← Beranda

Psikologi Mengungkap Alasan Orang Sulit Tidur Tanpa TV Menyala di Malam Hari

Lania MonicaJumat, 26 Desember 2025 | 05.27 WIB
Ilustrasi orang yang membiarkan TV menyala saat tertidur di malam hari (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Tidur seharusnya menjadi waktu tubuh dan pikiran beristirahat sepenuhnya. Namun kenyataannya, tidak sedikit orang justru merasa lebih mudah terlelap ketika televisi menyala.

Fenomena ini sering dianggap kebiasaan aneh, padahal dari sudut pandang psikologi, ada penjelasan yang cukup masuk akal di baliknya.

Banyak orang mengira tidur dengan TV menyala hanya soal kebiasaan. Faktanya, para ahli psikologi menemukan bahwa kebutuhan akan suara latar saat tidur sering berkaitan dengan cara otak bekerja, kondisi emosional, hingga pengalaman hidup seseorang.

Dikutip dari laman Geediting, Rabu (24/12), berikut adalah penjelasan psikologis tentang karakter dan kecenderungan yang sering dimiliki orang-orang yang membutuhkan TV menyala agar bisa tertidur nyenyak.

1. Memiliki pikiran yang sangat aktif dan sulit berhenti berpikir

Orang yang tidur dengan TV menyala umumnya memiliki otak yang terus bekerja bahkan saat tubuh sudah lelah. Ketika suasana hening, pikiran justru dipenuhi evaluasi diri, penyesalan, hingga daftar pekerjaan esok hari.

Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai rumination, yaitu aliran pikiran berulang yang sulit dihentikan. Suara televisi membantu mengalihkan fokus otak agar tidak terjebak dalam lingkaran overthinking.

2. Merasa keheningan justru tidak menenangkan

Bagi sebagian orang, keheningan total terasa “terlalu keras”. Setiap suara kecil—seperti angin, kendaraan lewat, atau kayu berderit—menjadi lebih mengganggu saat malam sunyi.

TV menciptakan suara yang stabil dan konsisten, sehingga otak tidak terus-menerus siaga terhadap bunyi acak dari lingkungan sekitar.

3. Berkaitan dengan kecemasan yang terpendam

Kebutuhan akan suara latar juga sering dikaitkan dengan tingkat kecemasan tertentu. Saat berbaring dalam gelap tanpa distraksi, pikiran cemas cenderung muncul lebih kuat.

Televisi berfungsi sebagai mekanisme coping, membantu pikiran tetap “sibuk” sehingga kekhawatiran tidak mengambil alih.

4. Mandiri, tetapi membutuhkan rasa nyaman secara halus

Menariknya, banyak orang yang tidur dengan TV menyala justru dikenal mandiri dan jarang bergantung pada orang lain secara emosional. Namun, kebutuhan akan rasa aman tetap ada.

Suara TV memberikan kesan kehadiran tanpa menuntut interaksi sosial atau keterbukaan emosional.

5. Sangat sensitif terhadap lingkungan sekitar

Sebagian orang memiliki tingkat sensitivitas sensorik yang lebih tinggi. Mereka lebih peka terhadap cahaya, suara, dan perubahan lingkungan kecil.

Alih-alih terganggu oleh suara TV, sistem saraf mereka justru merasa lebih nyaman dengan stimulasi yang konsisten dibandingkan keheningan penuh yang tak terduga.

6. Terbentuk sejak kebiasaan masa kecil

Psikolog tidur menyebut adanya sleep-onset association, yaitu kondisi tertentu yang diasosiasikan otak dengan waktu tidur.

Jika sejak kecil seseorang terbiasa tidur dengan suara—entah TV, radio, atau aktivitas keluarga—maka kebiasaan itu bisa terbawa hingga dewasa.

7. Menggunakan distraksi untuk menghindari emosi tertentu

Bagi sebagian orang, TV menjadi pengalih dari pikiran atau emosi yang belum siap dihadapi. Dengan adanya suara, otak tidak sepenuhnya tenggelam dalam refleksi diri yang mendalam.

Meski tidak selalu negatif, kebiasaan ini bisa menjadi sinyal bahwa seseorang sedang membutuhkan ruang aman untuk memproses emosinya secara bertahap.

8. Cenderung pemikir mendalam

Bertolak belakang dari anggapan umum, orang yang membutuhkan TV saat tidur sering kali adalah deep thinker. Mereka terbiasa menganalisis, merencanakan, dan memikirkan banyak hal sekaligus.

Televisi membantu “menenangkan” bagian otak yang terlalu aktif tanpa memaksa fokus penuh.

9. Membawa stres harian hingga waktu tidur

Sebagian individu memiliki sleep reactivity tinggi, yaitu kondisi ketika stres di siang hari sangat memengaruhi kualitas tidur malam.

TV membantu menciptakan batas psikologis antara rutinitas harian dan waktu istirahat.

10. Menyukai rutinitas dan pola yang konsisten

Terakhir, kebiasaan tidur dengan TV menyala sering menjadi bagian dari ritual malam yang konsisten. Pola yang berulang membantu otak mengenali sinyal bahwa waktu tidur telah tiba.

Rutinitas ini membuat proses transisi menuju tidur terasa lebih aman dan terkontrol.

EDITOR: Hanny Suwindari