← Beranda

8 Tanda Kepura-puraan Pasangan dalam Hubungan yang Perlu Kamu Waspadai, Menurut Psikologi

Silvia SulistiaraJumat, 30 Mei 2025 | 19.12 WIB
Ilustrasi pasangan yang berpura-pura dalam hubungan (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Menjalani hubungan asmara memang tidak selalu mudah. Ada kalanya rasa ragu muncul, terutama saat mulai mempertanyakan apakah pasangan benar-benar tulus atau hanya berpura-pura.

Psikologi memberikan sejumlah petunjuk yang bisa membantu mengenali tanda-tanda kepura-puraan dalam hubungan. Dengan memahami sinyal-sinyal ini, kamu bisa lebih waspada terhadap dinamika hubungan yang dijalani.

Dilansir dari Geediting pada Jumat (30/5), berikut delapan tanda menurut psikologi yang patut diperhatikan saat merasa pasangan tidak sepenuhnya jujur secara emosional maupun sikap.

1. Perilaku yang Tidak Konsisten

Ketidakkonsistenan dalam sikap dan perilaku bisa menjadi petunjuk awal adanya kepura-puraan. Secara psikologis, manusia umumnya memiliki pola perilaku yang cenderung stabil. Jika pasangan menunjukkan perubahan sikap yang drastis tanpa alasan jelas, hal tersebut layak dicurigai.

Misalnya, suatu hari terlihat sangat perhatian, lalu tiba-tiba berubah menjadi dingin dan menjauh. Perubahan ini bisa membuat hubungan terasa melelahkan secara emosional.

2. Sering Menghindari Pertanyaan Pribadi

Menghindari pertanyaan pribadi bisa menjadi tanda pasangan belum sepenuhnya terbuka atau menyembunyikan sesuatu. Pertanyaan sederhana tentang masa lalu, impian, atau aktivitas sehari-hari kerap dijawab dengan singkat atau bahkan dialihkan. 

Respons seperti ini menunjukkan adanya batas yang disengaja untuk menjaga jarak emosional. Dalam dunia psikologi, sikap ini sering kali merupakan bentuk mekanisme pertahanan untuk menghindari kerentanan atau kejujuran.

3. Terlalu Menawan secara Berlebihan

Sikap menawan memang menarik dalam tahap awal hubungan. Namun, jika kesan itu terasa terlalu berlebihan dan terus-menerus, bisa menjadi alarm bahaya. Psikolog mengaitkan sikap terlalu memesona dengan karakteristik ‘Dark Triad’, yaitu narsisme, manipulatif, dan kecenderungan psikopat. 

Pesona digunakan sebagai topeng untuk menyembunyikan niat atau perasaan yang sebenarnya. Jika pasangan terus-menerus tampil sempurna dan terlalu memikat, ada kemungkinan bahwa hal tersebut dilakukan untuk mengalihkan perhatian dari sifat aslinya.

4. Tidak Pernah Mau Mengakui Kesalahan

Mengakui kesalahan merupakan bagian penting dalam membangun hubungan yang sehat. Namun, jika pasangan selalu merasa benar dan enggan meminta maaf, hal ini patut diwaspadai.

Sikap defensif dan menyalahkan orang lain atau situasi bisa menandakan keengganan untuk menunjukkan kerentanan. Padahal, menerima kekurangan adalah bagian dari kedewasaan emosional. Psikologi melihat ketidaksediaan untuk bertanggung jawab sebagai bentuk menjaga citra diri yang palsu.

5. Tidak Ada Kedekatan Emosional

Kedekatan emosional menciptakan rasa aman dalam hubungan. Saat koneksi ini tidak hadir, hubungan terasa hambar dan berjarak, meskipun secara fisik pasangan tetap ada.

Seseorang yang berpura-pura biasanya tidak ingin terlibat secara emosional. Mereka cenderung menjaga jarak dan enggan berbagi perasaan secara mendalam. Kehilangan koneksi emosional bisa menjadi pertanda kuat bahwa pasangan tidak benar-benar terlibat dalam hubungan yang dijalani.

6. Selalu Merasa Seperti Berjalan di Atas Telur

Jika dalam hubungan kamu merasa harus selalu berhati-hati dalam berbicara atau bertindak agar tidak memicu reaksi berlebihan, ini bukan pertanda baik. Dalam hubungan yang sehat, seharusnya ada ruang untuk menyampaikan pendapat tanpa rasa takut. 

Ketegangan yang terus-menerus menunjukkan adanya ketidaktulusan dari salah satu pihak. Psikologi mengaitkan kondisi ini dengan pasangan yang mudah tersinggung karena berusaha mempertahankan citra palsu yang rapuh.

7. Mudah Bersikap Defensif

Defensif adalah reaksi wajar saat merasa diserang. Namun, jika pasangan menunjukkan reaksi berlebihan bahkan dalam situasi netral, perlu dicermati lebih lanjut.

Respons defensif berlebihan bisa menjadi cara untuk menghindari pembicaraan mendalam yang dapat mengungkap sisi dirinya yang sebenarnya. Dalam psikologi, sikap seperti ini dapat menghambat komunikasi terbuka dan memperkeruh kualitas hubungan secara keseluruhan.

8. Intuisi Mengatakan Ada yang Tidak Beres

Terkadang, perasaan instingtif jauh lebih akurat dibandingkan logika. Jika hati kecil terus mengatakan ada sesuatu yang janggal, sebaiknya jangan diabaikan.

Psikologi menyebut bahwa alam bawah sadar mampu menangkap sinyal-sinyal kecil yang mungkin tidak disadari secara sadar. Perasaan tidak nyaman yang terus berulang bisa menjadi sinyal penting bahwa hubungan tersebut mungkin tidak dilandasi kejujuran dan ketulusan.

Dalam menjalani hubungan, kejujuran dan keterbukaan adalah fondasi utama. Tanpa keduanya, hubungan rentan diisi dengan ketidakpastian dan kepalsuan.

Psikologi membantu memahami bahwa tidak semua orang menunjukkan jati dirinya secara langsung. Sebagian memilih memakai ‘topeng’ demi alasan tertentu, mulai dari melindungi diri hingga memanipulasi.

Namun, penting juga untuk mengevaluasi diri dan pasangan secara adil. Hubungan yang sehat dibangun dari kedua belah pihak yang saling jujur, menghargai, dan hadir sepenuhnya—baik secara fisik maupun emosional.

EDITOR: Candra Mega Sari