← Beranda

Orang-orang yang Tidak Suka Disentuh Biasanya Punya 7 Pengalaman Masa Kecil Ini Menurut Psikologi

Mohammad Maulana IqbalSelasa, 4 November 2025 | 22.19 WIB
pengalaman masa kecil orang-orang yang tidak suka disentuh menurut psikologi. (Freepik/ freepik)

JawaPos.com – Psikologi telah mengungkap fakta menarik tentang orang yang tidak nyaman disentuh oleh orang lain.

Pengalaman tertentu di masa kecil ternyata berperan besar membentuk preferensi tidak nyaman disentuh hingga dewasa.

Pengalaman masa kecil seseorang bisa meninggalkan jejak mendalam yang memengaruhi cara mereka merespons ketika disentuh fisik.

Disentuh bagi sebagian orang bukan sekadar interaksi biasa, melainkan pemicu kecemasan akibat kejadian lampau.

Dilansir dari geediting.com pada Selasa (4/11), bahwa ada tujuh pengalaman masa kecil orang-orang yang tidak suka disentuh menurut psikologi.

Baca Juga: Hoki Tiada Tanding! 7 Shio yang Rezekinya Tak Pernah Seret dan Hidupnya Selalu Dikelilingi Kekayaan

  1. Minimnya sentuhan kasih sayang saat tumbuh

Regina Pally, psikiater dari UCLA School of Medicine, menegaskan bahwa ketiadaan sentuhan penuh kasih sayang berdampak serius pada perkembangan anak.

Bayi dan balita yang jarang mendapat pelukan atau belaian cenderung menganggap kontak fisik sebagai sesuatu yang asing.

Ketika dewasa, mereka mungkin merasa cemas atau terganggu saat ada orang menyentuh lengan atau memeluk mereka.

Hal ini bukan karena sikap sombong, tetapi karena otak mereka tidak terbiasa mengasosiasikan sentuhan dengan kehangatan.

Kurangnya kontak fisik di tahun-tahun awal kehidupan membentuk pola respons yang bertahan hingga bertahun-tahun kemudian.

  1. Trauma yang melibatkan kontak fisik kasar

Beberapa anak mengalami momen traumatis yang melibatkan sentuhan agresif atau menyakitkan dari orang terdekat mereka.

Permainan fisik yang awalnya menyenangkan bisa berubah menjadi sumber ketakutan jika terlalu kasar atau tidak terkontrol.

Sigmund Freud pernah mengatakan bahwa kita paling rentan menderita saat kita mencintai seseorang dengan tulus.

Dalam konteks keluarga, sentuhan yang seharusnya menjadi ungkapan sayang malah menciptakan ketidaknyamanan jangka panjang.

Anak yang pernah merasakan kekerasan fisik, meski dalam bentuk bermain, akan mengembangkan penolakan terhadap kontak tubuh.

Baca Juga: Sukses Tak Bisa Dihindari! 5 Shio Ini Lahir dengan Energi Kejayaan dan Kemakmuran

  1. Pengabaian emosional yang tidak terlihat

Dr. Jonice Webb, penulis buku tentang penelantaran emosional, menjelaskan bahwa anak yang diabaikan secara emosional belajar menyembunyikan perasaannya.

Mereka membangun tembok pelindung karena tidak ada yang mengakui atau memvalidasi kebutuhan emosional mereka sejak kecil.

Sentuhan sering kali merupakan bentuk koneksi emosional, sehingga mereka yang tumbuh tanpa kedekatan emosional menolak kontak fisik.

Ini adalah mekanisme pertahanan bawah sadar untuk melindungi diri dari kemungkinan terluka secara emosional lagi.

Ketidakmatangan emosional orang tua atau pengasuh menciptakan pola penghindaran yang terbawa hingga dewasa.

  1. Lingkungan keluarga yang penuh kekacauan

Rumah tangga yang dipenuhi pertengkaran, kekerasan, atau ketidakstabilan membuat anak mengasosiasikan sentuhan dengan bahaya atau konflik.

Studi dari University of Toronto tahun 2014 menunjukkan bahwa anak yang menyaksikan kekerasan domestik lebih mungkin menolak kontak fisik.

Peneliti menemukan bahwa anak-anak ini menginterpretasikan isyarat emosional dari sentuhan sebagai tanda ancaman atau bahaya yang mengintai.

Jika sentuhan di rumah selalu berhubungan dengan agresi, bukan kenyamanan, maka otak anak akan merekam pola negatif itu.

Komunikasi nonverbal yang dipelajari sejak dini membuat mereka mendiskreditkan sentuhan sebagai hal positif selamanya.

Baca Juga: 6 Shio dengan Rezeki Paling Melimpah Ruah, Hidupnya Bak Jadi Mesin ATM Keluarga yang Sukses Mencukupi Semua Kebutuhan

  1. Tidak adanya ruang pribadi semasa kecil

Abraham Maslow menekankan bahwa manusia tidak hanya butuh ruang fisik tetapi juga ruang psikologis seperti privasi dan kebebasan.

Anak yang tumbuh di lingkungan ramai tanpa batas privasi sering kali kehilangan konsep ruang personal yang sehat.

Rumah yang penuh dengan anggota keluarga besar membuat setiap sudut terisi, sehingga anak tidak pernah merasakan kesendirian.

Ketika dewasa, mereka sangat menghargai ruang pribadi dan menganggap sentuhan orang lain sebagai invasi terhadap wilayah mereka.

Kekurangan ruang pribadi di awal kehidupan memprogram seseorang untuk melihat kontak fisik sebagai gangguan yang tidak diinginkan.

  1. Kelimpahan sentuhan fisik yang berlebihan

Paradoksnya, terlalu banyak belaian dan pelukan juga bisa menciptakan penolakan terhadap sentuhan di kemudian hari.

Anak yang dibanjiri kasih sayang fisik secara berlebihan mungkin merasa sesak dan ingin menjauh dari kontak tubuh.

Sigmund Freud pernah mencatat bahwa terlalu banyak dari sesuatu tidak selalu bermanfaat dan kadang kita perlu menjauh untuk menghargainya.

Ketika sentuhan terlalu sering dan tidak diinginkan, anak bisa menjadi tidak peka atau justru terganggu olehnya.

Saat mereka tumbuh dewasa, sentuhan kehilangan makna emosionalnya dan berubah menjadi pemicu stres atau gangguan.

  1. Kejadian negatif di lingkungan sekolah

Sekolah adalah tempat penting untuk perkembangan sosial, tetapi juga bisa menjadi sumber trauma terkait kontak fisik.

Beberapa anak mengalami sentuhan yang invasif dari teman sekelas, baik dalam bentuk perundungan maupun perilaku kasar lainnya.

B.F. Skinner mengingatkan bahwa cara penguatan positif dilakukan lebih penting daripada jumlahnya, termasuk dalam hal sentuhan.

Gerakan baik, termasuk sentuhan, bisa memiliki dampak negatif jika dipaksakan secara berlebihan atau tanpa persetujuan anak.

Ruang yang seharusnya memupuk pertumbuhan justru bisa berkontribusi pada penolakan sentuhan jika tidak dikelola dengan hati-hati.

***

EDITOR: Novia Tri Astuti