← Beranda
Orang yang Memilih Hadiah yang Terpakai daripada Hadiah yang Bernilai Emosional Biasanya Menunjukkan 7 Kualitas Rasional Ini Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahRabu, 21 Januari 2026 | 02.44 WIB
seseorang yang memberikan hadiah yang terpakai./Freepik/prostock-studio

JawaPos.com - Di banyak budaya, hadiah sering dipahami sebagai simbol emosi: perhatian, kasih sayang, dan ikatan personal. Namun menariknya, tidak semua orang menilai hadiah dari sisi sentimental.

Sebagian justru lebih memilih hadiah yang terpakai dan fungsional—barang yang mungkin sederhana, tidak terlalu emosional, tetapi jelas manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam psikologi kepribadian, pilihan ini bukanlah tanda dingin atau kurang perasaan. Sebaliknya, preferensi terhadap hadiah yang terpakai sering kali mencerminkan pola pikir yang rasional, matang, dan realistis.

Orang-orang seperti ini cenderung melihat dunia apa adanya, menimbang nilai guna, dan mengambil keputusan berdasarkan logika, bukan semata perasaan sesaat.

Dilansir dari Geediting pada Senin (19/1), terdapat tujuh kualitas rasional yang umumnya dimiliki oleh orang yang lebih memilih hadiah terpakai dibanding hadiah yang bernilai emosional.

1. Berpikir Praktis dan Berorientasi Solusi

Secara psikologis, individu yang menghargai hadiah terpakai biasanya memiliki pola pikir praktis. Mereka cenderung bertanya dalam hati, “Apa manfaat nyata dari benda ini?” alih-alih “Seberapa menyentuh maknanya?”

Bagi mereka, sebuah barang yang bisa digunakan berulang kali—meski tanpa cerita emosional—lebih bernilai karena mampu menyelesaikan kebutuhan nyata. Pola pikir ini sering muncul pada orang-orang yang terbiasa menghadapi masalah secara langsung dan mencari solusi konkret, bukan sekadar penghiburan simbolis.

2. Mampu Memisahkan Emosi dari Keputusan

Salah satu ciri rasionalitas yang kuat adalah kemampuan memisahkan perasaan pribadi dari penilaian objektif. Orang yang memilih hadiah terpakai umumnya tidak menolak emosi, tetapi mereka tidak membiarkan emosi mendominasi keputusan.

Dalam psikologi kognitif, ini berkaitan dengan kontrol emosi yang baik. Mereka dapat tetap menghargai niat baik pemberi hadiah, namun fokus pada nilai guna barang tersebut. Sikap ini juga sering terlihat dalam pengambilan keputusan finansial, pekerjaan, hingga relasi sosial.

Baca Juga: Mengucapkan 'Permisi' kepada Orang Asing Meski Mereka Tak Mendengar Anda, Psikologi Menyebut Anda Memiliki 8 Kepribadian Ini

3. Menghargai Nilai Jangka Panjang

Hadiah emosional sering kali memberikan kebahagiaan sesaat, sementara hadiah terpakai cenderung memberi manfaat berulang. Orang rasional secara alami tertarik pada nilai jangka panjang.

Psikologi perkembangan menunjukkan bahwa individu dengan orientasi masa depan yang kuat lebih memilih sesuatu yang bertahan lama dan berguna, daripada sesuatu yang hanya memicu emosi singkat. Mereka berpikir, “Apakah ini masih berguna enam bulan atau setahun ke depan?”

4. Tidak Mudah Terpengaruh Tekanan Sosial

Banyak orang merasa “tidak enak” jika tidak terlihat terharu menerima hadiah emosional. Namun individu yang rasional biasanya tidak terlalu terikat pada ekspektasi sosial semacam ini.

Mereka nyaman dengan preferensi pribadinya sendiri. Jika sebuah hadiah terpakai lebih sesuai dengan kebutuhan mereka, maka itulah yang dihargai—tanpa perlu berpura-pura atau menyesuaikan diri demi citra. Ini menunjukkan kemandirian berpikir dan kepercayaan diri yang stabil.

5. Memiliki Kesadaran Efisiensi yang Tinggi

Dalam psikologi perilaku, kecenderungan memilih sesuatu yang fungsional berkaitan erat dengan kesadaran efisiensi. Orang seperti ini peka terhadap pemborosan—baik waktu, energi, maupun sumber daya.

Mereka cenderung berpikir bahwa hadiah seharusnya tidak hanya “indah secara makna”, tetapi juga masuk akal secara penggunaan. Pola ini sering terlihat pada individu yang terbiasa mengatur anggaran, mengelola waktu dengan baik, dan hidup secara terstruktur.

6. Menilai Ketulusan dari Tindakan, Bukan Simbol

Orang yang rasional umumnya tidak mengukur perhatian dari besar-kecilnya emosi simbolik sebuah hadiah. Mereka lebih melihat niat dan fungsi nyata di balik pemberian tersebut.

Dalam sudut pandang psikologi sosial, ini menunjukkan cara berpikir dewasa: ketulusan tidak selalu harus dibungkus nostalgia atau cerita emosional. Hadiah yang membantu kehidupan sehari-hari justru bisa dianggap sebagai bentuk perhatian yang lebih konkret dan tulus.

7. Stabil Secara Emosional dan Mental

Pilihan terhadap hadiah terpakai sering berkaitan dengan stabilitas emosional. Orang-orang ini tidak membutuhkan rangsangan emosional berlebihan untuk merasa dihargai atau dicintai.

Psikologi kepribadian menunjukkan bahwa individu dengan kestabilan emosi yang baik cenderung nyaman dengan hal-hal sederhana namun bermakna secara fungsi. Mereka tidak mencari validasi emosional dari objek, melainkan dari hubungan dan realitas hidup yang mereka bangun sendiri.

Kesimpulan: Rasional Bukan Berarti Kehilangan Perasaan

Memilih hadiah yang terpakai daripada hadiah yang bernilai emosional bukanlah tanda kurang sensitif atau tidak menghargai perasaan. Justru, menurut psikologi, pilihan ini sering mencerminkan pribadi yang rasional, matang, dan berpijak kuat pada realitas.

Orang-orang seperti ini menghargai manfaat, efisiensi, dan nilai jangka panjang. Mereka mampu mengelola emosi dengan baik, tidak mudah terpengaruh tekanan sosial, serta menilai ketulusan dari tindakan nyata, bukan sekadar simbol.

Pada akhirnya, rasionalitas dan empati bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Dalam banyak kasus, keduanya justru berjalan beriringan—membentuk pribadi yang tenang, realistis, dan bijak dalam menjalani kehidupan.

EDITOR: Hanny Suwindari