JawaPos.com - Beberapa kebiasaan bukanlah bagian dari kepribadian melainkan taktik bertahan hidup yang tertinggal karena pernah merasa tidak terlihat. Membangun identitas memang tidak mudah, apalagi jika kebutuhan dasar di masa kecil tidak pernah didengar.
Pengabaian mengajarkan sejumlah keterampilan bertahan hidup yang, seiring waktu, terlihat seperti kebiasaan. Masalahnya, keterampilan tersebut bisa mengambil alih kehidupan dewasa.
Dilansir dari VegOut, jika beberapa perilaku di bawah ini terdengar familiar, ingatlah: ini bukan sifat tetap. Ini hanyalah respons yang pernah dipelajari. Dan semua yang dipelajari bisa juga ditinggalkan.
1. Terlalu sering meminta maaf
Apakah kamu refleks mengatakan "maaf" bahkan ketika seseorang menabrakmu?
Permintaan maaf spontan bukan semata bentuk kesopanan. Bagi banyak orang, itu adalah respons lama untuk menjaga perdamaian.
Anak-anak yang tumbuh di lingkungan tempat kesalahan dibalas dengan kemarahan belajar untuk mengambil tanggung jawab lebih dulu demi meredakan situasi.
Hingga akhirnya, mereka terbiasa meminta maaf bahkan untuk hal-hal kecil seperti Wi-Fi lambat atau kartu ATM yang memproses terlalu lama.
2. Sulit meminta bantuan
Pengabaian sering kali membuat seseorang merasa bahwa memiliki kebutuhan berarti menjadi beban. Maka dari itu, kamu pun belajar untuk diam, menyelesaikan semuanya sendiri, dan menekan keinginan untuk ditolong.
Hasilnya? Di usia dewasa, kamu bisa menjadi teman yang selalu berkata, "Aku baik-baik saja, aku bisa sendiri," padahal diam-diam merasa kewalahan.
Mulailah dari yang kecil seperti bertanya, “Bisakah kamu bantu menahan pintu?” untuk membuktikan bahwa ketakutan akan penolakan sering kali tak terbukti.
3. Membeku saat menghadapi konflik
Ada yang melawan, ada yang lari dan ada juga yang membeku. Anak-anak yang terbiasa diabaikan kerap memilih diam dan tak bergerak ketika situasi tegang muncul.
Respons itu terbawa hingga dewasa. Saat ketegangan meningkat, tubuh seakan berhenti bekerja. Mengangguk tanpa suara di rapat, sementara pikiran kosong, bukanlah tanda kelemahan melainkan cara tubuh melindungi diri.
Menyadari dan menyebutkan perasaan (“Aku kewalahan sekarang, beri waktu sebentar untuk menata pikiran”) dapat membantu melepaskan cengkeraman pola lama ini.
4. Bekerja berlebihan demi validasi
Pengabaian seringkali berbisik, “Kamu hanya berharga saat kamu berprestasi.”
Akhirnya, kamu pun menumpuk tugas, membuktikan nilai diri lewat produktivitas. Mencari pujian menjadi motivasi, tapi rasa puas cepat menguap, sementara kelelahan terus menumpuk.
Mulailah memberi batas. Setel alarm untuk berhenti bekerja pada jam tertentu bahkan saat tak ada yang memperhatikan. Ini adalah bentuk kecil untuk mengingatkan diri bahwa kamu berharga, bahkan saat tidak sedang mencetak pencapaian.
5. Mengabaikan diri sendiri
Psikolog Dr. Jonice Webb pernah menulis, “Sebagai orang dewasa, kita memperlakukan diri kita sendiri sebagaimana kita pernah diperlakukan.”
Anak-anak yang tidak diperhatikan secara emosional cenderung tumbuh menjadi orang dewasa yang mengabaikan kebutuhan diri sendiri.
Melewatkan makan, menunda istirahat, bekerja meski sedang sakit. Semua ini sering dianggap tanda kekuatan, padahal sebenarnya gema dari masa lalu yang sunyi.
Jadwalkan waktu untuk check-in dengan diri sendiri, seperti menjadwalkan rapat penting. Minum air, bergerak, dan istirahat sebelum tubuhmu memintanya dengan cara yang lebih keras.
6. Keterpisahan emosional
Pernah merasa mati rasa saat mendapat kabar baik atau buruk?
Ketidakterikatan emosional bisa berkembang sebagai mekanisme bertahan. Jika dulu mengungkapkan perasaan tidak pernah disambut, maka memutus koneksi dengan emosi jadi jalan aman.
Perlahan, kamu bisa mulai membangun kembali hubungan dengan perasaan. Cobalah menuliskan satu kata emosi setiap hari—“gembira,” “cemas,” “lapang.” Praktik kecil ini dapat menyalakan kembali koneksi antara pengalaman dan perasaan.
7. Terlalu waspada membaca pikiran orang
Anak-anak yang merasa diabaikan sering tumbuh menjadi pengamat ekspresi yang tajam. Mereka terbiasa membaca nada suara dan bahasa tubuh, mencari isyarat bahaya.
Sayangnya, keterampilan ini bisa berkembang menjadi kebiasaan berpikir berlebihan seperti menebak makna tersembunyi di balik setiap pesan singkat atau perubahan nada.
Studi longitudinal tahun 2024 menunjukkan bahwa pengabaian masa kecil berkaitan dengan perkembangan memori kerja yang lebih lambat, yang membuat seseorang kesulitan mengevaluasi ulang interpretasi yang membuat cemas.
Saat kecemasan muncul, tanyakan pada diri sendiri, “Apa lagi kemungkinan makna dari ini?” Sering kali jawabannya jauh lebih ringan daripada yang dibayangkan.
8. Meremehkan pencapaian
Jika pujian jarang datang saat tumbuh besar, maka saat dewasa pun kamu mungkin merasa tidak nyaman menerimanya.
Komentar seperti, “Ah, itu cuma kerja kecil kok,” bisa terdengar merendah, tapi seringkali justru menihilkan usaha sendiri.
Menolak pujian berarti juga menolak momen kebanggaan—baik milikmu maupun orang yang memberikannya. Lain kali saat seseorang mengapresiasi, berhentilah sejenak. Ucapkan “terima kasih.” Biarkan kebaikan itu masuk.
Tak satu pun dari perilaku ini adalah cacat karakter. Mereka hanyalah sisa-sisa dari masa lalu yang mengajarkan cara bertahan. Dan bagian terbaiknya? Segalanya bisa dipelajari ulang—dengan kelembutan, kesadaran, dan waktu.