← Beranda
Orang yang Terus-Menerus Merasa Lelah dan Tidak Termotivasi dalam Hidup, Akhirnya Berubah Setelah Mengadopsi 7 Kebiasaan Pagi Ini Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahRabu, 29 Oktober 2025 | 16.44 WIB
Seseorang yang tidak termotivasi dalam hidup. (Freepik/freepik)

JawaPos.com - Ada masa dalam hidup ketika setiap pagi terasa sama: bangun dengan tubuh lemas, pikiran berat, dan semangat yang seolah tertinggal di mimpi semalam.

Rutinitas harian menjadi beban, bukan lagi perjalanan.

Bagi banyak orang, rasa lelah yang terus-menerus dan hilangnya motivasi bukan sekadar akibat fisik, melainkan tanda bahwa pikiran dan tubuh tidak lagi selaras.

Psikologi modern menyebut kondisi ini sebagai mental fatigue — kelelahan emosional dan kognitif yang timbul akibat tekanan terus-menerus, kurangnya tujuan yang jelas, serta gaya hidup yang tidak seimbang.

Namun, kabar baiknya: otak manusia sangat lentur.

Dengan mengubah kebiasaan kecil, terutama di pagi hari, seseorang bisa mengembalikan energi, fokus, dan bahkan makna hidupnya.

Dilansir dari Geediting pada Senin (27/10), terdapat 7 kebiasaan pagi yang terbukti secara psikologis mampu mengubah seseorang dari hidup yang lesu menjadi penuh semangat, produktif, dan berdaya.

1. Bangun 30 Menit Lebih Awal — Memberi Ruang Bagi Diri Sebelum Dunia Dimulai

Psikolog Dr. Emma Seppälä dari Yale University menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama stres modern adalah tidak adanya “ruang mental” untuk bernapas.

Saat seseorang bangun dan langsung terburu-buru, otaknya langsung masuk ke mode bertahan hidup — bukan mode kreatif atau reflektif.

Bangun 30 menit lebih awal memberi kesempatan bagi tubuh untuk beradaptasi.

Saat itulah seseorang bisa duduk tenang, merasakan udara pagi, dan menyadari bahwa hidup tidak harus dimulai dengan panik.

Bahkan segelas air hangat dan beberapa tarikan napas dalam bisa menjadi pembuka yang mengubah arah hari sepenuhnya.

2. Hindari Ponsel di 30 Menit Pertama — Biarkan Otakmu Tenang Sebelum Terpapar Dunia

Kebiasaan membuka ponsel begitu bangun adalah salah satu bentuk self-sabotage paling halus.

Penelitian dari University of Pennsylvania menunjukkan bahwa paparan media sosial di pagi hari dapat meningkatkan kecemasan hingga 21% dan mengurangi fokus hingga 30%.

Ketika kita langsung melihat notifikasi, otak belum siap menghadapi banjir informasi dan emosi.

Hasilnya: kita merasa “lelah” bahkan sebelum hari dimulai.

Solusinya sederhana: ganti kebiasaan ini dengan hal-hal yang menenangkan seperti menulis jurnal singkat, membaca buku ringan, atau sekadar duduk menikmati keheningan.

3. Berjemur dan Bergerak Selama 10 Menit — Mengaktifkan “Tombol Energi” Alami Tubuh

Paparan sinar matahari pagi terbukti membantu tubuh memproduksi serotonin, hormon kebahagiaan yang juga menjadi bahan dasar bagi melatonin — hormon tidur alami.

Menurut riset di Stanford Center for Sleep Sciences, berjemur di pagi hari dapat memperbaiki ritme sirkadian, meningkatkan kualitas tidur malam, dan menurunkan risiko depresi.

Cobalah berjalan ringan atau melakukan peregangan di luar ruangan selama 10 menit.

Aktivitas ini bukan hanya membangunkan tubuh, tapi juga memberi sinyal pada otak bahwa hari baru telah dimulai — dan kamu siap menghadapinya.

4. Menulis “3 Hal yang Disyukuri” — Melatih Otak Melihat Hal Positif

Rasa lelah mental sering kali muncul karena fokus kita terlalu banyak pada hal yang belum tercapai, bukan pada hal yang sudah dimiliki.

Latihan gratitude journaling selama 21 hari terbukti secara ilmiah dapat meningkatkan kepuasan hidup hingga 25%, menurut penelitian dari University of California, Davis.

Setiap pagi, tulis tiga hal sederhana yang kamu syukuri — sekecil apa pun itu.

Bisa secangkir kopi hangat, senyum orang yang kamu cintai, atau bahkan sekadar fakta bahwa kamu masih punya kesempatan untuk memperbaiki hari ini.

Kebiasaan ini perlahan mengubah cara otak bekerja: dari mencari masalah menjadi melihat keindahan.

5. Sarapan dengan Kesadaran Penuh — Menghargai Setiap Suapan Sebagai Ritual Kehidupan

Bukan sekadar soal nutrisi, tapi soal kesadaran.

Psikologi mindfulness mengajarkan bahwa kehadiran penuh saat makan dapat menurunkan tingkat stres, memperbaiki pencernaan, dan bahkan meningkatkan energi sepanjang hari.

Cobalah makan tanpa distraksi — tanpa ponsel, tanpa TV.

Rasakan aroma, tekstur, dan rasa makananmu.

Saat kamu menghargai momen kecil seperti ini, tubuhmu akan “merasakan” energi positif yang kamu ciptakan sendiri.

6. Menentukan “Satu Tujuan Bermakna” untuk Hari Itu — Memberi Arah pada Hidup

Menurut Viktor Frankl, psikiater dan penulis Man’s Search for Meaning, manusia bukan sekadar butuh kebahagiaan, tapi makna.

Dan makna muncul dari tindakan yang memiliki tujuan.

Setiap pagi, tanyakan pada diri sendiri: “Apa satu hal bermakna yang ingin aku selesaikan hari ini?”

Bisa sederhana seperti “menyapa rekan kerja dengan lebih hangat” atau “menyelesaikan proyek tanpa menunda”.

Ketika kamu punya arah, setiap langkah terasa lebih ringan, dan energi pun mengalir lebih alami.

7. Ucapkan Kalimat Afirmasi Positif — Memberi Instruksi Baru pada Pikiran Bawah Sadar

Afirmasi bukan sekadar kata-kata manis; ia adalah bentuk komunikasi langsung dengan alam bawah sadar.

Riset di Carnegie Mellon University menemukan bahwa afirmasi diri mampu mengaktifkan area otak yang berhubungan dengan rasa kendali dan optimisme.

Mulailah dengan kalimat sederhana seperti:

“Aku cukup, aku mampu.”

“Hari ini aku memilih untuk tenang dan produktif.”

“Aku tidak harus sempurna untuk tetap berharga.”

Kata-kata ini, bila diulang setiap pagi, akan menanamkan energi baru yang secara perlahan menggantikan kelelahan dan rasa tidak berdaya yang lama.

Kesimpulan: Energi Hidup Itu Bisa Dilatih, Bukan Ditemukan

Kelelahan hidup tidak selalu berarti kamu lemah.

Sering kali, itu hanyalah tanda bahwa kamu sudah terlalu lama hidup tanpa menyadari bagaimana cara memberi energi pada diri sendiri.

Tubuh dan pikiran kita membutuhkan perawatan — bukan hanya saat sakit, tapi setiap hari, terutama saat pagi hari ketika dunia baru saja membuka mata.

Mengadopsi 7 kebiasaan ini bukan tentang menjadi orang sempurna, melainkan tentang menjadi lebih selaras dengan dirimu sendiri.

Karena pada akhirnya, semangat hidup bukan datang dari motivasi instan, melainkan dari ritual kecil yang dilakukan dengan kesadaran penuh — setiap pagi, setiap hari. (*)

EDITOR: Siti Nur Qasanah