JawaPos.com - Usia memang membawa pengalaman hidup yang berharga.
Namun, ada kalanya pengalaman justru membuat seseorang terjebak pada cara pandang lama yang tidak lagi relevan dengan zaman sekarang.
Sebagian orang yang telah memasuki usia 60 tahun ke atas mungkin masih berpegang pada kebiasaan dan selera yang dulu dianggap keren—padahal kini justru dianggap kuno, tidak efisien, atau bahkan menghambat perkembangan diri.
Artikel ini tidak ditujukan untuk merendahkan, melainkan sebagai ajakan refleksi dan pembuka ruang untuk beradaptasi.
Sebab dunia berubah begitu cepat—dan mereka yang bisa mengikuti perubahan akan tetap dihargai, bahkan di usia senja sekalipun.
Dilansir dari Geediting pada Senin (10/11), terdapat 8 hal yang dianggap keren di masa lalu, tetapi kini justru menunjukkan Anda sudah ketinggalan zaman.
1. Menganggap Punya HP Jadul Tanpa Internet adalah Kebanggaan
Dulu, punya ponsel sekadar untuk telepon dan SMS sudah cukup.
Bahkan beberapa orang menganggap “tidak butuh internet” adalah bentuk kebijaksanaan.
Namun di era digital, sikap ini justru membatasi diri.
Internet bukan soal gaya, tetapi kebutuhan:
Komunikasi dengan keluarga (chat, video call)
Baca Juga: Borong Medali Emas dan Perak, SMAK 1 Penabur Raih 11 Prestasi di OSN SMA 2025
Akses informasi aktual
Mengurus administrasi online
Belajar hal-hal baru
Bangga tidak pakai internet sama dengan menutup diri dari dunia yang terus bergerak.
2. Menganggap Semua yang Baru Itu Tidak Berguna
Ada yang selalu berkata, “Zaman dulu lebih baik,” atau “Teknologi cuma bikin malas.”
Padahal, kemajuan hadir karena kebutuhan.
Menolak semua hal baru hanya menunjukkan ketidakmauan beradaptasi.
Sikap ini justru menghambat, terlebih ketika banyak layanan kini berbasis digital.
3. Memandang Televisi Sebagai Sumber Informasi Utama
Dulu hanya ada TV, sehingga semua percaya pada apa yang ditayangkan.
Saat ini, dunia informasi jauh lebih luas dan cepat. Mengandalkan TV saja membuat seseorang rentan:
menerima informasi yang tidak seimbang,
tertinggal berita terbaru,
terpancing konten sensasional.
Kesadaran literasi digital menjadi penting di era ini.
4. Merasa Anak dan Cucu Harus Selalu Mendengarkan Tanpa Boleh Membantah
Di masa lalu, senioritas identik dengan kebenaran mutlak. Kini, diskusi setara lebih dihargai.
Anak muda memiliki perspektif dan pengetahuan baru yang juga valid.
Memaksakan pendapat hanya karena senioritas malah menunjukkan ketidakmampuan menerima perkembangan zaman.
5. Menyimpan Uang Hanya di Rumah dan Tidak Percaya Perbankan
Banyak orang tua bangga menyimpan uang di lemari atau bawah kasur.
Padahal, sekarang sistem keuangan jauh lebih aman dan bermanfaat:
uang bisa berkembang lewat bunga atau investasi,
ada jaminan keamanan,
transaksi lebih praktis.
Menyimpan uang tunai dalam jumlah besar justru berisiko dan menunjukkan ketidakmelekkan finansial.
6. Menganggap Perempuan Tidak Perlu Pendidikan Tinggi
Pandangan ini mungkin lazim di masa lalu. Namun sekarang, pendidikan adalah hak setiap orang.
Bahkan banyak perempuan menjadi pemimpin, profesional sukses, dan penopang ekonomi keluarga.
Jika di usia 60 Anda masih merasa perempuan tak perlu sekolah tinggi, ini tanda besar Anda tertinggal zaman.
7. Merasa Semua yang Ada di Media Sosial adalah Konyol
Memang ada banyak hal tidak penting di media sosial.
Namun menganggap seluruhnya buruk adalah pandangan sempit.
Media sosial kini menjadi:
ruang belajar,
tempat membangun relasi,
pasar bisnis,
wadah kreativitas.
Menolak total sama artinya menutup pintu kesempatan.
8. Mengagungkan Masa Lalu dan Tidak Mau Belajar Hal Baru
Nostalgia itu wajar. Tetapi menjadikannya pegangan hidup dan menolak belajar hal baru hanyalah penghambat.
Dunia tidak akan menunggu.
Mereka yang bertahan pada romantisme masa lalu perlahan tertinggal, bukan karena usia—melainkan karena keengganan untuk berubah.
Kesimpulan: Bukan Tentang Usia, Tapi Cara Pandang
Menjadi modern bukan soal terlihat muda, tetapi soal mau terus belajar.
Beradaptasi bukan berarti meninggalkan masa lalu, melainkan membuka diri terhadap hal baru agar tetap relevan.
Usia 60 tahun bukan batas untuk berhenti berkembang.
Justru pada tahap ini, belajar hal baru bisa menjadi sumber kebanggaan—bukan sekadar bertahan pada apa yang dulu dianggap keren.
Karena pada akhirnya, yang membuat seseorang terlihat “ketinggalan zaman” bukan rambut beruban atau langkah yang pelan, melainkan cara pandang yang berhenti bergerak.