← Beranda

Orang yang Sering Membatalkan Rencana Biasanya Memiliki 5 Ciri Ini yang Tidak Mereka Sadari Menurut Psikologi

Irfan FerdiansyahRabu, 24 Desember 2025 | 01.35 WIB
seseorang yang sering membatalkan rencana./Freepik/stockking

JawaPos.com - Pernah berjanji bertemu, menyusun agenda, atau merencanakan sesuatu dengan penuh semangat—lalu mendadak membatalkannya?

Sekali dua kali mungkin hal yang wajar. Namun, bagi sebagian orang, membatalkan rencana justru menjadi pola yang berulang.

Menariknya, menurut psikologi, kebiasaan ini sering kali bukan soal malas atau tidak peduli, melainkan berkaitan dengan ciri kepribadian dan kondisi mental tertentu yang kerap tidak disadari oleh pelakunya sendiri.

Di balik pesan singkat “maaf, aku nggak jadi ya,” tersimpan proses psikologis yang cukup kompleks.

Dilansir dari Geediting pada Senin (22/12), terdapat lima ciri umum yang sering dimiliki orang yang kerap membatalkan rencana—tanpa mereka sadari.

1. Terlalu Optimistis Saat Membuat Rencana

Salah satu ciri paling umum adalah over-optimism bias—kecenderungan melebih-lebihkan energi, waktu, dan kondisi diri di masa depan. Saat membuat rencana, mereka merasa akan baik-baik saja, punya cukup tenaga, dan mampu menjalani semuanya.

Namun ketika hari yang dijanjikan tiba, realitas berbicara lain. Tubuh lelah, pikiran penuh, atau suasana hati tidak seideal bayangan sebelumnya. Akhirnya, pembatalan terasa seperti satu-satunya jalan keluar.

Menurut psikologi, orang dengan ciri ini bukan pembohong, melainkan kurang akurat dalam memprediksi kondisi emosional dan fisiknya sendiri.

2. Sensitivitas Tinggi terhadap Stres dan Tekanan Sosial

Bagi sebagian orang, rencana—terutama yang melibatkan orang lain—bisa terasa seperti beban psikologis. Bahkan aktivitas yang menyenangkan pun dapat memicu stres jika ada ekspektasi sosial di dalamnya.

Ciri ini sering muncul pada individu yang:

Mudah cemas

Terlalu memikirkan penilaian orang lain

Takut mengecewakan, tapi juga takut tidak mampu tampil maksimal

Alih-alih mengungkapkan perasaan sejak awal, mereka memilih membatalkan di menit terakhir ketika tekanan mental terasa memuncak.

3. Kesulitan Menetapkan Batasan Sejak Awal

Orang yang sering membatalkan rencana biasanya sulit berkata “tidak” di awal. Mereka menyetujui ajakan bukan karena benar-benar siap, tetapi karena:

Tidak enak menolak

Takut dianggap tidak peduli

Ingin menjaga hubungan

Sayangnya, persetujuan yang tidak tulus ini menyimpan konflik batin. Ketika waktu semakin dekat, ketidaksiapan itu berubah menjadi dorongan kuat untuk mundur.

Psikologi menyebut ini sebagai bentuk people-pleasing behavior yang tidak sehat.

4. Kebutuhan Tinggi akan Kendali dan Kenyamanan Diri

Membatalkan rencana sering kali memberi rasa “lega”. Bagi individu tertentu, pembatalan adalah cara mengambil kembali kendali atas hidupnya, terutama jika ia merasa terlalu banyak tuntutan di sekelilingnya.

Ciri ini biasanya dimiliki oleh orang yang:

Cepat merasa kewalahan

Sangat menghargai kenyamanan pribadi

Sulit beradaptasi dengan perubahan suasana

Tanpa disadari, membatalkan rencana menjadi mekanisme perlindungan diri dari rasa tidak nyaman, meski berdampak pada hubungan sosial.

5. Ada Konflik Emosional yang Belum Terselesaikan

Dalam beberapa kasus, kebiasaan membatalkan rencana berkaitan dengan kondisi emosional yang lebih dalam, seperti:

Kelelahan mental berkepanjangan

Burnout

Gejala depresi ringan

Kehilangan minat pada hal-hal yang dulu menyenangkan

Orang dengan ciri ini sering merasa bersalah setelah membatalkan, tetapi tidak tahu bagaimana menghentikan polanya. Mereka bukan tidak mau hadir—mereka tidak punya cukup kapasitas emosional untuk hadir.

Kesimpulan: Membatalkan Rencana Bukan Selalu Soal Sikap

Psikologi mengajarkan kita bahwa perilaku manusia jarang sesederhana yang terlihat di permukaan. Orang yang sering membatalkan rencana bukan selalu tidak konsisten atau tidak menghargai orang lain. Sering kali, mereka sedang berjuang dengan ekspektasi diri, tekanan emosional, dan keterbatasan yang belum sepenuhnya mereka pahami.

Memahami lima ciri ini bukan untuk membenarkan kebiasaan membatalkan rencana, melainkan sebagai langkah awal untuk lebih jujur pada diri sendiri. Dengan kesadaran, seseorang bisa belajar membuat rencana yang lebih realistis, menetapkan batasan yang sehat, dan berkomunikasi dengan lebih terbuka.

Karena pada akhirnya, hadir sepenuhnya—baik untuk orang lain maupun diri sendiri—berawal dari mengenali kondisi batin yang sebenarnya.

EDITOR: Hanny Suwindari