JawaPos.com - Pernah merasa ingin dekat dengan seseorang, tapi justru kamu malah menjauh tanpa tahu sebabnya apa?
Awalnya kamu mungkin merasa nyaman saat dekat dengan orang lain, tapi kemudian muncul rasa cemas dan ingin menarik diri. Hati kamu ingin tetap dekat, tapi tubuh dan pikiran seperti menolak. Apakah kedekatan itu menakutkan bagimu?
Kalau kamu pernah merasakan hal seperti itu, bisa jadi kamu sedang mengalami tanda-tanda Avoidant Personality Disorder (APD) atau gangguan kepribadian menghindar.
APD bukan sekadar rasa malu atau butuh ruang pribadi. Ini adalah kondisi psikologis yang lebih dalam, di mana seseorang memiliki ketakutan besar terhadap penolakan, hingga hubungan sederhana pun bisa terasa menekan dan melelahkan.
Baca Juga: Ramalan Shio Kelinci November 2025: dari Karir, Finansial, Kesehatan, Kepribadian Hingga Hubungan
Dari penjelasan pada salah satu video di kanal Youtube Psikologi populer yakni Psych2go, menurut data, sekitar 2,7% populasi dunia mengalami APD.
Angkanya bisa jadi lebih tinggi karena banyak orang tidak pernah mencari bantuan profesional, justru karena rasa takut yang sama, yakni takut ditolak, takut dihakimi, atau takut dianggap “bermasalah”.
Padahal, memahami gangguan ini bisa membantu seseorang membangun hubungan yang lebih sehat, baik dengan orang lain maupun dirinya sendiri.
Berikut lima hal penting yang perlu kamu ketahui tentang Avoidant Personality Disorder (APD) menurut psikologi.
1. Selalu Merasa Tidak Cukup Baik
Bagi seseorang dengan APD, rasa rendah diri bukan hanya sekadar pikiran sesaat. Ia perasaan tidak pantas, tidak layak, atau ditolak itu selalu menghantui. Biasanya, pola ini terbentuk sejak kecil, dari pengalaman merasa tidak diinginkan, sering dikritik, atau tidak pernah merasa aman secara emosional.
Penelitian menunjukkan bahwa penderita APD sering memiliki masalah keterikatan (attachment issues) dan kesulitan sosial yang membuat mereka sulit percaya diri. Akibatnya, ketika seseorang mencoba mendekatimu, kamu justru mempertanyakan, “Kenapa dia mau dekat denganku?”
Ini hanya pola berpikir yang terbentuk dari pengalaman.Kamu akan mulai merasa aman saat kamu mulai menyadari bahwa kamu layak dicintai dan tidak perlu membuktikan nilai dirimu kepada siapa pun.
2. Pola “Tarik-Ulur” dalam Hubungan
Banyak orang dengan APD mengalami dinamika “push and pull”. Ingin dekat tapi juga takut. Ketika hubungan mulai terasa terlalu emosional, muncul dorongan untuk menjauh karena takut terluka. Namun setelah menjauh, rasa kesepian justru datang, membuat mereka ingin kembali mendekat. Siklus ini bisa sangat melelahkan.
Kuncinya bukan menyalahkan diri sendiri, melainkan menyadari kapan siklus itu terjadi. Cobalah bertanya dengan lembut pada diri sendiri: “Apakah aku sedang takut, atau hanya merasa kewalahan?” Kesadaran kecil ini bisa membantu kamu lebih tenang dan tidak dikendalikan oleh rasa takut.
3. Terlalu Waspada dalam Hubungan
Bagi penderita APD, menjalin hubungan bisa terasa seperti berjalan di atas tali. Setiap perubahan nada bicara atau ekspresi orang lain bisa memicu pikiran negatif seperti, “Apakah dia marah?” atau “Aku pasti melakukan kesalahan.”
Kondisi ini disebut hyper-awareness, dan sering muncul karena pengalaman masa lalu yang membuat seseorang sangat sensitif terhadap penolakan. Penelitian menunjukkan bahwa penderita APD bahkan memiliki gangguan keterikatan yang lebih kuat dibandingkan dengan penderita social anxiety.
Jika kamu sering merasa seperti ini, cobalah untuk berhenti sejenak dan bernapas. Tanyakan pada diri sendiri, “Apakah ini benar-benar masalah, atau hanya rasa takut?” Langkah kecil ini bisa membuat kamu lebih tenang dan terbuka terhadap hubungan yang sehat.
4. Takut Menjadi Beban atau Ditolak
Rasa takut berlebihan adalah hal yang sangat umum pada orang dengan APD. Mereka sering menahan diri untuk tidak meminta bantuan atau menunjukkan perasaan karena takut dianggap merepotkan.
Mungkin dulu kamu pernah dibuat merasa tidak penting, atau kebutuhanmu diabaikan. Pengalaman seperti ini bisa menanamkan keyakinan bahwa menunjukkan kebutuhan sama dengan merepotkan dan membuat orang kesal atau malah pergi meninggalkanmu.
Namun, menghindari hubungan demi merasa aman justru membuat kamu semakin kesepian. Ingat, kamu punya hak untuk meminta dukungan dan berhak untuk dicintai tanpa harus “sempurna.”
5. Emosi yang Terasa Meledak-Ledak
Bagi penderita APD, emosi sering kali terasa terlalu intens, baik itu ketakutan, kesedihan, bahkan kebahagiaan. Penelitian menunjukkan bahwa bagian otak yang mengatur emosi pada penderita APD bekerja lebih aktif, terutama dalam situasi stres.
Inilah sebabnya mengapa hal-hal kecil bisa terasa sangat besar. Tapi penting untuk diingat, merasakan emosi bukan berarti kamu lemah. Emosi adalah sinyal dari tubuh dan pikiran bahwa kamu sedang memproses sesuatu yang penting. Belajarlah untuk menerima dan menenangkan emosi itu dengan lembut, bukan malah menekannya.
Jika kamu sering menarik diri meskipun ingin dekat dengan orang lain, bukan berarti kamu dingin atau tidak peduli. Kamu hanya sedang berusaha melindungi diri dari luka lama.
Ketika kamu memahami bahwa “menarik diri” adalah bentuk pertahanan, bukan penolakan, kamu akan mulai bisa memandang dirimu dengan lebih manusiawi. Kadang cinta bukan soal terus berdekatan, tapi soal memberi ruang untuk pulih dan belajar merasa aman.
Ingat, kamu tidak sendirian dan tidak sakit. Dengan waktu, kesadaran, dan dukungan yang tepat, kamu bisa belajar membuka hati tanpa merasa takut. Karena pada akhirnya, kedekatan yang sehat selalu dimulai dari rasa aman di dalam diri sendiri.