← Beranda

Terlalu Sering Tidur? Ini Penjelasan Psikologis di Balik Kebiasaan Tidur Berlebihan yang Perlu Diketahui

Alyssa NaziraMinggu, 15 Juni 2025 | 14.12 WIB
Ilustrasi tidur berlebihan menurut psikologis. (Freepik)

JawaPos.com - Tidur adalah salah satu kebutuhan biologis paling dasar yang memainkan peran penting dalam menjaga kesehatan fisik dan mental.

Idealnya, tidur membantu tubuh untuk memulihkan energi, memperbaiki sel, dan mengatur ulang sistem saraf setelah seharian beraktivitas. Namun, apa jadinya jika seseorang justru terlalu sering atau terlalu lama tidur?

Banyak orang mungkin menganggap tidur berlebihan hanyalah tanda kelelahan fisik atau sekadar kebiasaan buruk.

Namun, dari perspektif psikologis, kebiasaan tidur berlebihan bisa menjadi indikasi dari kondisi emosional atau mental tertentu, mulai dari stres ringan hingga gangguan psikologis serius seperti depresi atau gangguan kecemasan.

Beberapa orang tidur bukan karena lelah, tapi karena ingin lari dari kenyataan atau menghindari tekanan yang sulit mereka hadapi.

Oleh karena itu, penting untuk memahami bahwa pola tidur yang tidak wajar sering kali menyimpan pesan tersembunyi tentang kondisi batin seseorang.

Dalam artikel ini, kita akan membahas berbagai fakta psikologis di balik kebiasaan tidur berlebihan, agar dapat membantu mengenali dan memahami sinyal-sinyal tubuh yang mungkin sedang meminta perhatian lebih.

1. Depresi - Tidur sebagai Coping Mechanism

Melansir laman Klikdokter, depresi kerap disertai dengan perubahan pola tidur yang signifikan. Pada beberapa orang, kondisi ini menyebabkan mereka tidur jauh lebih lama dari biasanya.

Tidur berlebihan menjadi semacam mekanisme pertahanan diri, di mana individu secara tidak sadar menggunakan waktu tidur untuk menghindari perasaan sedih, putus asa, atau kekosongan emosional yang mereka alami.

Dalam banyak kasus, tidur juga dijadikan pelarian dari realitas yang terasa berat atau menyakitkan, karena saat tertidur, mereka bisa lepas sejenak dari tekanan batin yang terus menghantui.

2. Gangguan Tidur - Hipersomnia sebagai Gejala

Melansir laman Alodokter, hipersomnia merupakan suatu kondisi medis yang ditandai dengan rasa kantuk yang berlebihan di siang hari, serta dorongan kuat untuk tidur lebih lama dari waktu tidur normal pada malam hari.

Individu dengan hipersomnia sering kali merasa kurang segar meskipun sudah tidur cukup, dan dapat tertidur secara tidak sengaja di berbagai situasi, termasuk saat bekerja atau beraktivitas.

Kondisi ini juga dapat menjadi indikator dari gangguan tidur lain, seperti narkolepsi, yang secara serius dapat mengganggu fungsi harian dan kualitas hidup penderitanya.

3. Stres dan Kecemasan - Tidur sebagai Pelarian

Stres dan kecemasan merupakan dua faktor psikologis yang sangat umum memicu gangguan tidur.

Pada sebagian orang, kondisi ini justru mendorong mereka untuk tidur lebih lama dari biasanya sebagai bentuk pelarian dari pikiran yang membuat gelisah atau tidak nyaman.

Tidur dalam hal ini berfungsi sebagai mekanisme pertahanan diri, di mana tubuh dan pikiran berusaha menenangkan diri serta meredam tekanan emosional yang terus menerus dirasakan.

Dengan tidur, mereka dapat sementara waktu menghindari situasi atau masalah yang menjadi sumber kecemasan.

4. Kelelahan Fisik dan Mental - Tidur sebagai Pemulihan

Kelelahan fisik maupun mental yang berlangsung dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan seseorang merasa membutuhkan waktu tidur yang lebih panjang dari biasanya.

Dalam kondisi ini, tidur berfungsi sebagai sarana alami bagi tubuh untuk melakukan pemulihan menyeluruh, bukan hanya untuk mengisi ulang energi fisik, tetapi juga untuk menenangkan pikiran yang terus bekerja keras.

Tidur menjadi cara penting bagi tubuh dan otak untuk mengembalikan stamina, memperbaiki fungsi sistem tubuh, serta menjaga keseimbangan emosional agar individu mampu kembali menjalani aktivitas harian dengan optimal.

5. Kebiasaan Tidur yang Tidak Sehat - Pola Tidur yang Terganggu

Melansir laman Hello Sehat, kebiasaan tidur yang tidak teratur, seperti tidur terlalu larut malam atau terlalu lama tidur siang, dapat menyebabkan gangguan pada ritme sirkadian, yaitu jam biologis alami tubuh yang mengatur siklus tidur dan bangun seseorang.

Jika ritme ini terganggu, tubuh mungkin kesulitan menyesuaikan waktu istirahat secara alami, sehingga memicu rasa kantuk berlebihan di siang hari atau perasaan tidak segar meskipun sudah tidur lama.

Akibatnya, seseorang merasa perlu tidur lebih lama untuk merasa benar-benar pulih dan bertenaga.

Apabila merasa telah mengalami kondisi di mana durasi tidur semakin panjang dan hal ini mulai mengganggu rutinitas harian seperti bekerja, belajar, atau bersosialisasi, maka situasi tersebut sebaiknya tidak dianggap remeh.

Tidur berlebihan bisa menjadi indikator gangguan kesehatan fisik atau mental, seperti depresi, hipersomnia, atau stres kronis.

Dalam kondisi seperti ini, konsultasi dengan profesional kesehatan, baik dokter maupun psikolog, sangat disarankan agar bisa mendapatkan penanganan atau terapi yang tepat sesuai penyebabnya.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho