← Beranda

7 Perbedaan Pola Pikir Pria dan Wanita saat Hadapi Perubahan Besar, Mana yang Lebih Fleksibel?

Oliviea Novrimada ZahraJumat, 22 Agustus 2025 | 06.57 WIB
Ilustrasi sepasang kekasih sedang berdebat. (Freepik)

JawaPos.com – Dari reaksi emosional, pengambilan keputusan, hingga dukungan yang dipilih sering berbeda antara pria dan wanita.

Perubahan besar seperti pindah kota, ganti karier, atau memulai hidup baru terkadang memicu perdebatan panjang yang bahkan bisa berakhir dengan perpisahan.

Artikel ini merinci tujuh perbedaan khas dalam cara kedua gender menghadapi perubahan besar, sekaligus memberi perspektif soal siapa yang lebih fleksibel dan bagaimana keduanya bisa belajar dari satu sama lain.

Baca Juga: 4 Pola Pikir Destruktif yang Sering Terjadi saat Overthinking dan Cara Mengatasinya Menurut Psikolog

Pendekatan terhadap masalah: problem-focused vs emotion-focused

Dilansir dari situs Verywell Mind, saat menghadapi perubahan praktis seperti urusan pindahan atau urusan kerja, pria cenderung mengadopsi pendekatan problem-focused.

Para pria menata langkah, membuat daftar, dan memecah tugas menjadi bagian kecil. Berbeda halnya dengan wanita. Wanita lebih sering menggunakan pendekatan emotion-focused terlebih dahulu.

Para wanita mencari cara meredakan kecemasan, berdiskusi, dan mengelola perasaan agar bisa bertindak.

Keduanya bukan sedang berkompetisi. Pria cenderung problem-focused untuk menyelesaikan tugas, sedangkan wanita cenderung emotion-focused untuk menjaga stamina emosional. 

Baca Juga: 8 Pola Pikir Beracun Pensiunan yang Membuat Masa Tua Jadi Tak Bermakna

Cara mencari dukungan sosial

Dilansir dari situs Psychology Today, ketika perubahan menuntut penyesuaian emosional, wanita cenderung lebih cepat mencari dan memanfaatkan jejaring sosial seperti teman, keluarga, atau komunitas yang mereka miliki sebagai sumber dukungan.

Sementara, pria lebih mungkin mengandalkan solusi mandiri atau kelompok kecil seperti rekan kerja dan sahabat dekat.

Namun, terkadang pria menunda berbagi kecemasan karena norma budaya soal kemandirian.

Terlepas dari perbedaan pria dan wanita, adanya kebutuhan dukungan bukan sebagai tanda lemah, melainkan cara untuk semakin mempercepat adaptasi. 

Toleransi terhadap ketidakpastian (uncertainty tolerance)

Dilansir dari situs Psychology Today, fleksibilitas psikologis atau kemampuan menerima ketidakpastian sambil tetap bergerak ke tujuan adalah kunci adaptasi.

Baik pria maupun wanita bisa tinggi atau rendah dalam fleksibilitas ini.

Para pria didorong mengambil risiko tertentu, sementara perempuan didorong mempertimbangkan dampak sosial dan emosional.

Intinya, kemampuan adaptasi tergantung pada fleksibilitas psikologis individu, bukan sekadar jenis kelamin. 

Cara membuat keputusan: cepat vs holistik

Berdasarkan situs Psychology Today, pria sering mengambil keputusan lebih cepat pada pilihan yang terlihat rasional. Misalnya dalam menerima tawaran kerja dan memilih kota tujuan.

Sedangkan wanita cenderung melakukan evaluasi holistik. Misalnya dalam mempertimbangkan hubungan, dampak jangka panjang pada keluarga, dan kesejahteraan emosional.

Kecepatan tidak selalu berarti tepat. Adanya evaluasi holistik juga bisa mencegah penyesalan jangka panjang. 

Risiko emosional: pengungkapan vs penahanan

Dilansir dari situs Verywell Mind, Ketika pria dan wanita menghadapi kesedihan atau kecemasan akibat perubahan, wanita lebih mungkin mengungkapkan perasaan dan mencari bantuan kepada profesional atau komunitas.

Di sisi lain, pria cenderung menahan dan mengalihkannya ke aktivitas lain seperti kerja berlebih, olahraga, atau distraksi.

Strategi mengungkapkan perasaan sering berkaitan dengan penanganan stres yang lebih cepat tapi juga membuat luka emosional tampak lebih panjang karena prosesnya terlihat. 

Peran identitas dan karier dalam penyesuaian

Perubahan karier sering memicu pertanyaan identitas, “Siapa saya kalau bukan jabatan ini?”

Dilansir dari situs Psychology Today, gendered expectations berpengaruh identitas kedua gender.

Pria kadang menautkan harga diri pada peran sebagai penyedia, sementara wanita kerap memperhatikan keseimbangan antara peran kerja dan keluarga.

Perbedaan ini memengaruhi pilihan. Seorang pria mungkin mempertahankan pekerjaan yang kurang memuaskan demi status, sementara wanita mungkin memilih peran yang lebih cocok secara nilai atau fleksibilitas. 

Kecepatan pemulihan (bounce back)

Dilansir dari situs Verywell Mind, pertanyaan siapa yang lebih cepat ‘bangkit’ setelah perubahan tidak memiliki jawaban tunggal.

Terlepas dari pembahasan gender, beberapa orang memulihkan diri lebih cepat karena punya locus of control internal (percaya bisa mengendalikan hasil), jaringan dukungan kuat, dan kebiasaan coping yang sehat.

Faktor biologis dan sosial juga berperan seperti hormon, pengalaman hidup, dan akses ke layanan kesehatan mental bisa memengaruhi tempo pemulihan.

Fokus terhadap membangun faktor-faktor yang bisa memfasilitasi pemulihan lebih bermanfaat, ketimbang membandingkan gender semata.

Mana yang lebih fleksibel? Pria vs wanita

Dilansir dari situs Verywell Mind, jika yang dimaksud fleksibel adalah kemampuan menyesuaikan diri secara cepat dan sehat, tidak ada pemenang mutlak berdasarkan jenis kelamin.

Fleksibilitas lebih berkaitan dengan psikologis (menerima emosi dan bertindak sesuai nilai jangka panjang), locus of control (keyakinan bahwa tindakan sendiri berpengaruh), dukungan sosial dan akses sumber daya (finansial, informasi, layanan kesehatan mental). 

Dengan kata lain, seseorang yang memiliki ketiga elemen di atas akan tampak lebih fleksibel. Terlepas apakah dia pria atau wanita.

Tips praktis agar lebih fleksibel saat menghadapi perubahan besar

Berikut tips praktis agar lebih fleksibel saat menghadapi perubahan besar menurut Psychology Today :

  1. Buat rencana kecil dan fleksibel. Bagi perubahan menjadi langkah yang dapat dikelola dan jangan tunggu semuanya sempurna.

  2. Pelihara jaringan dukungan. Berbagi beban bisa mempercepat adaptasi. Carilah mentor atau teman yang punya pengalaman serupa.

  3. Latih fleksibilitas psikologis. Teknik mindfulness, penerimaan emosi, dan pemetaan nilai membantu mengambil keputusan yang selaras dengan jangka panjang. 

  4. Periksa locus of control Anda. Jika cenderung menyalahkan faktor luar, coba fokus pada langkah konkret yang ada dalam kendali Anda. 

  5. Cari bantuan profesional bila perlu. Perubahan besar bisa memicu stres berat terutama bila ada gejala yang mengganggu fungsi sehari-hari. Mencari konseling bukan berarti aib. 

Perubahan besar memang menuntut kesiapan strategi pemecahan masalah, pengelolaan emosi, serta dukungan sosial yang baik.

Perbedaan antara pria dan wanita dalam menghadapi perubahan sering muncul karena peran sosial dan kebiasaan coping yang terbentuk sejak lama, dan bukan berasal dari takdir biologis yang kaku.

Jadi, daripada mencari siapa yang lebih fleksibel, lebih berguna untuk meniru kebiasaan baik dari kedua pihak.

Wanita bisa belajar dari kejelasan tindakan pria. Sementara pria bisa belajar dari kecerdasan emosional wanita. Ini dilakukan agar setiap transisi menjadi lebih ringan dan lebih bermakna. 

EDITOR: Setyo Adi Nugroho