JawaPos.com — Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini hadir dalam kehidupan sehari-hari secara masif, dari alat yang membantu menulis email hingga sistem yang merekomendasikan tayangan atau mendukung keputusan medis.
Namun, reaksi publik terhadap teknologi ini sangat terpolarisasi: sebagian menyambut dengan antusias, sementara yang lain menampilkan penolakan yang tegas dan tajam. Mengapa sikap terhadap AI berbeda sedemikian drastis di seluruh dunia?
Dilansir dari Live Science, Senin (26/1/2026), fenomena ini bukan sekadar soal teknologi itu sendiri, melainkan bagaimana otak manusia memproses risiko dan kepercayaan terhadap sesuatu yang belum sepenuhnya dipahami.
Menurut analis perilaku dan psikolog Paul Jones, “Kita tidak memahami cara kerja AI, sehingga kita tidak mempercayainya.” Ketika kita tidak melihat logika di balik keputusan sistem, ketidakpastian itu menciptakan rasa tidak berdaya yang memicu skeptisisme.
Salah satu fenomena yang menjelaskan reaksi ini adalah apa yang disebut sebagai algorithm aversion, istilah yang populer di kalangan peneliti pemasaran. Jones menyatakan bahwa penelitian telah menunjukkan bahwa “orang sering kali lebih memilih penilaian manusia yang cacat daripada keputusan algoritmik, terutama setelah menyaksikan kesalahan algoritma sekali saja.” Ini berarti banyak pengguna lebih toleran terhadap kesalahan manusia ketimbang kesalahan mesin.
Reaksi tajam terhadap kesalahan algoritma juga berakar pada ekspektasi bahwa AI harus logis dan tidak bias. Ketika harapan ini dilanggar—misalnya ketika sistem salah mengklasifikasikan gambar atau menghasilkan rekomendasi yang tidak tepat—reaksi pengguna sering kali lebih kuat dibanding ketika manusia membuat kesalahan serupa. Ini disebut oleh para ilmuwan perilaku sebagai penyimpangan ekspektasi, yang menyebabkan “ketidaknyamanan dan hilangnya kepercayaan.”
Selain itu, manusia memiliki kecenderungan untuk mengatribusikan sifat manusia kepada sistem non-manusia (anthropomorphism). Jones menulis bahwa meskipun secara rasional kita tahu bahwa AI “tidak memiliki emosi atau agenda sendiri,” banyak orang tetap memproyeksikan sifat manusia pada sistem tersebut.
Ketika sebuah chatbot memberi respons yang dinilai “terlalu sopan,” sebagian pengguna justru merasakannya sebagai sesuatu yang ganjil atau menimbulkan kecurigaan. Sebaliknya, rekomendasi algoritmik yang terlalu akurat kerap dipersepsikan sebagai bentuk intrusi yang mengintimidasi.
Hal ini diperkuat oleh studi komunikasi yang menunjukkan bahwa manusia cenderung menanggapi mesin secara sosial, meskipun sadar bahwa mereka bukan manusia. Reaksi sosial ini memengaruhi cara kita berinteraksi dan mempercayai AI.
Identitas dan Ancaman Eksistensial terhadap Pekerjaan
Selain itu, bagi sebagian kelompok profesional—seperti guru, penulis, pengacara, dan desainer—AI bukan sekadar alat baru, tetapi juga ancaman terhadap nilai pekerjaan mereka.
AI yang mampu mereplikasi sebagian kemampuan yang dulu dianggap eksklusif bagi manusia dapat memicu apa yang disebut identity threat atau ancaman identitas.
Dalam konteks ini, ketidakpercayaan terhadap AI sering muncul sebagai mekanisme pertahanan psikologis, bukan sekadar reaksi terhadap teknologi.
“Ketika sebuah alat dapat menggantikan sebagian keterampilan yang manusia kuasai, rasa keberhargaan terhadap keahlian itu berkurang,” menurut penelitian perilaku yang dikutip dalam artikel ini.
Hal ini menjelaskan sebagian besar resistensi yang tampak bukan hanya sebagai penolakan teknologi, tetapi sebagai respons terhadap perasaan nilai diri yang direduksi.
Kepercayaan yang Dibangun di Atas Isyarat Emosional
Faktor lain yang memengaruhi ambivalensi terhadap AI adalah kenyataan bahwa kepercayaan manusia dibangun melalui isyarat emosional—seperti nada suara, ekspresi wajah, kontak mata—yang tidak dimiliki oleh AI.
Ketidakmampuan AI untuk memberikan tanda-tanda emosional ini menciptakan ‘keterasingan’ yang mirip dengan efek uncanny valley, yaitu ketidaknyamanan ketika sesuatu tampak hampir manusiawi tetapi tidak sepenuhnya demikian.
Ketiadaan resonansi emosional ini sering kali ditafsirkan sebagai sifat dingin atau bahkan menipu, bukan karena AI melakukan kesalahan moral, tetapi karena manusia tidak tahu bagaimana harus merasakan hubungannya dengan teknologi tersebut.
Ini menciptakan dilema mendalam tentang bagaimana membangun kepercayaan pada entitas non-manusia yang performanya sering kali melampaui kemampuan manusia dalam aspek tertentu.
Skeptisisme yang Rasional dan Ketidakpercayaan yang Dipelajari
Tidak semua kecurigaan terhadap AI adalah irasional. Sejumlah studi menunjukkan bahwa algoritma dapat mencerminkan dan memperkuat bias sosial, terutama dalam konteks perekrutan, penegakan hukum, atau penilaian kredit.
Bagi individu atau kelompok yang pernah dirugikan oleh sistem data, skeptisisme bukan sekadar paranoia, melainkan bentuk learned distrust yang rasional dan protektif.
Ini berarti kepercayaan terhadap AI tidak bisa dipaksakan. Menurut para ahli, kepercayaan harus dibangun melalui transparansi, keterbukaan, dan akuntabilitas.
AI perlu dirancang sedemikian rupa sehingga pengguna dapat memahami proses, mempertanyakan keputusan, dan merasa memiliki agen dalam interaksi—bukan hanya sekadar menerima kemudahan atau kenyamanan.
Pada akhirnya, fenomena pro dan kontra terhadap kecerdasan buatan mencerminkan dilema yang lebih luas: bagaimana manusia memahami eksistensi dan nilai diri dalam era di mana teknologi semakin meniru, dan bahkan mengungguli, kemampuan manusia.
Polarisasi ini bukan hanya soal efisiensi atau kemampuan teknologi, tetapi soal persepsi manusia terhadap risiko, kepercayaan, dan hubungan emosionalnya dengan mesin.
Sebagai teknologi terus berkembang, tantangan terbesar bukan hanya membuat AI lebih pintar, tetapi membuatnya dapat dipahami dan dipercaya oleh manusia—tanpa kehilangan kontrol ataupun martabat kita sendiri.