← Beranda

Jika Anda Sering Disalahpahami, Biasanya Memiliki 7 Tanda Ini Menurut Psikologi yang Harus Dipahami

Wahyu Eka PutraKamis, 6 November 2025 | 14.00 WIB
Ilustrasi hal yang sering disalahpahami menurut psikologi. Freepik

JawaPos.com - Anda berbagi sesuatu yang penting dan orang lain salah menyampaikannya atau mereka bereaksi dengan cara yang membuat Anda berpikir, apalah saya berbicara bahasa lain?

Jika hal itu terdengar tak asing, jangan khawatir. Merasa disalahpahami adalah hal yang umum, dan menurut pengalaman, hal itu jarang terjadi karena dunia ini penuh dengan pendengar yang buruk. 

Lebih sering kita terjebak dalam kebiasaan yang diam-diam mengaburkan pesan kita.

Dilansir dari Geediting, ini adalah 7 tanda yang mungkin menghalangi Anda, dan cara memperbaikinya!

1. Hanya Memberi Petunjuk

Baca Juga: 5 Shio yang Doanya Bisa Tembus Langit ke-7, Pancaran Energi Spiritual yang Membuka Berkah, Rezeki, dan Ketenangan Hidup Menurut Ilmu Feng Shui

Pernahkah Anda mendapati diri Anda memberikan petunjuk dan berharap orang lain yang menghubungkannya? 

Psikolog menyebutnya komunikasi tidak langsung. Kita berasumsi orang lain mempunyai konteks, tingkat stres, dan asumsi yang sama dengan kita.

Namun, orang tidak dapat bertindak berdasarkan apa yang tidak mereka ketahui sebelumnya. Seumpama ya g jernih mengalahkan yang pintar setiap waktu.

Keterusterangan itu penuh belas kasihan dan memberi orang lain kesempatan yang adil untuk bertemu Anda di mana pun Anda berada.

2. Berharap Orang Membaca Pikirannya

Yang ini berpasangan dengan yang pertama tetapi layak mendapat sorotan mereka tersendiri.

Mengharapkan orang lain mengetahui kebutuhan kita tanpa kita mengatakannya adalah resep untuk perselisihan. 

Dalam psikologi ada kesalahan berpikir yang dikenal sebagai ilusi transparansi. Kita percaya perasaan kita lebih kentara daripada kenyataannya.

Bahkan kita pikir kekecewaan kita tampak di wajah kita atau bahwa diamnya kita berbicara banyak hal.

3. Hanya Mendengar

Seseorang sedang berbicara dan pikiranku sudah merancang sanggahan, cerita, dan solusi yang ada dalam kepala.

Mendengarkan secara aktif kedengarannya seperti keterampilan yang tak bagus, tetapi merupakan alat yang ampuh. 

Hal ini menurunkan kewaspadaan orang lain dan memberi Anda data akurat untuk digunakan kepada mereka. 

Tunjukkan ketertarikan yang tulus, ajukan pertanyaan, dan renungkan kembali apa yang Anda dengar dalam bahasa yang sederhana.

Orang akan rileks saat mereka merasa dipahami, namun saat mereka rileks mereka dapat mendengarkan Anda. 

Tipsnya ialah hitung sampai tiga sebelum berbicara. Tiga detik tersebut memberi ruang bagi orang lain untuk menyelesaikan pikirannya, dan menghentikan dorongan Anda untuk ikut campur.

4. Terlalu Defensif

Jika setiap perselisihan terasa seperti serangan, komunikasi menjadi medan 

perang untuk bersuara.

Di balik refleks itu seringkali terdapat rasa takut akan rasa malu. Kita mendengar, Anda melewatkan satu detail, dan otak kita menerjemahkannya menjadi, Anda ceroboh.

Kita bereaksi terhadap cerita itu, bukan kata-katanya. Psikologi memiliki ide bermanfaat yang disebut penilaian ulang.

Anda berhenti sejenak dan memberikan makna baru pada apa yang Anda dengar.

Daripada mengatakan, mereka menghina saya, coba katakan, mereka memberi saya informasi tentang bagaimana tindakan saya memengaruhi mereka. 

Ini bukan tentang menelan semua kritik; ini tentang membeli beberapa detik ketenangan untuk memilih respons Anda. 

Ketika kamu merasa bahumu menegang, sebutkan sikap defensif itu pada dirimu sendiri. Tarik napas sekali, lalu ajukan pertanyaan yang mengklarifikasi.

Bisakah Anda memberi saya contoh spesifik? Anda berubah dari terluka menjadi penasaran, dan Anda juga belajar apakah umpan baliknya konkret, yang dapat Anda gunakan, atau sekadar sindiran yang dapat Anda kesampingkan. 

5. Terlalu Personal

Pernahkah Anda menerima pesan singkat dan langsung berpikir, mereka pasti marah padaku? Kita menjadikan diri kita sebagai tokoh utama dalam kejadian-kejadian yang tidak ada kaitannya dengan kita. 

Email singkat mungkin merupakan hasil dari hari yang sibuk, bukan dendam rahasia, atau seorang teman menjadwal ulang makan siang dan kita memutuskan mereka tidak menghargai kita, alih-alih mempertimbangkan bahwa anak mereka mungkin demam.

Kebiasaan ini berjalan berdasarkan apa yang disebut oleh para psikolog sebagai bias negatif. Otak kita rentan terhadap ancaman.

6. Batasan yang Tidak Jelas

Kesalahpahaman berkembang dalam kabut antara ya dan tidak, jika Anda mengatakan ya ketika Anda ingin mengatakan tidak, orang belajar mengabaikan kata-kata Anda dan mengikuti pola Anda.

Jika Anda terlalu berkomitmen, lalu mengabaikannya, orang lain akan menganggap Anda tidak dapat diandalkan, meskipun hati Anda baik.

Batasan yang sehat itu jelas, konsisten, dan baik. Anda dibolehkan untuk mengatakan tidak tanpa alasan yang jelas dari pengadilan, dan Anda dibolehkan untuk bernegosiasi. 

Semakin sering Anda mempraktikkan ini, semakin hidup Anda berhenti mengirimkan pesan yang membingungkan. 

Katakan tidak pada sesuatu yang sepele sekali sehari, tolak tambahan pekerjaan yang tidak Anda inginkan, dan belajarlah untuk berkata, "Saya tidak mau", ketika rekan kerja menambahkan lagi untuk hal yang bukan urusan Anda.

Tujuannya adalah untuk membuat batasan Anda terlihat sehingga orang dapat berhubungan dengan Anda tanpa melewati batas yang tidak terlihat.

7. Tidak Sesuai Kata dan Tindakan

Anda dapat mengucapkan kalimat yang sempurna, tetapi jika nada dan postur tubuh Anda bertentangan, orang akan memercayai ucapan non-verbal Anda. 

Solusinya adalah dengan mengembalikan tubuh Anda ke kejujuran. Jangan pernah membicarakan hal yang tak akan pernah Anda wujudkan.

EDITOR: Hanny Suwindari