← Beranda
Orang yang Merekam Segalanya di Konser Alih-alih Menonton Biasanya Memiliki 8 Ciri Kepribadian Ini Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahJumat, 23 Januari 2026 | 19.15 WIB
seseorang yang merekam konser menggunakan ponsel./Freepik/aleksandarlittlewolf

JawaPos.com - Pernah datang ke konser dan menyadari satu hal yang cukup ironis: lautan manusia, lampu panggung megah, musik menggema—tetapi yang terangkat justru ratusan ponsel, bukan wajah yang menikmati momen.

Di tengah euforia itu, ada orang-orang yang hampir merekam setiap detik, dari lagu pembuka sampai encore terakhir.

Fenomena ini sering dianggap sepele: “Ya wajar, buat kenang-kenangan.” Namun menurut psikologi, kebiasaan merekam konser secara berlebihan bukan sekadar soal hobi dokumentasi.

Ada pola kepribadian, kebutuhan emosional, dan cara seseorang memaknai pengalaman hidup yang tercermin di balik layar ponsel tersebut.

Dilansir dari Geediting pada Jumat (23/1), terdapat delapan ciri kepribadian yang sering ditemukan pada orang yang lebih sibuk merekam konser dibanding benar-benar menikmatinya secara langsung.

1. Sangat Takut Kehilangan Momen (Fear of Missing Out)

Secara psikologis, perilaku ini erat kaitannya dengan FOMO—ketakutan bahwa momen berharga akan hilang selamanya jika tidak diabadikan.

Orang dengan ciri ini:

Merasa cemas jika tidak punya bukti visual

Takut suatu hari lupa detail momen tersebut

Menganggap kenangan tanpa rekaman terasa “kurang lengkap”

Alih-alih hadir penuh di saat ini, pikiran mereka justru sibuk pada masa depan: “Nanti kalau mau mengingat, aku punya videonya.”

2. Memiliki Kebutuhan Tinggi untuk Kontrol

Merekam memberi ilusi kontrol. Saat kamera menyala, seseorang merasa:

Memegang kendali atas momen

Bisa “mengulang” pengalaman kapan saja

Tidak sepenuhnya pasrah pada situasi

Dalam psikologi, ini sering muncul pada individu yang kurang nyaman dengan hal-hal yang sifatnya spontan. Mereka lebih tenang ketika sesuatu bisa disimpan, diulang, dan diatur—termasuk emosi saat konser.

3. Cenderung Eksternal dalam Memvalidasi Pengalaman

Bagi sebagian orang, pengalaman baru terasa “nyata” setelah dilihat atau diakui orang lain.

Ciri ini terlihat dari:

Dorongan kuat untuk mengunggah ke media sosial

Kepuasan bukan dari konsernya, tapi dari respons audiens

Perasaan bahwa momen belum lengkap sebelum dibagikan

Secara psikologis, ini disebut external validation orientation—harga diri lebih banyak dipengaruhi reaksi luar daripada perasaan pribadi.

4. Sulit Hadir Sepenuhnya di Saat Ini

Ironisnya, semakin sering merekam, semakin berkurang kehadiran mental seseorang.

Orang dengan ciri ini:

Mudah terdistraksi

Terbiasa multitasking

Sulit menikmati pengalaman tanpa “melakukan sesuatu”

Dalam psikologi mindfulness, ini menunjukkan kecenderungan low present-moment awareness—tubuh ada di konser, tetapi pikiran sibuk pada framing kamera, baterai, dan sudut terbaik.

5. Sangat Menghargai Memori Visual

Tidak semua ini bersifat negatif. Beberapa orang memang memiliki gaya kognitif visual yang kuat.

Mereka:

Lebih mudah mengingat melalui gambar dan video

Merasa emosi muncul kembali saat menonton rekaman

Menggunakan visual sebagai jangkar emosi

Bagi tipe ini, merekam bukan soal pamer, tetapi cara otak mereka bekerja dalam menyimpan pengalaman hidup.

6. Memiliki Kecenderungan Perfeksionis Tersembunyi

Tanpa disadari, merekam konser bisa menjadi ajang perfeksionisme:

Ingin sudut terbaik

Tak mau momen terlewat

Mengulang rekaman karena merasa “kurang pas”

Psikologi melihat ini sebagai high self-standards, di mana bahkan momen santai pun berubah menjadi tugas yang harus “sempurna”.

7. Merasa Lebih Aman di Balik Layar

Bagi sebagian orang, kamera adalah perisai emosional.

Dengan merekam:

Mereka tidak harus mengekspresikan emosi secara langsung

Bisa bersembunyi dari keramaian

Mengurangi rasa canggung atau kewalahan sosial

Ini umum pada individu yang cenderung introvert atau mudah overstimulasi, terutama di konser besar dengan ribuan orang.

8. Takut Emosi Terlalu Dalam Lalu Hilang

Menariknya, ada juga orang yang merekam justru karena emosinya sangat kuat.

Secara psikologis:

Mereka takut perasaan itu berlalu begitu saja

Video menjadi “jangkar” emosi

Rekaman dianggap cara mengawetkan rasa bahagia

Bukan karena tidak menikmati, tetapi karena menikmati terlalu dalam—dan takut kehilangannya.

Kesimpulan

Merekam konser secara berlebihan bukan sekadar kebiasaan modern, melainkan cerminan cara seseorang memproses pengalaman, emosi, dan makna hidup.

Di balik ponsel yang terangkat, ada kebutuhan akan kontrol, validasi, keamanan, atau sekadar cara berbeda dalam menikmati momen.

Yang penting bukan memilih antara merekam atau menonton, melainkan menyadari alasan di baliknya.

Karena sejatinya, momen terbaik bukan hanya yang tersimpan di galeri—tetapi yang benar-benar hidup di dalam ingatan dan perasaan kita.

EDITOR: Hanny Suwindari