← Beranda
Orang yang Mendaftar Member di Gym tapi Jarang Pergi, Biasanya Memiliki 8 Kepribadian Ini Tanpa Disadari Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahSenin, 26 Mei 2025 | 22.17 WIB
seseorang yang mendaftar gym tetapi jarang datang. (Freepik/freepik)

 

JawaPos.com - Berapa banyak dari kita yang pernah dengan semangat mendaftar sebagai member di gym, membayangkan transformasi tubuh yang ideal, lalu berhenti pergi setelah beberapa minggu?

Jika kamu pernah atau sedang mengalami hal ini, tenang saja, kamu tidak sendiri.

Fenomena ini cukup umum dan menurut psikologi, ada pola kebiasaan tertentu yang sering dimiliki oleh orang-orang yang mendaftar ke gym tapi jarang muncul.

Ini bukan soal kemalasan semata, tapi lebih kepada kebiasaan bawah sadar yang bisa memengaruhi konsistensi dan motivasi.

Dilansir dari Geediting pada Senin (26/5), terdapat 8 kebiasaan yang sering dimiliki oleh mereka yang mendaftar ke gym namun jarang benar-benar menggunakannya, menurut psikologi:

1. Lebih Sering Termotivasi oleh Emosi Sesaat daripada Tujuan Jangka Panjang

Banyak orang mendaftar gym saat sedang merasa tidak puas dengan diri sendiri—setelah melihat foto yang tidak disukai, komentar orang lain, atau menjelang tahun baru.

Keputusan ini dipicu oleh dorongan emosional, bukan rencana yang matang. Ketika emosi tersebut mereda, motivasi ikut hilang.

Psikologi menyebut ini sebagai "emotional motivation trap", di mana seseorang termotivasi karena perasaan sementara, bukan karena komitmen yang stabil terhadap tujuan jangka panjang.

2. Perfeksionisme yang Justru Menunda Aksi

Ironisnya, banyak orang yang jarang ke gym adalah mereka yang memiliki standar tinggi untuk diri sendiri.

Mereka ingin latihan yang sempurna, waktu yang ideal, dan kondisi tubuh yang prima dulu.

Akibatnya, ketika segala sesuatu tidak sesuai dengan "standar" itu, mereka memilih tidak datang sama sekali.

Dalam psikologi, ini dikenal sebagai "paralysis by perfection", yaitu kecenderungan menunda karena takut hasilnya tidak sempurna.

3. Mendahulukan Kenyamanan Jangka Pendek daripada Kemajuan Jangka Panjang

Kebiasaan memilih kenyamanan sekarang—seperti tidur lebih lama, menonton TV, atau nongkrong—daripada pergi ke gym adalah bentuk dari "instant gratification bias".

Otak kita memang cenderung lebih suka hadiah yang instan, meskipun kecil, daripada manfaat besar yang datang kemudian.

Ini menjelaskan mengapa rencana olahraga sering kalah oleh keinginan rebahan sebentar yang ternyata jadi seharian.

4. Sulit Membentuk Rutinitas karena Tidak Ada Sistem Pengingat

Orang yang jarang ke gym seringkali tidak memiliki sistem yang mendukung kebiasaan tersebut—tidak ada jadwal tetap, tidak ada teman olahraga, dan tidak ada pengingat.

Menurut psikologi kebiasaan, rutinitas membutuhkan "trigger" atau pemicu untuk berjalan.

Tanpa sistem pengingat, kegiatan seperti olahraga cenderung mudah terlupakan atau dikalahkan oleh aktivitas lain.

5. Cenderung Meremehkan Usaha Kecil yang Konsisten

Ada kecenderungan untuk berpikir bahwa "kalau tidak satu jam penuh, mending tidak usah sekalian".

Ini disebut sebagai “all-or-nothing thinking”—pemikiran ekstrem yang membuat kita lupa bahwa perubahan besar datang dari langkah-langkah kecil yang konsisten.

Padahal 15 menit latihan ringan lebih baik daripada tidak sama sekali.

6. Mengaitkan Olahraga dengan Hukuman, Bukan Perayaan Diri

Beberapa orang pergi ke gym karena merasa harus “menghukum” diri atas pola makan buruk atau bentuk tubuh yang tidak diinginkan.

Pandangan ini membuat olahraga terasa seperti beban atau kewajiban, bukan bentuk perawatan diri.

Psikologi menyebut ini sebagai "aversive motivation", yaitu motivasi yang didorong oleh rasa bersalah atau ketakutan, bukan cinta terhadap diri sendiri.

7. Suka Menunda karena Merasa Waktu Tidak Pernah Cukup

“Mulai minggu depan,” “habis proyek ini selesai,” atau “kalau sudah tidak sibuk lagi”—adalah kalimat-kalimat klasik dari mereka yang mendaftar gym tapi tak kunjung pergi.

Ini disebut sebagai "planning fallacy", bias kognitif di mana kita terlalu optimis tentang waktu yang tersedia di masa depan.

Padahal, waktu tidak pernah “pas” kalau kita tidak sengaja menciptakan ruang untuknya.

8. Cenderung Menyukai Identitas Baru Tapi Belum Siap Berproses

Mendaftar ke gym memberi sensasi awal seperti telah menjadi orang yang "sehat dan aktif".

Tapi banyak orang terjebak hanya pada fase identitas, bukan fase proses.

Mereka menyukai ide menjadi "orang fit", tapi belum terbiasa dengan proses membangun disiplin.

Dalam psikologi ini disebut sebagai "identity-based motivation", di mana orang mengejar identitas tertentu tetapi tidak mendukungnya dengan tindakan konsisten.

Penutup: Kesadaran Adalah Langkah Pertama

Jika kamu merasa beberapa (atau semua) dari kebiasaan di atas cocok dengan dirimu, jangan merasa gagal.

Justru ini adalah momen penting untuk menyadari pola yang bisa kamu ubah perlahan.

Gym hanyalah salah satu contoh.

Tapi kebiasaan yang kamu bentuk (atau tidak kamu bentuk) di sana bisa mencerminkan bagaimana kamu menangani komitmen, rutinitas, dan tantangan dalam aspek lain kehidupan.

Mulailah dari kecil. Tidak perlu menunggu motivasi datang—karena yang lebih penting adalah sistem, bukan semangat sesaat.

Konsistensi akan muncul saat kamu tidak lagi bergantung pada suasana hati, tapi pada kebiasaan yang terbangun secara sadar.

***

EDITOR: Novia Tri Astuti