialisasi di Jakarta saja, pengajarnya sampai kaget. Mereka sempat tanya, yakin nih, ambil rehab jantung,'' tegas perempuan berusia 43 tahun tersebut.
Namun, Dyana sudah mantap. Dia pun total menempuh studi. Termasuk melakoni jaga hingga 36 jam penuh di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, Jakarta, dan menempuh pelatihan di Swiss.
Dyana sadar, di dunia profesi, rehab jantung merupakan profesi kelas 1A. Yakni, profesi yang multimanfaat yang amat direkomendasikan, tetapi kering peminat.
''Saya harap, bakal banyak dokter rehab jantung di Indonesia supaya para pasien pascaoperasi dan sakit jantung punya kesempatan beraktivitas seperti normal lagi,'' tandas Dyana. (fam/c14/ayi)