← Beranda

Terus-Menerus Mencari Gejala Secara Online Alih-alih Pergi ke Dokter, Psikologi Mengungkapkan 8 Perilaku yang Dipicu oleh Kecemasan Ini

Irfan FerdiansyahKamis, 12 Februari 2026 | 18.52 WIB
seseorang yang mencari gejala secara online./Freepik/freepik

JawaPos.com - Di era digital, mencari informasi kesehatan secara online telah menjadi kebiasaan umum.

Cukup ketik satu atau dua gejala di mesin pencari, dan ribuan hasil akan muncul dalam hitungan detik.

Namun, ketika kebiasaan ini dilakukan secara terus-menerus, berlebihan, dan menggantikan konsultasi medis yang seharusnya, psikologi melihatnya bukan sekadar sebagai rasa ingin tahu — melainkan sebagai manifestasi kecemasan.

Fenomena ini sering disebut sebagai cyberchondria: kecenderungan untuk mendiagnosis diri sendiri secara berlebihan berdasarkan informasi internet, yang justru meningkatkan rasa takut, stres, dan panik.

Dilansir dari Geediting pada Senin (9/2), terdapat 8 perilaku psikologis yang sering muncul pada orang yang terus-menerus mencari gejala penyakit secara online karena kecemasan.

1. Overthinking dan Skenario Terburuk

Satu gejala ringan seperti sakit kepala bisa langsung dihubungkan dengan penyakit serius. Pikiran otomatis melompat ke kemungkinan terburuk tanpa proses berpikir rasional.

Ini adalah ciri khas catastrophic thinking, yaitu pola pikir yang selalu membayangkan hasil paling buruk dari suatu situasi.

Orang dengan pola ini jarang berhenti pada kemungkinan sederhana, seperti kelelahan atau dehidrasi, dan justru terjebak pada asumsi ekstrem.

2. Ketergantungan Validasi Digital

Alih-alih mencari kepastian dari tenaga medis, individu ini mencari ketenangan dari artikel, forum, video, atau komentar orang asing di internet. Ini menciptakan ilusi kontrol, seolah-olah dengan membaca lebih banyak informasi, kecemasan akan berkurang — padahal yang terjadi justru sebaliknya.

Ini adalah bentuk coping mechanism yang tidak sehat.

3. Peningkatan Sensitivitas Terhadap Tubuh

Mereka menjadi sangat fokus pada sensasi tubuh kecil: detak jantung, kedutan otot, rasa tidak nyaman ringan, atau perubahan kecil lainnya. Hal ini dikenal sebagai hypervigilance, yaitu kewaspadaan berlebihan terhadap sinyal tubuh.

Akibatnya, tubuh terasa seperti "sumber ancaman", bukan sistem yang alami dan adaptif.

4. Siklus Kecemasan Tanpa Akhir

Pola yang sering terjadi:

Merasa ada gejala

Mencari di internet

Menemukan informasi menakutkan

Cemas meningkat

Mencari informasi lebih banyak

Siklus ini berulang terus-menerus dan membentuk loop kecemasan psikologis yang sulit dihentikan.

5. Penundaan Konsultasi Medis Nyata

Ironisnya, semakin banyak mencari informasi online, semakin besar kemungkinan seseorang menunda pergi ke dokter. Ini bisa disebabkan oleh:

Takut diagnosis nyata

Takut dikonfirmasi bahwa sesuatu memang salah

Takut biaya

Takut menghadapi realitas

Ini disebut sebagai avoidance behavior (perilaku penghindaran).

6. Ilusi Pengetahuan Medis

Membaca banyak artikel membuat seseorang merasa "paham" tentang kesehatan, meskipun tanpa dasar medis. Ini menciptakan false sense of expertise, di mana seseorang merasa cukup tahu untuk mendiagnosis diri sendiri.

Padahal, informasi medis tanpa konteks klinis sangat berisiko disalahartikan.

7. Regulasi Emosi yang Tidak Sehat

Mencari gejala di internet sering digunakan sebagai cara menenangkan diri, tetapi efeknya justru memperparah kecemasan. Ini menunjukkan ketidakmampuan mengelola emosi secara adaptif, di mana individu menggunakan strategi yang tampak menenangkan, namun sebenarnya merusak secara psikologis.

8. Identitas Berbasis Kecemasan

Dalam jangka panjang, seseorang bisa mulai mengidentifikasi dirinya sebagai "orang yang selalu sakit", "rentan", atau "lemah". Ini membentuk self-concept berbasis kecemasan, di mana identitas diri dibangun di atas rasa takut, bukan realitas objektif.

Penutup: Internet Bukan Pengganti Dokter

Mencari informasi kesehatan itu wajar. Tapi ketika pencarian itu:

Menjadi obsesif

Memicu kecemasan

Menggantikan konsultasi medis

Membuat hidup tidak tenang

maka itu bukan lagi edukasi, melainkan bentuk kecemasan psikologis yang perlu ditangani.

Solusi Psikologis yang Sehat:

Batasi pencarian gejala online

Fokus pada sensasi tubuh yang nyata, bukan asumsi

Bangun toleransi terhadap ketidakpastian

Konsultasi langsung ke tenaga medis

Jika perlu, temui psikolog untuk mengelola kecemasan

Karena kesehatan sejati bukan hanya tentang tubuh — tapi juga tentang pikiran yang tenang, persepsi yang sehat, dan hubungan yang rasional dengan ketidakpastian hidup.

"Informasi yang berlebihan tanpa pemahaman justru menciptakan ketakutan, bukan ketenangan.

EDITOR: Hanny Suwindari