JawaPos.com - Pernahkah kamu merasa kalah dalam hidup, padahal merasa sudah berusaha sekuat tenaga? Kamu dan dia sama-sama makan nasi, tapi kenapa hidupnya lebih mulus?
Mungkin kamu bertanya-tanya, apakah ini karena hoki? Atau cuma kamu saja yang merasa tidak cukup baik? Mari kita bicara tentang rasa iri. Iri sering kali muncul tiba-tiba, seperti ringtone yang berbunyi tanpa peringatan.
Awalnya hidup baik-baik saja, hingga kita mulai membandingkan diri dengan orang lain. Rasa bahagia pun perlahan terkikis. Rasa iri ini sering dibungkus dengan istilah lain yang lebih diterima secara sosial: insecure.
Pada artikel ini, kita akan membahas rasa iri dengan lebih mendalam yang disampaikan oleh dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ dalam Podcast Ruang Tunggu.
Iri dan Insecure: Dua Sisi dari Koin yang Sama
Seringkali orang yang datang ke konsultasi tidak berkata, "Saya iri." Tapi mereka bilang, "Saya merasa insecure melihat teman-teman saya yang hidupnya lebih stabil."
Kedua istilah ini memang memiliki nuansa yang berbeda. Iri terdengar lebih negatif, sedangkan insecure lebih mudah dimaklumi.
Iri cenderung muncul ketika kita merasa ada kesenjangan antara kita dan orang yang kita kenal. Lucunya, kita jarang merasa iri dengan orang seperti Elon Musk atau Bill Gates. Kenapa? Karena kita tidak punya keterikatan personal dengan mereka.
Tapi ketika teman masa kecil kita tiba-tiba sukses, rasa iri itu bisa muncul lebih kuat, karena kita merasa 'start-nya' dulu sama, tapi hasilnya berbeda.
Rumput Tetangga Lebih Hijau? Atau Lebih Rajin Disiram?
Banyak orang yang merasa hidupnya kurang hanya karena melihat 'rumput tetangga' lebih hijau. Tapi apakah benar lebih hijau? Atau hanya terlihat begitu karena tetangga rajin menyiram dan merawatnya?
Kita sering membandingkan hasil, tanpa memperhitungkan proses. Padahal, bisa jadi rumput yang hijau itu hasil kerja keras, pengorbanan, atau bahkan hanya cat semprot. Ya, mungkin rumputnya sintetis. Kita tidak pernah tahu.
Membandingkan sebenarnya tidak selalu salah. Dalam konteks sosial, kita perlu membandingkan 'pace' atau kecepatan kita dengan lingkungan.
Seperti di jalan tol, kita tidak bisa seenaknya ngebut atau terlalu lambat. Tapi yang berbahaya adalah ketika kita membandingkan kendaraan yang kita pakai, bukan kecepatannya.
Ketika Usaha Sama, Tapi Hasil Berbeda
Lalu bagaimana kalau kita dan teman kita sudah sama-sama berjuang, tapi hasilnya tetap timpang? Ini pertanyaan besar. Dan jawabannya mungkin pahit: faktor X atau privilege memang nyata. Ada elemen hoki di dunia ini, sekeras apa pun usaha kita.
Ada sebuah penelitian menarik dari tahun 2000-an oleh Richard Wiseman (bukan Goldman) yang menunjukkan bahwa hoki bisa jadi bukan semata keberuntungan, tapi soal mindset dan awareness.
Dalam penelitiannya, sekelompok orang diminta menghitung jumlah foto di sebuah koran. Yang merasa dirinya beruntung menyelesaikan tugas jauh lebih cepat karena mereka memperhatikan detail, termasuk satu halaman yang menuliskan jawaban: "Stop counting, there are 42 pictures in this newspaper."
Apa artinya? Orang yang merasa hoki lebih terbuka dengan peluang. Mereka lebih awas, lebih peka terhadap informasi di sekitar. Sementara yang merasa dirinya sial cenderung terlalu fokus dan tegang, hingga melewatkan petunjuk penting.
Belajar dari Iri: Dengarkan Ringtone Emosimu
Daripada menekan perasaan iri, cobalah mendengarkannya. Apa pesan yang ingin disampaikan? Mungkin perasaan itu muncul karena kamu merasa kurang, merasa tertinggal, atau belum mencapai potensi yang kamu tahu kamu miliki.
Alih-alih menjadikan iri sebagai sumber penderitaan, kamu bisa mengubahnya menjadi pemicu untuk bertumbuh. Lihat proses, bukan hanya hasil. Belajarlah dari orang yang kamu iri itu, bukan membenci mereka.
Dan yang paling penting: rawatlah rumputmu sendiri. Siram, jaga, dan cintai. Karena pada akhirnya, bukan tentang siapa yang punya taman terindah, tapi siapa yang paling peduli merawat taman miliknya sendiri.